Sambut Hari Bumi Sedunia, Aliansi Rakyat Lampung Langsungkan Konsolidasi

Foto : Teknokra/ Chelsea Ester Basauli Lubis
21 dibaca

Teknokra.co: Dalam rangka menyambut Hari Bumi Sedunia, Aliansi Rakyat untuk Keadilan Ekologis mengadakan konsolidasi untuk mengangkat isu lingkungan di wilayah Lampung. Konsolidasi tersebut dilaksanakan di kantor Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) pada Jumat, (17/4). Selanjutnya, akan dilaksanakan aksi massa bersama Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (StuEB) yang berlokasi di Tugu Adipura pada Rabu, (22/4).

Konsolidasi tersebut menghasilkan Grand issue yakni “Tuntaskan Permasalahan Bencana Ekologis, Lawan Korporasi Perusak Bumi Lampung”, serta sejumlah tuntutan yang akan dibawa dalam aksi massa, yaitu:

1. Mendesak pemerintah untuk mengevaluasi dan merevisi RTRW agar berbasis pada perlindungan lingkungan hidup.

2. Mencabut dan menghentikan izin konsesi yang merusak lingkungan.

3. Mewujudkan kebijakan dan tata kota yang berkeadilan gender.

4. Memberikan hak normatif serta ganti kerugian kepada masyarakat yang terdampak banjir.

Muchlis Sadzili, selaku Staf Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, menyampaikan keluhannya terkait minimnya daerah resapan air dan ruang terbuka hijau, serta alih fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur.

“Tidak adanya daerah resapan air dan ruang terbuka hijau. Daerah resapan air justru dibangun mall dan berbagai fasilitas lainnya,” keluhnya.

Tak hanya itu, Mustakim, selaku Staf Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung, mengungkapkan bahwa sempat terjadi banjir yang cukup parah dengan durasi sekitar 2–3 jam di beberapa titik di Bandar Lampung pada Rabu, (15/4) silam. Salah satunya terjadi di daerah aliran Sungai Garuntang yang melintasi belasan kecamatan.

“Hujan dengan intensitas cukup tinggi terjadi selama kurang lebih 2 sampai 3 jam pada Rabu tersebut. Akibatnya, beberapa wilayah di Kota Bandar Lampung mengalami banjir yang cukup parah,” ungkapnya.

Ia juga memaparkan bahwa terdapat sekitar 33 bukit di Kota Bandar Lampung yang seharusnya menjadi area resapan air. Namun, saat ini hanya tersisa Gunung Sulah dan Gunung Banteng yang masih relatif utuh. Sementara itu, pada tahun 2020, Gunung Kucing masih tercatat sebagai salah satu kawasan tersebut. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Kucing telah mengalami alih fungsi menjadi kawasan perumahan dan tempat wisata.

“Ada sekitar 33 bukit di Kota Bandar Lampung yang seharusnya menjadi area resapan air. Namun, saat ini kondisinya hanya menyisakan dua yang masih relatif utuh, yaitu Gunung Sulah dan Gunung Banteng. Terakhir, pada tahun 2020, Gunung Kucing masih tercatat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Kucing sudah mulai dialihfungsikan menjadi kawasan perumahan dan wisata,” lanjutnya.

Terakhir, Febrilia Ekawati, selaku Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), menyampaikan keluhannya terkait perlunya penanganan yang lebih cepat terhadap kondisi banjir saat ini, terutama bagi penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak yang termasuk dalam kelompok rentan.

“Yang perlu kita sadari bersama, kita membutuhkan penanganan yang lebih cepat, terutama bagi penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak. Mereka merupakan kelompok yang sangat rentan dalam situasi saat ini,” pungkasnya.

Exit mobile version