PKBI Lampung Dorong Kolaborasi Pemuda untuk Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Foto : Teknokra/Alvira Dwi Fransa
13 dibaca

Teknokra.co : Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung mendorong keterlibatan generasi muda dalam pembangunan berkelanjutan melalui diskusi publik bertema kolaborasi pemuda menuju Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 di Djaya House Caffe & Resto, Rabu (21/10). Kegiatan tersebut membahas pentingnya peran pemuda dalam mendorong pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan.

‎Diskusi Publik ini bertemakan “Pemuda Bergerak untuk Masa Depan Berkelanjutan: Kolaborasi Generasi Muda untuk Lampung yang Inklusif, Digital, Berwawasan Lingkungan, Menjunjung HAM, dan Berkeadilan Menuju SDGs 2030.” Direktur Eksekutif Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung, Muhamad Fajar Santoso menilai keterlibatan generasi muda penting karena mereka akan menjadi pemimpin dalam berbagai sektor pada masa mendatang. Oleh karena itu, kesadaran dan nilai-nilai keadilan sosial perlu dibangun sejak dini agar pemuda mampu mengambil peran dalam mendorong perubahan.

‎“Kenapa harus pemuda? Siapa sih yang akan memimpin generasi kita lima atau sepuluh tahun yang akan datang? Orang muda yang ada pada saat ini,” ujarnya.

‎Fajar menyoroti pentingnya keterwakilan pemuda dalam ruang diskusi dan pengambilan kebijakan, terutama dalam memperjuangkan kebutuhan perempuan muda. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam menentukan arah pembangunan.

‎“Yang harus diperhatikan pemuda, pertama adalah keterwakilan orang muda. Keterwakilan kalian, sudah sejauh mana kalian membangun ruang-ruang diskusi, sejauh mana kalian memengaruhi kebijakan pemerintah,” tuturnya.

‎Ia juga menekankan pentingnya ruang aman bagi perempuan muda agar aspirasi dan kebutuhan mereka mendapat perhatian.

‎”Kalau kalian tidak mempunyai ruang gerak, kalian tidak mempunyai ruang-ruang aman, atau kalian tidak didengarkan, lalu siapa yang mau coba dorong itu?,” jelasnya.

‎Narasumber diskusi, Fritz Akhmad Nuzir selaku Direktur Universitas Bandar Lampung (UBL) Sustainable Development Goals (SDGs) Center menyoroti pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai persoalan sosial dan lingkungan. Menurutnya, generasi muda dapat memanfaatkan platform digital untuk membagikan pengetahuan sehingga semakin banyak masyarakat yang memahami isu-isu tersebut.

‎”Dengan teknologi digital itu, ayo di-share, bantu kita meng-share tentang pengetahuan ini, sehingga itu bisa menjadi suatu kesempatan bersama,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak harus selalu dimulai melalui program berskala besar. Generasi muda dapat memulainya dari lingkungan komunitas masing-masing dengan membangun kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

‎“Mulai dari apa yang kita bisa bangun di komunitas kita, itu juga sudah merupakan bagian dari pembangunan,” ungkapnya.

‎Lebih lanjut, Fritz menekankan bahwa keterlibatan pemuda perlu dilakukan secara konsisten. Menurutnya, penyebaran isu melalui media sosial sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika suatu persoalan menjadi viral, tetapi juga melalui upaya berkelanjutan untuk membangun kesadaran masyarakat.

‎“Jadi bukan ketika ada kasus baru kita viralin. Tapi kita sudah melihat ini ada isu di tempat kita, ada isu di daerah kita, itu kita secara konsisten,” jelasnya.

‎Muhammad Rifai selaku Peserta dan Ketua Umum Moot Court Community (MCC) UIN Raden Intan Lampung menilai diskusi publik tersebut memberikan perspektif baru mengenai pentingnya membangun budaya diskusi di kalangan mahasiswa. Menurutnya, ruang diskusi dapat membantu generasi muda memahami dan mengkaji persoalan sosial maupun lingkungan secara lebih kritis.

‎“Menurut saya, anak muda itu apatis, skeptis, dan kurang adanya diskusi-diskusi. Dari situ saya melihat, perlu diadakan diskusi di setiap kampus untuk mengkaji isu-isu yang ada,” ungkapnya.

‎Rifai menegaskan bahwa keterlibatan pemuda tidak terbatas pada demonstrasi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tulisan dan penyampaian gagasan kepada masyarakat. Menurutnya, gerakan perlu didahului dengan analisis dan diskusi agar langkah yang diambil memiliki dasar yang jelas.

‎“Aksi itu bukan hanya tentang demo. Aksi itu bisa aksi tulisan dan bisa aksi gerakan. Kita analisis, baru kita diskusikan, baru kita aksikan,” pungkasnya.

Exit mobile version