Wujudkan Komitmen ESG dan Keberlanjutan, PT Nestle Indonesia Pabrik Panjang Adakan Penanaman Mangrove

Foto : Rilis
38 dibaca

Teknokra.co : Melalui aksi kolaboratif bertajuk “Gotong Royong Hijau”, PT Nestle Indonesia Pabrik Panjang bersama Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Lampung menanam 4.000 bibit mangrove di Kawasan Konservasi Merak Belantung dan Desa Way Lubuk, Lampung Selatan, pada Jumat, (28/8).

Langkah ini bukan sekadar seremoni pelestarian lingkungan, melainkan bagian dari penguatan strategi ketahanan pesisir dan mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon biru (blue carbon).

Aksi ini melibatkan sinergi pentahelix yang mempertemukan sektor industri, pemerintah, komunitas, hingga akademisi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Bagi sektor industri, inisiatif ini merupakan wujud nyata penerapan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG).

Jefri Manurun, Factory Manager PT Nestle Indonesia Pabrik Panjang, melalui Head of Human Resource yakni Bernad Simanjuntak, menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan adalah fondasi utama operasional perusahaan. Ia menyebut program ini sebagai investasi hijau jangka panjang.

“Ekosistem mangrove memiliki kapasitas penyerapan dan penyimpanan karbon (blue carbon) yang jauh lebih tinggi dibandingkan hutan daratan. Ini sangat efektif membantu menekan jejak karbon industri sekaligus melindungi wilayah pesisir dari abrasi,” ujarnya.

Program ini bertumpu pada tiga pilar utama: mitigasi perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat pesisir yang dilibatkan dalam pemeliharaan bibit.

Ketua Forum CSR Lampung, Veronika Saptarini, menambahkan bahwa mangrove merupakan salah satu jenis pohon yang mampu mengikat karbon dalam jangka waktu sangat lama, bahkan hingga berabad-abad.

“Upaya ini harus dilakukan secara berkesinambungan agar memberikan dampak ekologis dan ekonomi yang terukur bagi masyarakat,” tuturnya.

Pemilihan lokasi di Desa Way Lubuk, Kalianda, didasarkan pada kondisi wilayah yang rentan dan sering terdampak banjir serta abrasi. Penanaman 4.000 bibit ini diposisikan sebagai “benteng hidup” untuk memulihkan fungsi ekologis di wilayah tersebut.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Edison, memberikan apresiasi atas keterlibatan dunia usaha.

Saat ini, pemerintah tengah menyusun Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional 2026-2055. Edison menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada proses menanam, melainkan pada perawatan bibit agar benar-benar tumbuh.

“Menanam adalah awal, tetapi merawat adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan sampai hanya 10 persen yang hidup; kita ingin bibit-bibit ini menjadi warisan berharga bagi anak cucu,” kata Edison.

Sebagai bentuk dukungan kepada penggiat lapangan, dalam acara ini juga diserahkan bantuan sepatu boot kepada Komunitas Mangrove Lampung Selatan.

Gerakan “Gotong Royong Hijau” ini diikuti oleh sejumlah perusahaan besar, antara lain PT Keong Nusantara Abadi (Wongcoco), PT Konverta Mitra Abadi, Great Giant Food (GGF), Tunas Dwipa Matra (TDM) Honda, serta dukungan dari sektor perbankan seperti Bank Lampung dan Bank BJB.

Kolaborasi ini juga menggandeng mitra strategis seperti Yayasan Langit Sapta dan komunitas lingkungan Satu Jejak guna memastikan pengawasan berkala pada area konservasi, serta Ikatan Wartawan Online (IWO) Lampung.

Melalui semangat kebersamaan ini, para pemangku kepentingan berharap Lampung dapat menjadi provinsi yang tangguh terhadap krisis iklim sekaligus mendukung visi “Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045”.

Aksi ditutup dengan komitmen seluruh peserta untuk tetap menjaga kebersihan lokasi dan tidak meninggalkan jejak sampah.

Semangat menjaga bumi ini dirangkum dalam pantun yang dibacakan Edison: “Siger emas lambang budaya, megah berdiri di tanah Lampung Raya. Mari menjaga alam kita bersama, mangrove lestari pesisir pun terjaga”.

Exit mobile version