Teknokra.co : Kepemimpinan Prof. Lusmeilia Afriani, mengukir sejarah baru bagi Universitas Lampung (Unila). Dilantik sebagai Rektor Unila periode 2023–2027, ia menjadi perempuan pertama yang menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di kampus hijau tersebut. Di tengah tantangan besar mengembalikan kepercayaan publik dan memulihkan marwah institusi, pendekatan kepemimpinan yang humanis, tegas, serta berorientasi pada tata kelola yang bersih menjadi pijakan utamanya.
Teknokra dalam hal ini melakukan wawancara khusus bersama Prof. Lusmeilia di Ruang Rektor Lt. 2 Rektorat Unila pada Rabu (4/9). Prof. Lusmeilia membagikan refleksinya mengenai kepemimpinan perempuan, terobosan akademik, hingga legacy (warisan) yang ingin ia tinggalkan bagi Unila.
Berikut hasil wawancaranya :
Sebagai rektor perempuan pertama dalam sejarah Unila, bagaimana kesan dan pengalaman emosional Ibu selama menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di kampus ini?
Memimpin Universitas Lampung itu adalah sebuah amanah sebenarnya, ya baik laki-laki maupun perempuan itu sama saja tapi ini adalah merupakan amanah yang diberikan Allah kepada kita. Ini adalah tanggung jawab dan moral besar bagi saya dimana saya harus menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya dan sesungguh-sungguhnya dan tentu dengan rasa bangga juga.
Sebenarnya sebelumnya kan saya juga pernah jadi Wakil Dekan I dan pernah jadi Dekan. Jadi pengalaman inilah semakin mendekatkan bahwa ketika diberi ruang dan kepercayaan yang setara dengan laki-laki, dan perempuan itu mampu untuk melaksanakan apa yang diberi tugas dengan sebaik-baiknya
Kepemimpinan perempuan sering diidentikkan dengan pendekatan yang lebih persuasif dan humanis. Bagaimana Ibu menerjemahkan hal tersebut dalam proses pengambilan keputusan strategis di Unila?
Latar belakang saya dari teknik sipil. Saya belajar pondasi, belajar struktur. Pondasi itulah yang harus ditanamkan, yang harus kuat bagi civitas academica. Dan pondasi itu sebenernya sudah tumbuh dari pertama kali saya belajar. Pendekatan persuasif atau humanis itu bukan berarti lunak terhadap orang gitu ya, tapi bagaimana cara saya itu menghadapi sesuatu yang sangat keras tetapi itu bisa kita hadapi dengan tenang bisa kita hadapi dengan sabar.
Dunia akademis dan birokrasi perguruan tinggi kerap dipenuhi budaya patriarki. Apakah Ibu pernah menghadapi stereotip tertentu terkait gender, dan bagaimana cara Ibu membuktikannya lewat kinerja?
Saya sekolah di Perancis S2 dan S3 hampir semuanya itu di lingkungan saya itu memang laki-laki. Dengan adanya seperti itu, artinya saya sudah bisa memahamin dan bisa bekerja dengan semua orang, laki-laki maupun perempuan. Wanita itu punya kelebihan bisa bekerja Dalam 5 kegiatan bersamaan, dan itu tidak bisa dilakukan oleh laki-laki. Saya bisa bekerja dalam beberapa sistem, karena itu mungkin salah satu juga kelebihan daripada seorang wanita
Selama masa kepemimpinan Ibu, prestasi apa yang paling membanggakan bagi Unila, baik di tingkat nasional maupun internasional?
Kan baru 3 tahun terjadi di Unila istilahnya masa lalu yang kalau saya sendiri merasakan. Itu saya diberi amanah sebagai Rektor, otomatis saya harus membangkitkan kembali dan membersihkan nama baik Universitas Lampung di kancah nasional maupun internasional. Dan mungkin tidak sampai setengah tahun saya memimpin berubah menjadi terakreditasi unggul kemudian langsung dipersiapkan untuk bisa masuk ke ranking dunia, world class university“
Hampir semua program studi kita sudah 60% terakreditasi unggul. Dari satu program studi, sekarang ada 30 program studi terakreditasi internasional dan program saya yang sangat membanggakan adalah Kelulusan Tepat Waktu (KTW). Jadi kita merasakan bahwa tidak ada lagi mahasiswa yang lulus lama-lama tapi tidak meninggalkan kualitas juga
Unila memiliki potensi SDM yang sangat besar, termasuk akademisi dan mahasiswa perempuan. Modal sosial dan institusional apa yang Ibu optimalkan untuk membawa Unila menuju World Class University
Unila kan memiliki modal sosial yang kuat. Jadi tradisi akademik yang terus bertumbuh, daya kritis mahasiswa yang kita tumbuhkan. Serta kepakaran para peneliti, para dosen. Akselerasi untuk menuju world class university dengan memfokuskan pada pembenahan ekosistem riset dan percepatan guru besar serta penguatan mobilitas secara internasional ya, baik dosen maupun mahasiswa. Sehingga kita mengintegrasikan potensi riset dengan kebutuhan daerah dan tantangan global. Jadi memang disitu kita sesuaikan dengan kebutuhan daerah kita
Bagaimana Ibu melihat keterlibatan perempuan dalam posisi-posisi strategis (Dekan, Kepala lembaga, Dosen) di Unila saat ini? Apakah ada kebijakan khusus untuk mendorong ruang aman dan kesetaraan bagi civitas akademika perempuan?
Keterlibatan pimpinan, baik di jajaran manajerial universitas, fakultas, sampai ke unit. Memang saat ini lagi menunjukkan trend positif. Intinya boleh saja, laki-laki, perempuan, boleh tetap berkarir dengan batas-batasan koridor yang tentu dengan persaingan sehat.
Semuanya tidak dibatasi oleh masalah gender, ya. Dan Unila juga berkomitmen penuh menghadirkan lingkungan kampus yang strategis, yang aman, dan juga bebas dari perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi
Melalui media pers mahasiswa Teknokra, pesan atau dorongan apa yang ingin Ibu sampaikan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswi yang bercita-cita menjadi pemimpin di masa depan?
Tetap bekerja dengan koridor yang sudah ada kemudian apapun, dimanapun harus tetap bekerja sebaik-baiknya jangan memikirkan bahwa pekerjaan itu akan mendapatkan uang yang banyak tetapi yang terpenting adalah prestise kita. Kita bisa melakukan prestise, terus kemudian kita bekerja sebaik-baiknya maka uang akan mengikuti. Jadilah pembelajar yang konsisten kepada prinsip, berani mengambil peran, dan selantiasa berorientasi pada kemaslahatan masyarakat banyak. Dan harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan
Di akhir masa menjadi rektor nanti, legacy atau warisan kepemimpinan seperti apa yang ingin Ibu tinggalkan bagi Universitas Lampung?
Pertama Bangunan di Universitas Lampung, kita sudah punya RSPTN yang sudah berapa tahun kita berharap-harap ternyata alhamdulillah dengan kebersamaan, keberanian, dengan kerja keras kita semua ini terasa melah tersay untuk RSPTN karena itu jadi legacy buat saya. Yang kedua Saya membangun kembali ke marwah daripada Universitas Lampung ini untuk kalian bisa tampil di tingkat nasional maupun internasional.
Membawa Unila masuk ke peringkatan dunia. Selain itu budaya institusi yang adil, transparan, dan saling menghargai etika akademik yang baik. Ini adalah berupakan fondasi yang kuat untuk bisa ditinggalkan dan bisa diteruskan untuk rektor yang akan datang
Catatan redaksi : tulisan ini akan dimuat di Majalah Teknokra edisi 225.






