Respon Kritik Begawi Festival 2026, Ketua BEM Unila Janjikan Evaluasi Total

Suasana pelaksanaan Begawi Festival 2026 yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila). Foto : Istimewa
104 dibaca

Teknokra.co : Pelaksanaan Begawi Festival 2026 yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila) menuai gelombang kritik tajam dari para peserta hingga tamu undangan. Menanggapi riuhnya sorotan tersebut, BEM Unila akhirnya angkat bicara dan menyatakan siap melakukan evaluasi saat diwawancara pada Senin (13/7).

Nurmala iksan putri (Ilmu Pemerintahan ’23), salah satu delegasi mahasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), menyoroti kinerja panitia yang tidak mampu memprediksi kapasitas tempat duduk hingga memicu kekacauan sepanjang jalannya festival.

“Ekspetasi aku sama acaranya bakal seru banget, karena ya aku bandingin sama acara begawi adat yang memang sebagus itu, acaranya bagus kok, cuma pelaksanaannya yang amburadul, mereka undang anak KIP, seperti nya enggak tau jumlah anak KIP angkatan 23,24 dan 25,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya tertinggal bus fasilitas yang telah disediakan oleh panitia sehingga harus mengeluarkan biaya transportasi mandiri untuk menuju ke lokasi.

“Karna aku ketinggalan bus, jadi ke sana naik gocar biaya mandiri, banyak banget yang pada ketinggalan karena banyak miskom, aku memutuskan untuk tetap datang karna bener-bener udah rapih siap jalan,” tambahnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua BEM Unila, Aditya bayu (Teknik Sipil ’22) mengungkapkan bahwa pihaknya bersikap terbuka dan menampung seluruh aspirasi yang beredar. Bagi BEM, kritik dari mahasiswa maupun masyarakat umum merupakan hal krusial untuk membenahi manajemen kepanitiaan.

“Semua saran dan kritik yang terjadi pada saat di lapangan semuanya itu menjadi bahan evaluasi untuk ke depan. Pasti kita alami bersama banyak memang error dari kawan-kawan panitia akan saya baca, saya pahami di mana titik-titik kesalahan,” tuturnya.

Aditya menambahkan bahwa kompleksitas acara menjadi salah satu pemicu munculnya hambatan teknis karena koordinasi yang harus dibangun oleh pihak panitia melibatkan banyak pihak eksternal.

“Kendala kami sangat banyak karena landasan acara ini adalah melibatkan dan mengorkestrasikan seluruh tokoh serta tetua adat dari berbagai wilayah, seperti dari Sungkai Bunga Mayang, Pungguk Lama, Kota Alam, hingga tujuh Marga Lampung Selatan. Menyatukan gagasan mereka untuk mencapai mufakat dalam waktu singkat itu proses yang tidak mudah,” jelasnya.

Aditya menegaskan pihaknya akan segera mengusut dan memanggil jajaran panitia pelaksana untuk meminta pertanggungjawaban serta melakukan klarifikasi atas segala carut-marut yang diperbincangkan.

“Dalam waktu dekat, hari ini atau besok, kami akan mengadakan evaluasi bersama dengan kawan-kawan panitia Begawi Festival. Kami harus mengonretkan dan mencari tahu dulu titik permasalahannya di mana,” tegasnya.

lebih lanjut menjawab persoalan adanya sponsor dari brand rokok, Aditya berdalih bahwa pemilihan sponsor tersebut didasari oleh latar belakang kepemilikan lokal yang dianggap linier dengan esensi kedaerahan festival.

“Terkait sponsor rokok, posisinya berada di luar lingkup Universitas Lampung (Unila). Kemudian dalam segi support juga rokok itu kan merupakan rokok yang diklaim berasal dari tokoh Lampung. Nah itu yang menjadi pertimbangan kawan-kawan tadi,” pungkasnya.

Exit mobile version