Lakukan Konsolidasi Akbar, Mahasiswa Lampung Hasilkan Sembilan Poin Tuntutan Sementara

Foto : Pelaksanaan Konsolidasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Lampung. Teknokra/ Alfian Wardana.
33 dibaca

Teknokra.co : Seluruh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Lampung mengadakan konsolidasi akbar sebagai langkah awal menyatukan gerakan dalam memperjuangkan isu pendidikan dan kesehatan. Kegiatan ini berlangsung di Balai Rektorat Universitas Lampung (Unila) pada Minggu, (15/2).

Aditya Putra Bayu (Teknik Sipil ’22) selaku ketua BEM Unila menjelaskan bahwa konsolidasi ini berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap kondisi pendidikan di Indonesia. Ia juga mengungkapkan adanya kasus siswa yang bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat tak bisa membeli alat buku tulis menjadi pemantik diskusi.

“Melihat kondisi republik saat ini banyak hal-hal, isu-isu atau konflik-konflik yang terjadi pada siswa-siswa, khususnya di NTT bang, itu menjadi pemantik. Kami mahasiswa Lampung tidak ingin ada siswa-siswa yang di Lampung seperti kawan-kawan di NTT,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia menyebut konsolidasi tersebut sepakat mengangkat grand issue “Gelap Gulita Pendidikan di Indonesia” lantaran kondisi pendidikan di Indonesia dianggap memilukan.

“Kami aliansi mahasiswa menuntut pemerintah untuk mencerahkan guru, kemudian memprioritaskan pendidikan dan kesehatan, kalau untuk grand issue, kami mengambil tagline, yaitu Gelap Gulita Pendidikan Indonesia,” tambahnya.

Tak hanya itu, Aditya menjelaskan persoalan lokal di Kota Bandar Lampung, khususnya terkait Sekolah Siger. Dalam konsolidasi tersebut, mahasiswa menuntut agar sekolah itu memiliki legalitas yang jelas, serta pembenahan menyeluruh terhadap berbagai konflik dan fasilitas yang dinilai belum layak bagi siswa.

“Kawan-kawan tadi konsolidasi, itu menuntut untuk kawan-kawan di Sekolah Siger jadi sekolah yang punya legalitas. Jadi sekolah siger sekarang masih banyak konflik, masih banyak hal-hal yang perlu diperbarui, tidak layak untuk siswa-siswa sekolah di sana,” jelasnya.

Dari konsolidasi tersebut, tercatat sembila  poin tuntutan yang akan dirumuskan bersama. Aditya menyebut poin-poin itu akan kembali dibahas dalam konsolidasi lanjutan yang dijadwalkan pada Selasa, (17/2) pukul 15.30 WIB.

“Konsolidasi lanjutan itu di hari Selasa, di tanggal 17 Februari di Balai Rektorat Unila pada pukul 15.30 WIB,” ujarnya.

Lebih lanjut, menyoroti waktu yang sebentar lagi akan menjelang bulan puasa, Ia menegaskan, apabila gelombang dukungan semakin besar, mahasiswa siap menggelar aksi turun ke lapangan untuk menyampaikan tuntutan secara langsung.

“Diharapkannya ketika ombaknya sudah besar, gelombang pergerakannya sudah besar, kita mengadakan aksi, turun ke lapangan, turun ke jalan, untuk menyerahkan tuntutan kita,” tegasnya.

Sementara itu, Ryanda Agma Putra, mahasiswa asal Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Tanjung Karang turut menyampaikan dukungannya terhadap konsolidasi tersebut. Ia menilai konsolidasi tersebut menjadi bukti bahwa hati mahasiswa masih tergerak untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Berangkat dari kerasahan kawan-kawan mahasiswa, berangkat dari kerasahan masyarakat, berangkat dari kerasahan pribadi saya juga untuk menggaungkan isu pendidikan ini,” ujarnya.

Sebagai mahasiswa kesehatan, Ryanda juga menyoroti persoalan layanan medis di Provinsi Lampung. Ia mengungkapkan adanya sekitar 8.000 kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang dinonaktifkan, serta mendorong pemerintah agar mendukung pendidikan dokter spesialis guna meningkatkan pelayanan kesehatan.

“Saran dari kawan-kawan juga itu ada 8.000 BPJS yang Aliansi mahasiswa berharap pemerintah dapat segera merespons tuntutan yang telah disusun. Konsolidasi ini dinilai sebagai langkah awal untuk memastikan bahwa suara mahasiswa tetap hadir sebagai kontrol sosial demi perbaikan pendidikan dan kesehatan di Indonesia,” ungkapnya.

Berikut 9 poin tuntutan yang dihasilkan sementara.

1. Jadikan pendidikan dan kesehatan sebagai prioritas utama

2. Wujudkan sekolah gratis

3. Menambahkan dana pendidikan

4. Pindahkan siswa-siswi sekolah Siger ke sekolah SMA yang punya legislasi

5. Hentikan regulasi yang tidak dibutuhkan

6. Tingkatkan kesejahteraan guru honorer

7. Tingkatkan kesejahteraan kesehatan

8. Mendorong regulasi pajak progresif

9. Menyekolahkan dokter spesialis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 10 =