Pentas Teater “Hilang Huma(n)” Kritik Terhadap Krisis Ekologis

Foto : Teknokra/ Daffa Falih Saputra
38 dibaca

Teknokra.co : Pertunjukan teater bertajuk “Hilang Huma(n)” dilaksanakan di Gedung Teater Tertutup, Taman Budaya Lampung pada Minggu-Senin, (15-16/2). Pementasan yang diprakarsai oleh Komunitas Berkat Yakin (Kober) ini mengangkat isu kerusakan lingkungan, khususnya deforestasi atau penggundulan hutan yang semakin mengkhawatirkan.

Sutradara pertunjukan, Ari Pahala Hutabarat, menyebut karya ini sebagai bentuk kritik seni terhadap krisis ekologis. Menurutnya, teater bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang untuk berbagi pikiran dan membangun kesadaran bersama tentang kondisi alam saat ini.

“Jadi kita berbagi pikiran, berbagi ide, berbagi impresi dan pada akhirnya berbagi pengalaman tentang peringkatan ekologis yang sudah luar biasa parah,” ujarnya.

Ia berharap pementasan tersebut mampu menimbulkan “gangguan-gangguan kecil” dalam pikiran dan batin penonton, yakni sebuah refleksi yang mendorong lahirnya kesadaran, tidak hanya secara personal tetapi juga kolektif.

“Mudah-mudahan dari pertunjukan ini meskipun barang sedikit ada semacam muncul kesadaran kolektif pada diri kita semua ada semacam gangguan-gangguan kecil pada pikiran, pada perasaan, pada batin kita untuk kembali merenungkan posisi kita di alam semesta ini,” harapnya.

Lebih lanjut, menyoroti proses latihan, salah satu pemain, Rizky Rizaldiano, menjelaskan bahwa Hilang Huma(n) sebelumnya telah ditampilkan dalam Festival Teater Sumatera di Palembang. Pada ajang tersebut, para pemain menjalani latihan intensif selama tiga bulan, sejak Juli hingga September 2025. Setelahnya, mereka melaksanakan latihan kembali sejak Desember 2025 hingga Januari 2026.

“Ini kan sebelumnya udah ditampilin di ajang festival teater Sumatera di Palembang. Itu mulai proses latihan, training satu bulan di bulan Juli sampai September. Tiga bulan kita dilatihkan menuju ke Palembang, setelah Palembang lanjut di bulan Desember dan Januari,” jelasnya.

Ia menambahkan, latihan yang dilakukan tidak hanya menghafal naskah atau mengatur gerak di atas panggung. Para pemain juga mengikuti latihan vokal dan latihan imajinasi untuk memperkuat kemampuan akting mereka. Selain latihan bersama, setiap pemain juga berlatih secara mandiri.

“Selain rehearsal bareng, ada juga latihan pribadi. Latihan vokal, latihan imajinasi, supaya penyampaiannya lebih kuat,” tambahnya.

Berbeda dari teater pada umumnya, Hilang Huma(n) tidak menampilkan karakter atau tokoh tertentu. Para pemain tidak memerankan sosok lain, melainkan tampil sebagai diri mereka sendiri untuk menyampaikan pendapat dan kegelisahan tentang kondisi lingkungan.

“Di sini kami bukan menjadi karakter tertentu. Kami menyampaikan opini kami sendiri tentang masalah lingkungan,” jelasnya.

Isu utama yang diangkat dalam pertunjukan ini adalah deforestasi hutan. Melalui dialog, gerak, dan ekspresi di atas panggung, para pemain ingin mengajak penonton menyadari bahwa kerusakan alam adalah masalah nyata yang berdampak bagi kehidupan semua orang.

Rizky berharap pertunjukan ini bisa membuka mata penonton. Ia mengaku, dirinya sendiri baru benar-benar memahami persoalan hutan setelah terlibat dalam proses latihan dan diskusi selama pementasan.

“Harapan saya, semoga penonton jadi tahu dan sadar kalau ada masalah soal hutan dan alam. Karena saya sendiri juga baru lebih paham setelah ikut proses ini,” tuturnya.

Melalui pentas teater “Hilang Huma(n)”, Kober menunjukkan bahwa seni dapat menjadi cara sederhana, namun kuat untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. Pertunjukan ini bukan hanya tentang akting di atas panggung, tetapi juga tentang mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap masa depan alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + 17 =