Teknokra.co: Kenaikan harga plastik yang tinggi dikeluhkan sejumlah pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bandar Lampung. Lonjakan harga yang terjadi usai hari raya Idulfitri tahun 2026 ini dinilai cukup memberatkan, terutama bagi pedagang kecil.
Dety (40) yaitu pemilik toko plastik di sekitar kampus Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengatakan kenaikan harga yang terjadi langsung melonjak drastis.
“Bukan naik sih, tapi pindah harga. Kalau naik Rp1.000 atau Rp2.000 masih mungkin ya, tapi ini dari sekitar Rp28.000 jadi Rp50.000,” ujar Dety saat ditemui pada Rabu, (8/4).
Menurut Dety, kenaikan harga plastik mulai terasa sejak Maret 2026, tak lama setelah Lebaran. Ia menyebutkan keluhan tidak hanya datang dari dirinya, tetapi juga dari para pelanggan tokonya yang mayoritas merupakan pedagang.
”Penjualan pasti banyak yang ngeluh termasuk saya juga. Saya juga pedagang bingung, apalagi orang yang beli. Semua naik, cuman kalau yang kaya sembako kan masih Rp1.000 atau Rp2.000 lah naiknya, cuman kalau plastik ini bener-bener melonjak dia,” jelasnya.
Hal serupa dirasakan Aprian (38) yang merupakan seorang pedagang gorengan di sekitar kawasan kampus. Ia mengaku harus menurunkan kualitas plastik yang dibeli karena selisih kenaikan harganya cukup signifikan.
“Biasanya beli di atas ini (kualitasnya) Rp19.000, sekarang jadi Rp25.000. Jadi sekarang cuma beli yang Rp15.000,” katanya.
Aprian juga mengaku kesulitan membagi modal usaha karena belum berani untuk menaikkan harga jual dagangannya meskipun biaya bahan bakunya terus meningkat.
Senada dengan itu, Muhammad Afifudin (23) salah satu pedagang UMKM telur gulung menganggap bahwa kenaikan harga plastik berdampak tidak baik bagi pelaku UMKM seperti dirinya.
“Ya, semoga segera diturunin lagi lah, soalnya ya pedagang-pedagang kaya gini yang dirugikan,” pungkasnya.
