Teknokra.co: Tidak hanya sekedar memperjuangkan hak umum, aksi MayDay yang dilakukan seluruh masyarakat turut menyampaikan suara dan perjuangan hak buruh perempuan untuk mendapat keadilan dan kesetaraan di lingkungan kerja. Aksi dilakukan di Tugu Adipura, pada Jumat, (1/5).
Prabowo Pamungkas selaku Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bandar Lampung membahas bahwa MayDay adalah hari peringatan kelayakan upaya pekerja untuk mendapatkan hak normatif termasuk keamanan perempuan yang masih buruk. Keseharian perempuan kerap harus memilih antara bekerja dan berjuang atau diam dan selamat.
“MayDay kita peringati sebagai kelayakan upaya, bagaimana kita bekerja sebagai manusia mendapatkan hak normatif yang layak. Tapi kita selalu luput juga, bagaimana keamanan terhadap perempuan pekerja yang buruk, perempuan yang hari-hari harus memilih antara keselamatan atau bekerja, yang harus memilih untuk diam atau berjuang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terkait suara buruh perempuan yang dianggap sebagai orang yang sensitif padahal yang dituntut adalah hak-hak dasar seperti hak cuti hamil, ruang menyusui. Namun, perjuangan hak dasar ini kerap mendapat diskriminasi.
“Kita lihat bahwa kawan-kawan buruh perempuan yang ingin bersuara selalu dianggap sebagai orang yang sensitif, padahal yang kita tuntut adalah hak-hak dasar,” ucapnya.
Alwi selaku Federasi Serikat Buruh Makanan dan Minuman (FSBMM) menyampaikan bahwa perempuan yang berada dalam lingkungan pekerja kerap mendapat pelecehan seksual, intimidasi dan diskriminasi dalam memperjuangkan hak mereka termasuk upah kerja.
“Hari ini para perempuan-perempuan di Indonesia yang berada di tempat-tempat kerja mendapatkan pelecehan-pelecehan seksual, mendapatkan intimidasi dan juga mendapatkan diskriminasi dalam hal upahnya,” pungkasnya.
