Teknokra.co : Pelaksanaan acara Begawi Festival 2026 menuai respons negatif dari para peserta dan delegasi undangan. Pasalnya program yang dirancang oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila) ini dinilai gagal mengelola proses acara dan mendampingi peserta yang hadir di Pantai Raden Intan, Lampung Selatan pada Jumat-Minggu, (10-12/7).
Akibat kekecewaan tersebut, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gerakan Digital Ekosistem Nusantara (Gradien) yang memilih walkout dan menarik diri dari kerja sama dalam acara tersebut.
Ketua Umum UKM Gradien, Bintang Prasetya Kusuma Wicaksono (Teknik Informatika ’24), menjelaskan bahwa keputusan walkout diambil karena pihak panitia dinilai tidak menghargai kehadiran UKM Gradien sebagai tamu undangan. Panitia dianggap menelantarkan anggotanya di lapangan tanpa adanya kejelasan informasi dan rundown acara.
“Jadi saya mutusin keluar daripada anggota saya terlantar kayak gini. Kalau mereka nggak kasih respect, kita ya udah kita nggak nge respect kalian kita keluar aja dari sini. Ya udahlah kami nggak mau ada urusan apa-apa dari Begawi Festival ini kami mau keluar sekarang” jelasnya saat diwawancara pada minggu (12/7).
Bintang menambahkan bahwa pihak panitia sangat sulit untuk dihubungi sejak sebelum acara dimulai hingga hari pelaksanaan. Bahkan pesan singkat yang ia kirimkan pun kerap diabaikan panitia.
“Pas saya tanya itu nggak ada jawaban sampai hari H. Dia cuma nge-read pesanku nggak ada pesan yang terbalas sama sekali,” tambahnya.
Kekecewaan serupa juga dirasakan oleh Aldiva Muksin (Ilmu Administrasi Negara ’23) selaku delegasi peserta dari Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unila. Ia mengungkapkan bahwa dirinya bersama delegasi lainnya turut ditelantarkan tanpa arahan yang jelas dari panitia.
“Alurnya tuh bener-bener nggak jelas ya, kayak bener-bener ditelantarin, nggak diarahin apa-apa, cuman duduk ngelihat doang,” ungkapnya.
Ia juga mengeluhkan buruknya manajemen waktu dan komunikasi panitia yang memberikan informasi secara mendadak terkait jadwal keberangkatan ke lokasi acara.
“Ngasih tahunya tuh bener-bener jam 6, sedangkan disuruh kumpulnya tuh jam 6 gitu. Kita kan kalau pagi-pagi ya sibuk ya, entah mandi, entah siap-siap disuruh jam 6. Mana bahasanya mau ditinggal. Ngasih tahunya juga jam panitia ya, jadi ya udah kayak gitu. Udah jalan duluan sampai GSG, eh tiba-tiba pindah shuttle,” ucapnya.
Tak hanya masalah teknis, Aldiva juga menyoroti sikap tidak profesional dari oknum panitia saat bertugas mengatur jalannya acara.
“Pas mengordinir acara, panitia itu ngordinir pesertanya seenaknya sambil merokok. Bener-bener merokok, malah dia berdiri di atas dudukan, sedangkan delegasi di bawah. Posisinya kan nggak pas lah, malah sambil ngerokok,” tutupnya.
