Teknokra.co : Konsentris resmi meluncurkan program Journalism Community di Kantor Konsentris, pada Sabtu (26/9). Komunitas ini menjadi wadah belajar, diskusi, dan kolaborasi bagi masyarakat sipil, pers mahasiswa, hingga publik luas untuk memperkuat jurnalisme independen, khususnya di Lampung.
Perwakilan Konsentris, Revina Azzahra, menjelaskan pembentukan Journalism Community berangkat dari keterbatasan skema donasi publik yang selama ini belum cukup menopang kebutuhan operasional dan logistik liputan. Untuk menjaga keberlangsungan jurnalisme independen tanpa bergantung pada pemilik modal maupun kepentingan partai politik, Konsentris menginisiasi wadah berbasis gotong royong dan nilai-nilai koperasi.
“Kami tidak ingin media hanya menjadi penyedia cerita atau sekadar mengabarkan berita A, B, atau C. Fokus kami adalah bagaimana membuat teman-teman berdaya, bergerak bersama, dan berkolaborasi,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa Journalism Community menerapkan skema keanggotaan sebesar Rp35 ribu per individu dan Rp100 ribu per kelompok yang terdiri dari tiga orang. Sebagai timbal balik, anggota memperoleh akses distribusi pengetahuan melalui dua program utama, yakni kelas reguler dan kelas tematik.
“Secara umum kita akan menggelar dua program yaitu kelas reguler yang dilaksanakan dua bulan sekali dan kelas tematik yang disesuaikan dengan kebutuhan teman-teman di lapangan,” tambahnya.
Revina berpendapat, skema tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk dukungan bersama terhadap keberlangsungan jurnalisme lokal. Ia juga berharap Journalism Community dapat diterima dan melibatkan lebih banyak masyarakat dalam kerja-kerja jurnalisme di Lampung.
“Harapan saya Journalism Community ini diterima teman-teman semua, karena kalau bukan kita, siapa lagi yang mendukung kerja-kerja jurnalisme khususnya di provinsi kita,” harapnya.
Dukungan terhadap peluncuran wadah tersebut disampaikan perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Prabowo Pamungkas. Ia menilai keberadaan jurnalisme independen penting dalam menopang Bantuan Hukum Struktural (BHS), sebab persoalan hukum tidak berlangsung di ruang hampa dan turut dipengaruhi kekuatan politik maupun ekonomi.
“Situasi masyarakat kita punya kecenderungan kekurangan informasi, dan kekurangan informasi itu melahirkan ketidaksadaran akan ketertindasan,” ujarnya.
Prabowo juga menyoroti kondisi industri media yang menurutnya masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap modal dan anggaran daerah. Ia menilai Konsentris berupaya mencari model alternatif melalui sistem yang mandiri dan berlandaskan prinsip koperasi.
“Di tengah kebangkrutan industri media mainstream yang bergantung dengan kapital, Konsentris coba mendobrak situasi ini dengan ideal soal berserikat dan menjunjung tinggi prinsip nilai-nilai koperasi sebagai fondasi ekonomi,” jelasnya.
Prabowo berpendapat jurnalisme juga memiliki peran dalam membangun kesadaran publik terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Kesadaran tersebut dinilai dapat memperkuat advokasi dan mendorong perhatian terhadap persoalan hukum maupun hak asasi manusia.
“Tekanan publik dilahirkan dari kesadaran, dan kesadaran itu dilahirkan dari jurnalisme yang berkualitas untuk membangun peradaban demokrasi dan hak asasi manusia yang lebih baik,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Aliansi Pers Mahasiswa Lampung (APML), Andre Sumanto, menyambut hadirnya Journalism Community sebagai ruang belajar bagi pers mahasiswa untuk memperkuat kapasitas jurnalistik. Menurutnya, keberadaan ruang tersebut juga dapat membuka peluang bagi pers mahasiswa untuk memperluas jejaring, mengembangkan teknik investigasi, dan meningkatkan kemampuan analisis dalam menghadapi berbagai isu di dalam maupun di luar kampus.






