Krisis Cuaca Akibat Perubahan Iklim Ancam Kesejahteraan Petani Kopi Robusta Lampung Barat

Seorang petani kopi di Lampung Barat menunjukan ranting pohon kopinya yang gagal berbuah, Foto: Teknokra/Arif Sanjaya.
815 dibaca

Teknokra.co: Pemandangan Ranting-ranting kopi yang hanya menghasilkan sedikit biji kopi, menjadi pukulan bagi para para petani kopi di desa Manggarai, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat. Sudah tiga tahun panen raya di desa tersebut gagal. Tak hanya di desa tersebut, permasalahan serupa juga terjadi di banyak wilayah lainnya di Lampung.

Hal ini tentunya mengancam pendapatan dan kesejahteraan petani kopi, khususnya buruh tani perempuan sebagai kelompok yang lebih rentan terdampak krisis iklim.

Heru Saritno, salah satu anggota kelompok tani di desa Manggarai, menengarai bahwa curah hujan ekstrim yang juga didorong oleh perubahan iklim merupakan penyebab utama mengapa bunga yang ada di batang kopi di kebunnya dan di sejumlah lahan petani lainnya akhirnya membusuk dan gagal berbuah.

“Cuaca sekarang nggak menentu, kadang ujan dia nggak berenti-berenti, kadang dia panas sekali,” tuturnya.

Klon kopi Tugusari dari varietas Robusta yang mendominasi kebun-kebun kopi milik warga kini tak lagi produktif. Dahulu pada tahun 90-an, klon tersebut menjadi favorit petani karena dianggap bisa menghasilkan kopi dalam jumlah besar, sehingga petani Lampung Barat berbondong-bondong untuk membudidayakannya.

Namun, kini kopi Tugusari telah takluk oleh cuaca. Selama beberapa tahun terakhir, perubahan iklim membuat klon Tugusari menjadi mandul. Heru mengatakan bahwa klon tersebut sangat rentan terhadap volume hujan yang berlebih dan membutuhkan musim panas yang kini juga tak menentu.

Hal tersebut berdampak buruk terhadap kesejahteraan petani, sebagian petani kopi yang berasal dari kelas ekonomi menengah kebawah, menggantungkan pendapatannya ke hasil pertanian kopi yang didominasi oleh klon Tugusari. Kini, mereka mengalami penurunan hasil penjualan kopi yang cukup drastis.

Heru misalnya, jika kopi sedang tak mengalami paceklik, ia bisa menghasilkan 40-50 juta rupiah tiap tahun dari kebun kopi miliknya. Kini, ia rata-rata hanya bisa mendapatkan paling banyak 15 juta rupiah pertahun dari hasil kopi.

“Warga sampai Jual motor atau gadaikan kebun. Memang perekonomian terdesak. Biaya sekolah anak juga kena, misalnya mau berangkat sekolah nggak kebeli bensin,” kisahnya.

Ia coba menyiasati keadaan dengan menerima tawaran perusahaan eksportir kopi untuk melakukan peralihan klon kopi melalui uji coba tanam bibit klon baru yang diprediksi dapat lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrim.

Ia dan petani lainnya juga mulai beralih ke tanaman sayur dan buah seperti cabai, tomat, pisang dan beberapa komoditas lainnya. Menurutnya, komoditas sayur dan buah yang jangka panennya lebih cepat dapat menutupi kebutuhan keluarganya sehari-hari dibandingkan dengan kopi yang hanya penen sekali tiap tahunnya, apalagi dengan hasil yang tak menentu.

“Kita butuh makan setiap hari, kalo nunggu panen setahun sekali nggak ketutup,” kata Heru.

Namun, Heru menyadari tak semua petani memiliki modal dan keberanian untuk ikut serta dalam uji coba tanam klon kopi Robusta baru seperti dirinya. Menurutnya, keputusan tersebut membutuhkan modal dan resiko yang membuat petani lain takut untuk memangkas batang kopi yang ada di kebun mereka serta menggatinya dengan menunggu hasil ‘eksperimen’ klon baru.

“Petani di sini kurang berinovasi, mungkin karena kurang modal juga, kita mau rehab kebun nggak ada modal,” terangnya.

Buruh Tani Perempuan kehilangan Pekerjaan

Dampak krisis iklim pada pertanian kopi robusta di Lampung Barat memberikan pengaruh ekonomi yang lebih kejam terhadap kelompok buruh tani perempuan. Pasalnya, kepemilikan modal dan lahan kopi cenderung dikuasai oleh laki-laki. Perempuan yang berasal dari keluarga tak mampu akhirnya bekerja sebagai buruh.

Mayoritas Buruh pekerja yang dibayar oleh pemilik kebun untuk menggarap lahan di desa Manggarai dan di sejumlah tempat lainnya didominasi oleh buruh perempuan. Selama paceklik kopi tiga tahun belakangan, banyak petani yang tak mampu menggaji buruh, sehingga akhirnya para buruh perempuan tersebut mengalami penurunan bahkan kehilangan sumber penghasilan mereka.

Salah satu buruh perempuan tersebut adalah Sumarni, wanita berusia 48 tahun tersebut masih bekerja untuk membantu menafkahi anak-anaknya yang bersekolah. Sehari-hari, Ia menggarap kebun kopi dan lahan sayur kepada orang yang mengupahnya.

Umumnya, ia mendapat gaji harian sebesar 50 ribu rupiah. Jika ditotal, dalam sebulan ia bisa mendapat gaji dengan kisaran 1,5 hingga 1,8 Juta rupiah. Upah yang didapat oleh Sumarni tentunya berada dibawah upah minimum kabupaten Lampung Barat sebesar 2,4 Juta rupiah per bulan.

Pendapatan Sumarni tak menentu, ia bahkan menuturkan jika ia sempat tak mendapat pemasukan sama sekali selama kegagalan panen raya kopi tiga tahun kebelakangan. Tentu hal ini menjadi pil pahit bagi dirinya dan anak-anaknya.

“Sekarang lebih banyak pengeluarannya, daripada pemasukan, bahkan Pernah nggak ada pemasukan sama sekali,” tuturnya.

Menurunnya penghasilan juga memberikan mempersulit akses Sumarni terhadap layanan kesehatan, Sumarni mengalami sakit mata yang menganggu penglihatannya selama empat bulan terakhir. Namun, ia tak mampu memeriksa kondisi matanya kepada dokter spesialis mata.

“Belum ke dokter mata, belum ada biayanya,” tuturnya.

Krisis Iklim Ancam Ketahanan Pangan

Provinsi Lampung merupakan penghasil Kopi Robusta terbesar di Indonesia dengan luas areal perkebunan mencapai 154.168 ha. Lampung barat merupakan kabupaten penghasil kopi terbesar di Lampung bersama dengan kabupaten Tanggamus.

Namun, produksi kopi di Lampung Barat mengalami naik turun imbas cuaca ekstrim. Tahun 2021 misalnya, produksi kopi menurun sebesar 28,28% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan pada tahun 2022, produksi kopi meningkat namun hanya sebesar 2,7% dibandingkan tahun 2021.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bandar Lampung, Irfan Tri Musri, menjelaskan bahwa Perubahan Iklim memang menjadi ancaman bagi sektor pertanian dan perkebunan. Irfan mengatakan, perubahan cuaca akibat krisis iklim terjadi secara dinamis sekaligus ekstrim.

“Kemudian lagi diperparah dengan fenomena alam lainnya seperti el nino, la nina serta angin kencang dan lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, jika dampak krisis iklim tak dapat segera ditekan, maka perubahan iklim tak hanya akan mengancam kesejahteraan petani, namun masyarakat yang merupakan konsumen pertanian juga dapat terancam dengan masalah ketahanan pangan.

“Dalam jangka waktu panjang juga akan mempengaruhi siklus dan ketahanan pangan ke depannya,” tegasnya.

Kisah Anjarwana, Petani Penggerak Milenial

Anjarwana saat berada di kebun kopi miliknya. Foto: Teknokra/Arif Sanjaya.

Ditengah krisis kopi akibat perubahan iklim di Lampung Barat, seorang petani berusia 28 tahun bernama Anjarwana melakukan pemberdayaan komunitas petani kopi milenial. Anjar merupakan anak muda yang sejak tahun 2017 berkecimpung langsung mengelola ladang kopi.

Meskipun tanpa latar belakang pendidikan tinggi di bidang pertanian, Anjar mampu mempelajari inovasi dan budidaya kopi secara otodidak. Sejak awal, ia bercita-cita untuk mengembangkan budidaya kopi yang dapat tangguh dan produktif menghadapi krisis cuaca ekstrim.

“Saya punya mimpi, yang pertama kebun saya jadi bagus, yang kedua ilmu kopi saya dalami, yang ketiga saya pengen terkenal, dan keempat saya pengen kebun saya didatangi banyak orang,” katanya.

Ia kemudian berinisiatif mengembangkan budidaya klon kopi Robusta yang tetap bertahan produktif meskipun digempur cuaca, kebun kopi yang saat ini digarapnya merupakan kebun kopi multi-klon yang jauh lebih tangguh dibandingkan klon Tugusari.

“Kebun ini multi-klon, saya simpulkan tiga klon yang unggul yang pertama Arsyad, Bagio, Cipto,” terangnya.

Ketiga klon unggulan tersebut mampu menghasilkan buah dalam jumlah yang besar, pembungaan kopi juga tak banyak terpengaruh oleh air hujan ketika terjadi cuaca ekstrim.

“Kalau ingin sukses di perkopian, kuncinya mau mengganti bibit (selain) Tugusari,” tegasnya.

Ia kini mengelola budidaya pertanian dengan mengikuti pola pagar yang terinspirasi dari petani kopi Brazil. Hebatnya, produktifitas kopi di satu hektar lahan kopi milik Anjar diperkirakan akan menghasilkan produksi kopi hingga empat kali lipat lebih besar dibandingkan satu hektar lahan kopi petani kopi pada umumnya yang membudidayakan klon Tugusari.

Anjar bercerita, saat awal mengembangkan inovasi-inovasi tersebut, ia kerap mendapat olok-olok dari sesama petani kopi yang heran dengan cara budidaya yang ia kembangkan. Namun, ia tak menggubrisnnya hingga ia akhirnya sukses dan mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat.

Pada tahun 2020, ia mendirikan Komunitas Sekolah Petani Kopi Milenial (SKPM). Sebuah komunitas berbasis online yang membantu pendampingan petani kopi yang hendak mengembangkan klon-klon kopi yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Komunitas tersebut beranggotakan ribuan petani kopi dari sejumlah daerah seperti Aceh, Bali hingga Nusa Tenggara Barat. Anjar menjadikan komunitas tersebut sebagai komunitas yang terbuka dan egaliter.

“Struktur Organisasi kita nggak punya, Cuma yang ikut banyak. Di situ saya Jadi penggerak petani, kayak ada keluhan kita kasih pelajaran,” jelasnya.

Anjar juga disibukan dengan pendampingan langsung ke petani kopi di sejumlah daerah, misalnya, di Sumatera Selatan dan di sejumlah daerah di pulau Jawa. Ia juga memiliki reputasi sebagai petani Youtuber. Anjar bahkan kini memiliki 46 ribu subscriber di Youtube.

Menurut Anjar, ia aktif mengembangkan konten edukasi pertanian di Youtube sejak tahun 2018, ia menilai Youtube sebagai platform yang efektif untuk berbagi pengalaman selama mengembangkan budidaya kopi.

“Jadi dengan youtube bisa lebih luas, lama saya membangun channelnya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =