Teknokra.co: Membaca tidak cukup hanya menjadi aktivitas untuk menambah pengetahuan. Bagi mahasiswa, kemampuan mengakses dan memahami berbagai sumber literatur juga menjadi bekal untuk menyusun karya ilmiah, memahami persoalan, hingga mengembangkan gagasan. Namun, ketertarikan mahasiswa terhadap literatur akademik seperti jurnal, artikel, dan karya ilmiah masih perlu diperkuat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Komunitas Baca UPA Perpustakaan Universitas Lampung (Unila) dalam mendorong gerakan literasi di lingkungan kampus. Upaya itu diwujudkan melalui 1st Gathering Komunitas Baca UPA Perpustakaan Unila yang mengusung tema “Generasi Literasi yang Menginspirasi dan Berdampak” di Muara Cafe & Space, pada Sabtu (22/8).
Pembina Komunitas Baca UPA Perpustakaan Unila yaitu Angelino, mengatakan komunitas tersebut dibentuk sebagai bagian dari upaya perpustakaan untuk melahirkan agen-agen literasi di lingkungan kampus. Para anggota diharapkan tidak hanya memiliki kebiasaan membaca, tetapi juga mampu membangun kesadaran mahasiswa lain mengenai pentingnya literasi dan keberadaan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan di perguruan tinggi.
“Tujuan utamanya tentu tujuan perpustakaan ya. Perpustakaan memilih duta baca dan juga membina komunitas ini agar terlahirnya para agen literasi di lingkungan kampus,” ujarnya
Menurut Angelino, kondisi minat baca mahasiswa Unila secara umum sudah cukup baik. Namun, persoalannya bukan hanya mengenai seberapa sering mahasiswa membaca, melainkan juga jenis dan kedalaman sumber yang digunakan.
Ia menilai mahasiswa masih perlu didorong untuk lebih banyak mengeksplorasi jurnal, artikel, dan karya ilmiah. Kebiasaan tersebut penting karena dapat memperkaya wawasan mahasiswa dalam menyusun tulisan, mengangkat permasalahan, hingga menyajikan data.
“Minat bacanya itu sudah cukup bagus, namun masih perlu ditingkatkan, apalagi misalnya konteksnya lebih ke akademik,” tuturnya.
Tantangan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan generasi digital. Menurut Angelino, perpustakaan dan komunitas literasi perlu beradaptasi dengan karakter mahasiswa saat ini. Bukan hanya menyediakan sumber bacaan, tetapi juga membangun rasa penasaran mahasiswa mengenai alasan membaca dan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas tersebut.
Karena itu, Komunitas Baca tidak ingin berhenti pada kegiatan membaca atau berkumpul. Pengembangan program diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa sekaligus memiliki dampak yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Angelino menjelaskan, program-program yang sudah ada akan dikembangkan, sementara program baru juga akan dirancang agar lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Dampak yang dituju tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga dapat menyentuh aspek ekonomi dan pengembangan karier.
“Pengennya itu dampaknya dirasakan berkepanjangan,” kata Angelino.
Selain membahas arah gerakan literasi, gathering juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antar anggota. Setelah sekitar dua bulan tidak berkumpul secara utuh, pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk membangun kembali kedekatan anggota yang sebelumnya belum sepenuhnya saling mengenal.
Angelino mengatakan, penguatan hubungan menjadi penting karena komunitas tidak hanya membutuhkan program yang baik, tetapi juga anggota yang mampu bekerja sama dan memiliki rasa percaya satu sama lain.
“Tujuannya itu adalah pertama kita membangun kembali bonding kita,” ujarnya.
Ia menyebut pertemuan tersebut sebagai salah satu milestone bagi Komunitas Baca. Meskipun keberadaannya masih berkembang dan belum sebesar organisasi kemahasiswaan lainnya, komunitas tersebut dinilai tetap dapat melakukan sesuatu yang memberikan dampak bagi lingkungan kampus.
Bagi Angelino, dampak tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat sebelum berkembang lebih luas. Karena itu, anggota didorong untuk tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi memahami alasan keberadaan mereka di dalam komunitas.
Harapan terhadap keberlanjutan program juga datang dari Duta Baca Unila, Alya Nurani (Pendidikan Ekonomi ’24). Ia berharap program-program yang telah diajukan anggota tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat menjadi komitmen jangka panjang dan benar-benar sesuai dengan prinsip serta arah pengembangan Komunitas Baca.
Menurut Alya, anggota yang mengajukan program juga perlu berkolaborasi dengan anggota lainnya agar program dapat berjalan secara optimal. Ia berharap setiap gagasan yang telah disusun mendapatkan fasilitasi dan dukungan sehingga mampu berkembang menjadi program yang berkelanjutan.
“Untuk teman-teman yang sudah mengajukan program itu dapat menjadi komitmen yang lebih panjang ke depannya,” ujar Alya.
Ia juga berharap anggota Komunitas Baca semakin aktif dalam menjalankan program dan mampu menghasilkan produk maupun kegiatan unggulan seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak dapat menjadi modal bagi komunitas untuk terus berkembang dan semakin dipercaya dalam berbagai kegiatan literasi.
Sementara itu, Duta Baca Unila lainnya, Palwa Abiyyu Jaya (Ilmu Komputer ’24), berharap keberadaan Komunitas Baca dapat memperluas dampak gerakan literasi, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga masyarakat.
“Harapannya ke depannya semoga lebih banyak mahasiswa atau masyarakat yang terkena impak dari literasi dan semoga ini jadi langkah awal untuk ke depannya demi penggalakan literasi di Indonesia, khususnya di sekitar masyarakat dekat Unila,” ungkap Palwa.
Palwa juga menyoroti perubahan yang diharapkan terjadi pada mahasiswa yang bergabung dalam Komunitas Baca. Ia ingin mahasiswa semakin aktif, memiliki kecintaan terhadap buku, serta menjadikan perpustakaan bukan hanya sebagai tempat mencari sumber literasi, tetapi juga sebagai ruang untuk melakukan berbagai kegiatan.
“Semoga ke depannya perpustakaan dijadikan tempat untuk sumber literasi dan sumber kegiatan juga,” pungkasnya.
