Sunyi Pemira Unila Tahun 2022: Paslon Tunggal dan Apatisme Pemilih

Paslon Tunggal Melawan Kotak Kosong pada Pemira Unila 2022, Foto: Teknokra/Sepbrina Larasati.
389 dibaca

Teknokra.co: Dua Tahun usai vakum akibat sengketa pemilihan dan Peraturan Rektor Organisasi Kemahasiswaan (Pertor Ormawa), Pemilihan Raya (Pemira) Mahasiswa Unila telah digelar kembali untuk menghidupkan sejumlah lembaga kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unila yang telah lama mati suri.

Namun, terdapat catatan buram selama penyelenggaraan Pemira tahun 2022 pada tanggal 23 Desember lalu. Baik di tingkat Universitas maupun di sejumlah Fakultas, hanya terdapat pasangan calon tunggal yang maju dalam kontestasi pemilihan Ketua BEM. Hal ini merupakan langkah mundur bagi demokrasi mahasiswa Unila, yang kemudian menyebabkan nihilnya opsi pilihan calon bagi mahasiswa Unila yang akan memilih.

Di tingkat Universitas, calon ketua dan wakil ketua BEM hanya diisi Paslon tunggal yakni Chairul Soleh (Ilmu Kehutanan’19) dan Muhammad Ikhsan Habibi (Matematika’19). Pasangan calon kandidat tunggal ini hanya melawan kotak kosong dalam pencoblosannya.

Hal yang sama juga terjadi di tingkat Fakultas seperti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Kedokteran (FK). Di mana hanya terdapat calon tunggal yang melawan kotak kosong bahkan berakhir dengan aklamasi.

Tak cuma permasalahan Paslon tunggal, Pemira yang digelar pada akhir tahun mendekati masa libur juga sangat minim akan partisipasi mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa cenderung memilih untuk golput dan apatis terhadap penyelenggaraan pesta demokrasi mahasiswa.

Hal ini diakui oleh Geri Melda (Ilmu Hukum’21) yang menjadi ketua Panitia Pemira tingkat Universitas bentukan Rektorat yang diisi sejumlah delegasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM-U). ia juga ikut kecewa terhadap minimnya partisipasi mahasiswa dalam Pemira Unila.

“Kami sendiri bisa dikatakan sedikit kecewa dengan partisipasi mahasiswa yang awalnya kami mengira bahwasannya akan banyak antusiasme masyarakat Unila, namun ternyata tidak se-antusias itu, padahal kita sudah vakum selama dua tahun untuk Pemira ini,” ungkapnya.

Ia mengaku pihaknya telah sejak lama menyosialisasikan penyelenggaraan Pemira, sehingga dapat menarik sejumlah calon potensial dan mendorong partisipasi pemilih.

“Kita sudah berkoordinasi kepada UKM-UKM, kita juga berkoordinasi dengan official Unila, dan saya rasa sejauh itu sudah cukup masif upaya kami sudah menyosialisasikan Pemira ini,” katanya.

Hingga saat ini, pengumuman hasil dan sejumlah tahapan-tahapan Pemira lainnya ditunda akibat jadwal yang berbenturan dengan Pemilihan Rektor. Hal tersebut diumumkan oleh Panitia Pemira melalui rilis resmi pada sosial media.

Permasalahan ini mendapat respon dari mahasiswa, salah satunya Muthia Azil (PGSD’22) yang ikut mencoblos dalam Pelaksanaan Pemira, ia mengaku kecewa dengan opsi Paslon tunggal.

“Jika bakal calon hanya satu atau tunggal, harusnya pihak pansus memperpanjang jadwal pendaftaran pasangan calon, seenggaknya 2×7 hari apalagi tahun ini juga gak ada debat kandidat,” Ucapnya.

Menurut Azil sapaan akrabnya, hal lain yang bisa dilakukan panita adalah dengan memberikan sanksi bagi BEM setiap Fakultas yang tidak mengirimkan bakal calon pasangan kandidat BEM-U.

“Tapi, kalau selama 2×7 hari belum ada yang daftar lagi, nah baru boleh tuh lakuin Pemira sesuai ketentuan yang berlaku, bisa juga dengan cara BEM fakultas yang nggak mengirimkan bakal calon dikenakan sanksi,” pungkasnya.

Penulis : Sepbrina Larasati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − 7 =