Teknokra.co : Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Republica Universitas Lampung (Unila) melangsungkan Seminar Nasional yang bertajuk “Dari Informasi ke Partisipasi: Peran Media dan Pemerintah di Era Digital” di Lt. 3 Gedung D Fakultas Ilmu dan Ilmu Politik (FISIP) Unila pada Jumat (16/10). Kegiatan ini menghadirkan Dery Hendryan selaku Anggota Komisi Informasi Pusat RI dan Ganjar Jationo selaku ketua Dinas Kominfotik Provinsi Lampung yang diwakili oleh Muhammad Aprizal.
Materi awal disampaikan oleh Dery, bahwasanya banjirnya informasi pada publik itu sangat nyata dan tugas mahasiswa harus menyeleksi, tidak boleh hanya menjadi penonton.
“Banjir informasi di era digital itu nyata, mahasiswa tidak boleh cuma jadi penonton,” ucapnya.
Menurut Dery ada tiga tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini yaitu disrupsi informasi, digitalisasi, dan Artificial Intellegence (AI). Menurut data yang dipaparkan Dery, mayoritas bersumber dari media sosial.
“Penyebaran berita itu mayoritas dari media sosial. Media sosial 75%+, televisi 59%, berita online 25%, situs pemerintah 13,5%, media cetak 7%,” jelasnya.
Dery menjelaskan bahwa mahasiswa dan insan pers kampus harus memiliki nilai, norma, dan adab. Kritik harus berdasar, disampaikan dengan santun, dan lahir dari observasi langsung bukan dari gosip.
Materi tambahan disampaikan oleh Muhammad Aprizal, Ia memperkenalkan strategi “Kopi Mantap”, yaitu “Sinergi Inovasi Kolaborasi Publikasi Media Melalui Agenda Narasi Tunggal”.
Aprizal menjelaskan bahwa kepercayaan publik sedang mengalami penurunan. Mengacu pada riset Reuters Digital News Report 2026.
“Kepercayaan terhadap berita di Indonesia hanya 32% (rata-rata global 37%), dan 64% pengguna medsos mencari berita lewat media sosial,” jelasnya.
Menurutnya, komunikasi satu arah sudah tidak efektif dan yang dibutuhkan adalah dialog dua arah dan respons cepat, maksimal tiga jam sejak informasi muncul. Karena di era algoritma, informasi bergerak cepat karena emosi, tapi kebenaran bertahan karena akurasi.
