Teknokra.co: Dalam rangka menuju pemilihan calon rektor baru, Universitas Lampung (Unila) menggelar sosialisasi visi, misi, dan program kerja bakal calon rektor (Bacarek) di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, pada Rabu (28/10). Sosialisasi yang dihadiri enam bakal calon rektor ini disaksikan oleh Dosen, Tenaga Kependidikan, dan Mahasiswa. Program yang dijabarkan seluruh calon berlandaskan Pilar Tridharma Perguruan Tinggi.
Dalam acara ini bakal calon nomor urut 1, Prof. Hamzah, membawa visi Unila sebagai universitas riset berstandar internasional yang inklusif, adaptif, dan berwawasan kebangsaan menuju Indonesia Emas 2045. Visi itu ia jabarkan dalam tujuh misi yang berpijak pada lima pilar, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan inovasi, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola dan kelembagaan, serta daya saing lulusan dan penyerapan dunia kerja.
Ia menyebut kurikulum adaptif berbasis kebutuhan industri dan digitalisasi pembelajaran sebagai fokus pilar pertama. Pada pilar tata kelola, ia menargetkan pengelolaan kampus yang bersih, transparan, dan akuntabel melalui digitalisasi menyeluruh serta reformasi birokrasi.
Bakal calon nomor urut 2 yakni Budiyono, mengusung program Go Beyond Achievement. Ia memaknainya sebagai keberanian melampaui batas untuk melangkah ke depan dan membangun prestasi di dunia akademik. Ia menekankan kebersamaan seluruh sivitas akademika, mahasiswa, alumni, dan tenaga pendidik dalam membangun masa depan Unila.
Ia juga menilai ukuran keberhasilan pemimpin bukan seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan seberapa luas manfaat yang dirasakan orang lain.
“Jabatan memberikan wewenang, tetapi keteladanan menghadirkan kewibawaan,” ujarnya.
Bakal calon nomor urut 3, Prof. Warsito, mengusung tema “Transformasi Unila Menjadi Universitas Berkelas Dunia, Berdampak, dan Berintegritas” dengan tagline “GO UNILA”. Singkatan itu merujuk pada Global Mindset, Open Collaboration, University Excellence, Novelty, Integrity, Local Wisdom, dan Action.
Ia memaparkan tiga pilar, yaitu keunggulan akademik, tridharma yang berdampak, serta tata kelola yang berintegritas dan berkelanjutan. Terdapat 7 program unggulan, mulai dari akademik sebagai panglima, penguatan tata kelola dan kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, hingga hilirisasi riset, transformasi lembaga menuju kemandirian institusi, jejaring global, serta peran mahasiswa, alumni, dan identitas lokal.
“Saya ingin memastikan bahwa akademik adalah panglima. Seluruh pengembangan kampus Unila ini harus memastikan akademik berada di depan, bukan pengekor,” tuturnya.
Ia menekankan transparansi pengelolaan anggaran dengan melibatkan Satuan Pengendali Internal sejak tahap perencanaan. Ia juga menjanjikan peta jalan jenjang karier dan peta talenta. Seluruh program itu merujuk pada 12 indikator kinerja utama yang ditetapkan Kementrian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Bakal calon nomor urut 4, Prof. Rudy, memperkenalkan program RISE Unila sebagai kelanjutan warisan para pimpinan Unila sebelumnya. Ia menyebut Unila berdiri 61 tahun karena dosen, tendik, mahasiswa, dan alumninya. Menurutnya, kampus tidak akan maju tanpa memikirkan kesejahteraan dosen.
Ia berkomitmen menaikkan remunerasi dosen dan tendik sebesar 100 persen dari kondisi saat ini, agar dosen tidak terbebani urusan administratif. Ia juga menawarkan tim pendamping dosen yang membantu proses kenaikan pangkat dan jabatan fungsional. Dosen akan menerima pesan otomatis ketika waktu kenaikan pangkatnya tiba.
Ia juga berencana membentuk “Gildum Kepakaran” yang dipimpin profesor dan beranggotakan guru besar, lektor kepala, lektor, hingga asisten ahli, guna mendorong internasionalisasi kampus. Setiap Gildum Riset akan menerima dana Rp200 juta per tahun tanpa kompetisi. Ia menyebut internasionalisasi hanya angan-angan tanpa dana hibah riset, karena peneliti tidak dapat mengikuti konferensi internasional, mengundang peneliti asing, atau menulis publikasi bersama.
Dari kelompok kepakaran, akan lahir Pusat Unggulan Institusi berdasarkan bidang keilmuan yang ada di Unila. Pusat tersebut diharapkan meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional serta mendorong hilirisasi dan riset berdampak.
Ia turut menjanjikan penambahan beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu karena hal itu sebagai tradisi pimpinan Unila terdahulu.
“Ini dicatat, direkam, dan Bapak Ibu dapat menagih janji dan komitmen saya jika saya terpilih menjadi Rektor Unila 2027-2031. Kalau tidak terpilih jangan ditagih,” kata Rudy.
Bakal calon nomor urut 5, Prof. Asep Sukohar, mengusung tagline “Unila Excellent” sebagai kelanjutan dari “Unila Strong”. Singkatan itu memuat etika dan tata kelola berintegritas, hilirisasi dan komersialisasi riset, capaian reputasi global, serta ekosistem pendapatan badan layanan umum (BLU) termasuk layanan kesehatan RS Unila.
Visi yang ia usung menjadikan Unila perguruan tinggi unggul, bereputasi, dan berdampak menuju Indonesia Emas 2045. Dalam 100 hari kerja, ia menargetkan minimal 10 hasil riset dihilirisasi, Smart Campus tahap pertama, dan kerja sama industri minimal 50 persen. Pada tahun kedua, jumlah hasil riset yang dihilirisasi dinaikkan menjadi minimal 50. Ia menargetkan Unila dapat menuju world class university pada tahun keempat.
Ia berencana mengoptimalkan aset Unila, diantaranya lahan seluas 150 hektare, klinik spesialis RS Unila, dan pusat riset pertanian. Hasilnya akan diarahkan menjadi pendapatan non-UKT untuk menyejahterakan dosen, mahasiswa, dan tendik. Ia juga menyebut program Smart Campus yang sudah dirintisnya akan dilanjutkan.
Bakal calon nomor urut 6, Prof. Anna Gustina Zainal, membawa visi Unila sebagai ekosistem hilirisasi, inovasi, berdaya saing dunia, dan bermartabat pada budaya. Visi tersebut diturunkan dalam 4 misi, 6 strategi utama, dan 13 program unggulan.
Ia memaparkan bahwa Unila memiliki sekitar 169 guru besar atau 11,7 persen dari total dosen, sedangkan dosen berpendidikan S3 baru 36 persen. Rencana Strategis (Renstra) menargetkan 50 persen dosen bergelar doktor dan 15 sampai 20 persen guru besar pada 2029. Ia berencana menaikkan dana penelitian dan pengabdian demi mengejar target itu, dengan satu dosen mendapat satu penelitian sesuai jabatan fungsionalnya.
Ia juga berencana mengalokasikan anggaran minimal 10 persen dari anggaran universitas. Ia menyebut belum ada universitas di Indonesia yang menerapkannya. Ia juga menjanjikan posko perlindungan bagi dosen, tendik, dan mahasiswa, tidak hanya untuk korban, tetapi juga untuk mencegah kekerasan di dalam kampus.
