Teknokra.co: Kawula17 bersinergi dengan AIESEC in Unila mengadakan program Kawula17 Goes to School di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung sebagai wadah belajar, berkolaborasi, serta menghadirkan dampak sosial secara langsung bagi generasi muda pada Minggu, (11/10).
Ketua Umum AIESEC in Unila yaitu Hendrico, menjelaskan bahwa latar belakang pelaksanaan program ini didorong oleh maraknya konflik politik serta berbagai kepentingan yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memotivasi pihak penyelenggara untuk membuka ruang bagi anak muda agar mampu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai permasalahan.
“Beberapa tahun terakhir itu banyak konflik politik, banyak konflik kepentingan yang terjadi di Indonesia, especially-nya. Dan itu membuat kita semakin terbuka sama semua masalah, untuk anak muda di Indonesia bisa berpikir kritis,” ujarnya.
Hendrico menambahkan, pemilihan sasaran siswa SMA didasari oleh pandangan bahwa para pelajar saat ini merupakan generasi masa depan yang akan menjadi penentu sekaligus pemimpin bangsa dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Oleh karena itu, penanaman pola pikir kritis sangat penting sejak dini.
“Karena selanjutnya mereka ini akan menjadi gen z yang akan memilih pemimpin masa depan, gitu, dan mungkin juga akan menjadi pemimpin masa depan. Makanya anak SMA dalam waktu long-term, dalam waktu singkat, tiga tahun ke depan mereka akan memilih pemimpin yang lagi,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, AIESEC mengusung nilai-nilai kepemimpinan inti, di mana penekanan utama diberikan pada aspek activating leadership dan demonstrating integrity atau kejujuran. Hendrico menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi penting dalam menanamkan jiwa kepemimpinan kepada siapa saja dan di mana saja.
“Jadi activating leadership kita mau menanamkan leadership itu bisa ditanamkan sejak dari manapun dan siapapun, dengan cara salah satunya adalah demonstrating integrity. Jadi menjunjung tinggi integritas, kejujuran dan segala macamnya,” tuturnya.
Untuk memperluas dampak kegiatan, AIESEC in Unila turut menggandeng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung serta melibatkan berbagai unsur pelajar, mulai dari perwakilan pengurus OSIS hingga Forum Pelajar Lampung. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat kemitraan sekaligus memaksimalkan ruang pengembangan ide kreatif para siswa.
“Karena kita objektifnya adalah anak-anak SMA, maka dari itu kami menggaet Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Provinsi Lampung untuk mengajak teman-teman dari beberapa SMA, sekitar ada lima SMA, termasuk dari Himpunan Ketua OSIS dan juga Forum Pelajar Lampung untuk datang,” ungkapnya.
Ketua Pelaksana Kawula 17 Goes to School, Dwi Andini, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis siswa SMA. Menurutnya, di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan, pelajar tetap perlu berpikir kritis, menyuarakan gagasan, dan peka terhadap persoalan di sekitarnya.
“Kita mau anak-anak SMA tetap bisa berpikir kritis, bisa menyuarakan ide-ide yang mereka punya, dan juga aware terhadap masalah yang ada di lingkungan,” ujarnya.
Acara dibuka dengan sambutan Local Head of Partnership AIESEC Unila dan co-founder Kawula, Dian. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan roll dance dan talk show bersama Turun Tangan Lampung serta Walhi Lampung. Peserta kemudian mengerjakan lembar kerja (LK) untuk mengidentifikasi permasalahan di Lampung, menginisiasi gagasan, dan memetakan para pemangku kepentingan. Hasilnya mereka gali lewat wawancara dengan para community partner yang membuka booth, yaitu Walhi Lampung, Bank Sampah Golden, Ruang Pangan, dan Turun Tangan Lampung.
Dwi menyebutkan, sekitar 130 siswa dari berbagai sekolah di Bandar Lampung terdaftar sebagai peserta. Panitia juga mengundang FPL Lampung. Sebanyak 12 mentor mendampingi peserta selama kegiatan.
Dwi berharap peserta dapat berpikir lebih kritis, tidak bergantung pada kecerdasan buatan, dan peduli pada lingkungan sekitar. Panitia juga menginginkan dampak kegiatan tidak berhenti di hari pelaksanaan.
“Harapannya anak-anak ini tetap menjadi agent of change di lingkungannya, bisa menyuarakan ide, dan bersuara kalau ada hal yang salah di lingkungan ini,” tuturnya.
Salah satu peserta dari SMAN 1 Bandar Lampung, Zahwa Noeraisya, mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman pertamanya. Ia menilai ruang bertukar pikiran dengan siswa dari sekolah lain sebagai hal yang paling berkesan.
“Ada sesi diskusi, lalu materi dari kakak-kakak Kawula. Itu membuat kami lebih tahu tentang isu sosial yang terjadi, terutama di Bandar Lampung,” kata Zahwa.
Kelompok Zahwa mendiskusikan minimnya transportasi umum yang terawat. Melalui diskusi kelompok dan tugas yang diberikan panitia, ia memperoleh pemahaman tentang cara menjadi changemaker dan melakukan aksi nyata sebagai pelajar. Zahwa berencana menerapkan kepedulian terhadap lingkungan setelah kegiatan ini.
“Aku akan lebih peduli terhadap lingkungan karena isu yang dipaparkan hari ini tentang lingkungan,” ucapnya.
