Sampah Berserakan di Parade Unila, Panitia Soroti Kesadaran Peserta Parade

Keadaan UKM Kopma yang sedang membersihkan GSG. Foto : UKM Kopma
35 dibaca

Teknokra.co : Kebersihan menjadi persoalan dalam pelaksanaan Parade Universitas Lampung (Unila) yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unila di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, pada Sabtu (3/10). Sampah berupa botol minuman dan plastik terlihat berserakan di dalam gedung selama kegiatan berlangsung.

Menjawab hal tersebut, Ketua Pelaksana Parade Unila, Prabu Arya (Teknik Mesin ’24) menyampaikan bahwa panitia telah menyiapkan trashbag dan mengimbau peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sampah yang berserakan juga dikumpulkan oleh panitia menggunakan trashbag yang telah disediakan.

“Panitia telah mengimbau untuk tidak membawa minuman botol dan gelas serta sudah dilakukan check-in pengecekan. Tetapi banyak sekali oknum yang membawa dan membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Ia menambahkan perihal panitia yang telah mengantisipasi persoalan kebersihan sebelum kegiatan berlangsung. Peserta dilarang membawa minuman dalam botol maupun gelas dan panitia menyediakan tempat penitipan barang bagi peserta.

“Dari panitia ini sudah mengimbau untuk dilarang membawa minuman botol, gelas, dan sudah dilakukan check-in pengecekan. Kami dari panitia sudah mengupayakan bahwa membawa minuman itu dilarang dan sudah ada tempat penitipan barang,” tambahnya.

Menteri Kesenian, Pemuda, dan Olahraga BEM Unila, Raka Guntur (Teknik Mesin ’23) mengaku prihatin terhadap kondisi sampah yang berserakan. Ia menilai mahasiswa perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Merasa prihatin karena di umur kita sekarang tetapi masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama bagi mahasiswa,” keluhnya.

Ia juga menilai persoalan tersebut berkaitan dengan kepatuhan peserta terhadap aturan serta ketersediaan tempat sampah di GSG. Menurutnya, tempat sampah hanya tersedia di bagian luar gedung sehingga perlu ditambah di sejumlah titik di dalam GSG.

“Peserta dari acara yang ada di GSG kurang patuh. Yang kedua, di setiap sudut-sudut GSG kurangnya kotak sampah, yang mana kotak sampah hanya ada di bagian luar GSG saja,” ujarnya.

Raka menyarankan pihak GSG menambah tempat sampah di dalam gedung. Ia juga menyebut larangan membuang sampah sembarangan telah disampaikan melalui media sosial dan tercantum dalam tanda tangan gubernur di masing-masing fakultas.

“Saran saya, mungkin pihak GSG bisa menambah kotak sampah di dalam GSG. Di sosial media kami telah ada larangan membuang sampah sembarangan,” jelasnya.

Mahasiswa Fakultas Pertanian, Dian Pratiwi (Proteksi Tanaman ’24), menilai jumlah trashbag yang tersedia di GSG masih kurang. Ia melihat sampah berserakan sejak awal hingga akhir kegiatan dan meminta fasilitas serta petugas kebersihan lebih diperhatikan.

“Menurut saya mungkin kurangnya trashbag yang ada di GSG ini, karena dilihat dari awal sampai akhir sampah banyak berserakan dan mungkin perlu diperbanyak trashbagnya,” ujarnya.

Dian juga menilai sebagian peserta masih kurang peduli terhadap sampah yang ditinggalkan, seperti botol minum dan plastik. Ia mengingatkan bahwa kepedulian terhadap kebersihan perlu menjadi bagian dari kesadaran bersama.

“Kurang diperhatikan sebagian orang-orang di sini kurang aware terhadap sampah seperti botol minum, plastik. Saran saya, kita harus lebih aware terhadap lingkungan sendiri karena menjadi bagian dari kita sendiri dalam menjaga kebersihan di lingkungan,” tambahnya.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Darel (Ilmu Komunikasi ’26), menyampaikan bahwa kondisi sampah yang berserakan mengganggu kenyamanan dan membuat lingkungan GSG terlihat tidak nyaman.

“Sampah yang berserakan ini sangat mengganggu penglihatan saya. Yang kedua, kurang nyaman, terutama di lingkungan GSG. Ketiga, sampah yang berserakan membuat lingkungan jadi tidak nyaman,” keluhnya.

Ia menilai kurangnya trashbag dapat menjadi salah satu penyebab sampah berserakan. Namun, ia juga melihat kesadaran masing-masing peserta turut memengaruhi kondisi kebersihan di dalam GSG.

“Bisa jadi sampah berserakan karena kurangnya trash bag, tapi bisa juga karena kesadaran masing-masing orang, yang mana oknum-oknum merasa kurang peduli terhadap sampah,” pungkasnya.

Exit mobile version