ACF Fest Movie Day 2026 : Angkat Isu Anti korupsi Lewat Film

Foto : Teknokra/ Ananda Sri Rezeki
19 dibaca

Teknokra.co: Anti-Corruption Film Club (ACF Fest) Provinsi Lampung menggelar kegiatan Movie Day 2026 sebagai upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap isu korupsi melalui media film. Kegiatan ini menghadirkan praktisi film, akademisi, serta perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Aula Gedung D Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila), pada Rabu, (22/4).

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi mahasiswa untuk memahami praktik korupsi, tidak hanya dalam skala besar, tetapi juga dalam bentuk-bentuk kecil yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Aditya Budiman selaku Koordinator Program ACF Fest KPK menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari kampanye anti korupsi yang telah berjalan lebih dari satu dekade.

“Film menjadi media yang paling mudah diterima masyarakat, terutama generasi muda. Melalui film, pesan antikorupsi dapat disampaikan secara halus namun tetap kuat dan membekas,” ujarnya.

Ia menjelaskan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, hingga disiplin selalu diintegrasikan dalam setiap karya film yang diproduksi dalam program ACF Fest.

Sementara itu, Vito Frasetya selaku Dosen Ilmu Komunikasi Unila menyoroti kekuatan film sebagai media komunikasi yang mampu memengaruhi pola pikir penonton.

“Film bekerja melalui ‘theater of mind’, di mana penonton diajak merasakan dan merefleksikan kondisi yang ditampilkan. Ini menjadi cara yang efektif untuk membangun kesadaran,” jelasnya.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa (HMJ) Jurusan Ilmu Komunikasi tahun 2024, Azzuma Zuhri Arieza Hakim, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi integritas di Provinsi Lampung yang masih memerlukan perhatian serius.

“Berdasarkan survei penilaian integritas KPK tahun 2021, Provinsi Lampung masih berada di bawah rata-rata nasional. Bahkan Kabupaten Lampung Selatan memiliki nilai terendah, yaitu 58 persen, yang menunjukkan resiko tinggi terhadap praktik seperti suap, gratifikasi, hingga penyalahgunaan anggaran,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa di sisi lain, Bandar Lampung memiliki potensi besar di bidang perfilman. Terlihat dari tingginya minat masyarakat hingga aktifnya komunitas film.

“Bandar Lampung memiliki potensi besar di bidang perfilman, mulai dari tingginya minat masyarakat hingga aktifnya komunitas film,” tambahnya.

Dalam sesi pemutaran film, salah satu karya yang paling membekas bagi peserta adalah Rahasia Umum, yang dinilai sangat dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta, Hany Nabila Sari (Pendidikan Ekonomi ’25), mengungkapkan bahwa film yang ditayangkan mampu memberikan refleksi mendalam meskipun dikemas secara sederhana.

“Alurnya sederhana, tapi pesannya jelas dan sangat terasa. Saya jadi sadar bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun banyak korupsi kecil yang sering tidak terlihat,” jelasnya.

Peserta lainnya, Jingga Nur Alita (Pendidikan Ekonomi ’25), menilai bahwa konsep kegiatan yang menggabungkan film dan diskusi menjadi daya tarik tersendiri.

“Temanya relevan dengan isu korupsi dan jarang ada acara yang mengangkatnya lewat film dan diskusi, jadi lebih santai tapi tetap memberikan banyak manfaat,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dikembangkan ke depannya.

“Semoga ke depan acara seperti ini bisa lebih sering diadakan, pilihan filmnya semakin variatif, dan diskusinya lebih interaktif agar peserta lebih berani menyampaikan pendapat,” tambahnya.

Menutup kegiatan, panitia menegaskan bahwa ACF Fest Movie Day tidak hanya menjadi ruang apresiasi film, tetapi juga sarana edukasi kritis bagi mahasiswa dalam memahami bahaya korupsi.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif serta mendorong generasi muda untuk menanamkan nilai integritas dan berani melawan praktik korupsi, dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Exit mobile version