Teknokra.co: Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) mengadakan Seminar Integritas di Gedung Student Center Lantai 1 FEB Unila, pada Jumat (30/10). Seminar bertema “Integritas sebagai Fondasi Kepemimpinan: Membangun Generasi yang Jujur, Bertanggung Jawab, dan Berani Berprinsip” ini menjadi bagian dari rangkaian Sekolah Legislatif.
Acara menghadirkan tiga narasumber dengan materi yang berbeda. Mereka adalah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung, Erwan Bustami, yang membawakan materi ”Integritas Penyelenggara Pemilu: Peran Mahasiswa dalam Demokrasi”. Selanjutnya, anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah, Toni Sastra Jaya, menyampaikan materi ”Integritas: Fondasi Kepemimpinan, Membangun Karakter dan Etika Kepemimpinan Mahasiswa yang Berkelanjutan”.
Sementara itu, anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pringsewu, Mediansyah Resaputra, membawakan materi ”Integritas sebagai Fondasi Kepemimpinan: Membangun Generasi yang Jujur, Bertanggung Jawab, dan Berani Berprinsip”.
Ketua Pelaksana, M. Fathul Rachman TR (D3 Perpajakan ’25), berharap tema ini melahirkan pemimpin yang unggul dari sisi kecerdasan sekaligus karakter. Ia menilai kemampuan saja belum cukup untuk memimpin.
“Harapannya melalui tema ini dapat lahir generasi kepemimpinan yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga memiliki karakter kuat dan menjunjung tinggi kejujuran,” ujarnya.
Ketua Umum DPM FEB Unila, Dava Pramudia Mahaparana (Bisnis Digital ’23), menegaskan seminar ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan tersebut harus menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menjaga integritas selama menempuh pendidikan. Ia mengajak peserta menuangkan ide dan pertanyaan kepada para narasumber. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada panitia yang menyiapkan rangkaian kegiatan sejak Senin hingga Jumat.
Seminar dibuka oleh Agrianti Komalasari, yang hadir mewakili pimpinan fakultas. Ia mengapresiasi keaktifan DPM periode ini. Menurutnya, organisasi tersebut sempat vakum selama beberapa periode sebelum kembali bergerak.
Agrianti menilai dampak kesalahan para pengambil keputusan di negeri ini masih terasa hingga sekarang. Sivitas akademika, kata dia, punya tanggung jawab memberi pelatihan kepada mahasiswa meski dalam skala kecil. Ia berharap dampaknya menular kepada pengurus DPM periode berikutnya.
“Paling tidak ada upaya kita untuk memperbaiki lingkungan kita sendiri,” tuturnya.
Ia juga menyinggung keterbatasan penyelenggaraan kegiatan mahasiswa di tengah kebijakan efisiensi. Meski begitu, ia mengapresiasi panitia yang tetap mampu menghadirkan narasumber dari lembaga penyelenggara pemilu dan legislatif. Ia meminta peserta menggali pengalaman para narasumber, mulai dari proses menjadi ketua KPU provinsi hingga menjadi anggota DPRD.
Salah satu peserta, Mahdi Al Askari (Ilmu Pemerintahan ’25), mengatakan memperoleh banyak wawasan baru, terutama mengenai demokrasi. Ia menilai transparansi dan akuntabilitas menjadi unsur penting dalam menjalankan sistem demokrasi.
“Demokrasi dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara konsisten.
Sementara itu, Fathul menjelaskan persiapan kegiatan telah dimulai sejak dua bulan sebelum pelaksanaan. Ia menyebut perbedaan pemikiran antarpanitia menjadi salah satu tantangan dalam proses persiapan. Meski demikian, ia mengaku senang karena kegiatan dapat terlaksana dengan baik.
Sekretaris Komisi Legislasi, Yerisca Godwin Hutapea, (D3 Akuntansi ’24), menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan membangun kesadaran politik anak muda. Menurutnya, politik bukan hanya berkaitan dengan jabatan dan kekuasaan, tetapi juga dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini bertujuan mengubah persepsi bahwa politik hanya urusan orang berjabatan, beruang, atau berkuasa, melainkan hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia berharap Sekolah Legislatif dapat terus diselenggarakan dengan cakupan peserta yang lebih luas, tidak hanya mahasiswa Unila, tetapi juga mahasiswa se-Bandar Lampung hingga se-Lampung.
