Dua komando Berbeda Dalam Satu Aksi Demonstrasi : Aksi Massa Didampingi Aksi Simbolik

Foto : Teknokra/ Chelsea Ester Basauli Lubis
83 dibaca

Teknokra.co : Terpisahnya Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) dari Aliansi Lampung Tarik Mandat saat melangsungkan aksi demonstrasi di dalam halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung, pada Senin (15/6) menimbulkan persoalan lantaran adanya perbedaan persiapan.

Aksi tetap dilakukan dengan titik lokasi yang tidak cukup jauh, yaitu Aliansi Lampung Tarik Mandat melakukan aksi massa di dalam halaman Kantor, sedangkan DEMA UIN RIL melakukan aksi simbolik berupa tutup mulut menggunakan lakban hitam di tengah pertigaan jalan depan kantor.

Muhammad Iman Ibrahim, selaku Jendral Lapangan DEMA UIN RIL mengungkapkan bahwa mekanisme manajemen aksi yang sedang berlangsung dinilai akan kurang matang sehingga mereka memutuskan untuk melakukan konsolidasi internal demi memaksimalkan hasil kajian, isu, dan tuntutan yang akan dijalankan.

“Kalau dari kami sendiri, karena dirasa memang secara mekanisme manajemen aksi itu kurang matang jadi kami rasa kami perlu konsolidasi sendiri untuk kemudian memaksimalkan hasil kajian, isu, dan tuntutan dan juga rangkaian aksi yang akan kami jalankan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan perihal pemisahan gerakan aksi dilakukan akibat adanya manajemen aksi dan konsolidasi yang berbeda sehingga menciptakan satu skema sendiri yang berbeda dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) Lampung, termasuk persiapan mobil komando (mokom) mandiri.

“Kalau dari manajemen aksinya sudah berbeda, konsolidasinya juga berbeda, pasti logistik, perlengkapan dan lain-lain juga pasti kita harus siapkan. Karena tidak mungkin kita konsolidasi sendiri, kemudian ketika kita di titik aksi kita ngikut gitu aja. Sedangkan dari segi konsep dan rangkaian aksinya berbeda. Itu yang mengakibatkan kenapa kemudian kita punya satu skema sendiri, sehingga sampai perlengkapan, mokom dan lain-lain itu kita siapkan sendiri,” tambahnya.

Syahrul Ramadani, selaku Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN RIL juga ikut memberi komentar. Ia menjelaskan tujuan aksi tutup mulut sebagai bentuk sarkas terhadap pemerintah yang tidak mendengarkan suara rakyat.

“Terkait kenapa kita tadi tarik badan kemudian tutup mulut untuk melambangkan atau menggambarkan pemerintah yang tidak mendengarkan keluhan dari masyarakat dan tidak memberikan sebuah solusi yang kemudian diaspirasikan,” pungkasnya.

Exit mobile version