Sudah Waktunya Mahasiswa KKN Berhenti Membuat Program Seremonial di Desa

Sekelompok Tani di Lampung Barat Menerima Pelatihan Teknis Pengembangan Budidaya Kopi. Foto: Teknokra/Arif Sanjaya.
634 dibaca

Teknokra.co: Tahun ini, Penyelenggaraan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di perguruan tinggi di Lampung menjadi lebih menarik dengan adanya kerjasama “KKN Berjaya” yang menyatukan KKN sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di provinsi Lampung. Hal ini dapat menciptakan kolaborasi mahasiswa lintas kampus yang berpeluang melahirkan program atau terobosan yang menarik di desa-desa penempatan mereka.

Dalam setahun, Universitas Lampung (Unila) rutin menggelar dua periode Program KKN dalam waktu yang berbeda. Periode pertama digelar pada awal tahun, sedangkan periode kedua menyusul pada pertengahan tahun. Umumnya, gelombang KKN periode pertama melibatkan jumlah mahasiswa yang lebih besar dibandingkan periode kedua. Tak cuma itu, Peta penempatannya pun berada di kabupaten-kabupaten yang terletak jauh dari ibukota Bandar Lampung.

Namun meskipun demikian, mahasiswa KKN tak jarang miskin gagasan dalam mengembangkan program kerja (Progja) yang bersentuhan langsung dengan warga di pedesaan. Dalam amatan saya selama terlibat dalam program KKN, mahasiswa kerap menggelar program seremonial yang hanya memikirkan kuantitas Progja tanpa adanya dampak pemberdayaan yang nyata pada warga yang menjadi sasaran Progja KKN.

Ada banyak contoh Progja dengan kualitas rendah yang rutin diulangi oleh mahasiswa, misalnya program sosialisasi seremonialistik yang kerap digelar mahasiswa karena kegiatan semacam ini gampang dilaksanakan. Sebab hanya dengan bermodalkan materi Powerpoint dan proyektor saja, mereka bisa mengumpulkan warga di desa dan “menggurui” warga dengan pengetahuan umum atau pengetahuan teoritis dan impraktikal yang sangat minim dampak konkritnya pada warga.

Saat datang ke desa, mahasiswa seharusnya tak mengidap penyakit “superioritas intelektual” di mana mereka meremehkan pengetahuan warga setempat. Seharusnya mahasiswa lah yang mau belajar untuk mendengarkan masalah-masalah struktural yang selama ini dihadapi oleh warga di lapangan. Menurut saya, cara berpikir rendah hati seperti Ini akan lebih baik bagi relasi mahasiswa dan warga itu sendiri.

Tapi jangan salah paham dulu, saya tidak mengatakan untuk berhenti membuat program-program sosialisasi kepada warga. Namun, harus ada pertimbangan yang jelas akan kebutuhan warga dan strategi komunikasi yang efektif sebelum memberikan sosialisasi tertentu kepada warga.

Program sosialisasi yang memiliki dampak lebih kuat, misalnya adalah sosialisasi yang mampu menciptakan kesadaran kolektif atau mendorong awareness warga terhadap masalah-masalah yang belum mereka sadari, misalnya kesadaran akan hak lingkungan, atau hak sosial dan ekonomi warga yang kerap dimanipulasi dan dikorupsi oleh aktor-aktor pemerintahan atau industrial setempat. Saya sangat menganjurkan program sosialisasi semacam ini sebagai bentuk dorongan untuk warga.

Selain sosialisasi, ada program rutin lain yang saya rasa agak minim manfaat, yakni progam senam bersama dengan embel-embel meningkatkan kesehatan warga desa. Mungkin ini sekilas tampak baik, tapi marilah kita berpikir lebih kritis. Seberapa siginifikan sebetulnya dampak senam bersama pada kualitas kesehatan warga? Saya rasa tak banyak dampaknya jika melihat masalah-masalah kesehatan di desa seperti stunting atau demam berdarah dan seabrek masalah fatalitas lainnya.

Lalu apakah senam bersama itu merupakan hal baru bagi warga? Saya rasa tidak. Bahkan tanpa diajarkan oleh mahasiswa, warga sebetulnya sudah paham cara-cara gerakan senam yang baik. Sebetulnya program senam bersama ini tak terlalu penting, apalagi jika mahasiswa dan warga malah ngopi dan makan gorengan setelah melakukan kegiatan senam bersama.

Jika memang serius untuk membantu memperbaiki kualitas kesehatan warga, mahasiswa seharusnya bisa lebih cerdas dari ini. Misalnya melakukan demonstrasi makanan sehat dan terjangkau untuk anak kepada ibu-ibu setempat, atau mengajak warga melakukan pencegahan nyamuk berdarah di lingkungan desa secara kolektif, ini lebih baik.

Jika mahasiswa KKN tersebut memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, ekspektasinya akan lebih tinggi lagi, mungkin dengan membuat program yang bisa membantu akses warga terhadap pengobatan dan layanan kesehatan.

Masih ada banyak program-program seremonial mahasiswa KKN yang bisa kita kritisi, tapi saya tak mau terlalu dalam membahas ini, lebih baik kita memahami prinsip-prinsip atau kualitas esensial yang seharusnya menjadi acuan utama mahasiswa KKN dalam menggelar program atau kegiatan di desa.

Sebetulnya, arahan dari kampus terhadap penyusunan program kerja magasiswa KKN sudah tepat, yakni pemberdayaan berbasis komunitas yang berkelanjutan, mahasiswa juga didorong untuk menciptakan/memperbarui produk tertentu di desa yang sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Inilah acuan yang jelas, sebaiknya mahasiswa KKN berhenti membuat Progja seremonial dan berfokus untuk mengembangkan karya, produk, atau pengelolaan manajemen tertentu di desa mereka, lalu kemudian melatih komunitas setempat untuk mengembangkan program tersebut secara berkesinambungan.

Sosialisasi teoritis juga seharusnya dikurangi, mahasiswa KKN sebaiknya melakukan edukasi dalam bentuk bimbingan teknis atau pelatihan yang dapat memberdayakan warga dan generasi muda di desa tempat mereka terlibat, Ini adalah cara yang lebih konkrit dalam mengembangkan sumber daya manusia di desa.

Saya mengapresiasi teman-teman mahasiswa yang telah berhasil mengembangkan produk baru dengan sumber daya lokal yang ada di desa, atau mereka yang berhasil mengembangkan inovasi atau pengembangan teknologi tepat guna di tempat-tempat yang tak terjangkau pembangunan.

Pada akhirnya, KKN adalah momentum yang tepat bagi mahasiswa untuk memahami masalah di akar rumput, dan menyediakan solusi konkrit dan berkelanjutan untuk terlibat dalam pemberdayaan desa. Ini harus menjadi niat awal dan dilaksanakan secara serius, Mahasiswa jangan setengah hati dalam memberikan kontribusi.

Tetap Berpikir Merdeka!

*Artikel editorial ini ditulis oleh Arif Sanjaya, Pemimpin Redaksi Dalam Jaringan Teknokra Periode 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − 6 =