Teknokra.co : Kesiapan sumber daya manusia (SDM) muda dan langkah teknis cepat dinilai jadi kunci hadapi krisis lifting migas. Hal itu dibahas dalam Seminar Nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin (Himatem) Universitas Lampung (Unila) di Gedung Serbaguna (GSG) Unila pada Senin, (19/10).
Seminar ini bertemakan “Menghadapi Krisis Lifting Migas: Strategi Inovasi Teknik demi Ketahanan Energi”. Ketua Himatem, I Wayan Adhi Pramana (Teknik Mesin ’24), mengatakan peserta yang hadir sekitar 600 orang, melebihi target panitia sebanyak 500 orang.
Human Resources Practitioner sekaligus Content Creator, Vina Muliana, menyebut empat soft skill yang paling dibutuhkan lulusan muda. Keempatnya adalah kecakapan belajar dan rasa ingin tahu, kecakapan sosial, kecakapan berpikir tingkat tinggi, serta kecakapan memanfaatkan teknologi.
“Itu adalah skill yang katalisator untuk hard skill,” ujarnya.
Menurut Vina, kesenjangan antara teori kampus dan kebutuhan lapangan bukan tugas HR semata. Setiap orang harus memahami kekurangannya, lalu menutupnya lewat up killing. “HR itu cuma bisa memfasilitasi,” ungkapnya.
Ia juga mendorong kampus memperkuat career center agar mahasiswa memahami spesialisasi yang ingin ditekuni. Mahasiswa diminta aktif mencari arah dan tidak menunggu diarahkan. “Karier itu tanggung jawab masing-masing,” jelasnya.
Dari sisi teknis, praktisi industri migas Syaiful Anwar menyebut produksi minyak sulit naik karena sumur sudah tua dan belum ada temuan cadangan baru yang besar. Produksi dalam negeri pun belum cukup, sehingga kebutuhan BBM masih dipenuhi lewat impor. Hambatan lainnya adalah perizinan, modal, dan teknologi.
Menurut Syaiful, ada dua langkah yang paling bisa dilakukan sekarang. Pertama, mengaktifkan kembali sumur yang menganggur lewat perawatan sumur (workover atau well service). Kedua, menekan biaya operasi agar produksi naik tanpa pengeluaran membengkak.
Untuk mahasiswa, Syaiful menyebut langkah paling nyata saat ini adalah berhemat BBM dan mulai beralih ke energi terbarukan. Setelah bekerja, kontribusi mereka bergantung pada bidang masing-masing, dengan intinya pada optimalisasi dan pemanfaatan teknologi.
