Workshop Bina Talenta 2026 : Fondasi Pendidikan Daerah 3T Belum Selesai

2 dibaca

Teknokra.co: Dalam Workshop Bina Talenta yang mengangkat tema “Menumbuhkan Karakter Unggul dan Semangat Kompetitif Melalui Kolaborasi Riset dan Pengabdian Untuk Mewujudkan Talenta Indonesia Emas 2045” membawa salah satu isu mengenai kebijakan dan pemerataan pendidikan dari kesenjangan sebagai kampus berdampak terutama untuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Acara ini dilaksanakan di gedung D 3.1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), pada Sabtu (19/9).

Prof. Junaidi Khotib selaku Sekretaris Direktorat Jenderal (Dirjen) Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyampaikan bahwa mahasiswa dan akademisi merupakan agent dalam transformasi di mana data karya ilmiah, riset dan inovasi digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat.

“Kita sebagai agent dalam transformasi. Sehingga kalau kita lihat ada karya ilmiah, ada inovasi, ada riset, ada masyarakat sebagai pengguna, kita yang melakukan pendebatan atau bridging di sana. Bukti atau evidence dan data ini bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Ia menganggap bahwa struktur sosial yang berbeda tidak bisa diterapkan dengan sistem yang sama. Sehingga untuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) harus ada percepatan kebijakan dari kementrian untuk afirmasi, pendampingan dan pelatihan.

“Makanya kita tidak akan bisa melihat suatu struktur sosial yang berbeda kita terangkan dengan sistem yang sama. Sehingga untuk daerah-daerah 3T harus ada kebijakan dari Kementerian agar bisa lakukan percepatan untuk afirmasi, pendampingan dan pelatihan,” ungkapnya.

Violin Kirania (Hubungan Internasional’24) menganggap bahwa peran Agent untuk menjembatani masyarakat tidak mudah karena mayoritas penduduk di wilayah terpencil masih kurang peduli terhadap pendidikan dan dianggap belum menjadi kebutuhan utama.

“Menjembatani ke masyarakat itu sebenarnya tidak mudah karna masih banyak masyarakat di wilayah terpencil mayoritas kurang peduli terhadap pendidikan dan bukan dianggap kebutuhan utama. Mereka kurang tertarik sama hal-hal pendidikan,” ucapnya.

Ia merasa bahwa tenaga pengajar yang berpengalaman di daerah terpencil masih sangat kurang. Hal ini dikarenakan susahnya akses jalan ke desa-desa, sehingga pemerataan harus dimulai dari infrastruktur untuk bisa mencapai pemerataan pendidikan.

“Sekolah-sekolah butuh guru dan rata-rata mereka masih guru honorer, jadi guru yg expert itu kurang karna akses ke desa masih susah, secara tidak langsung pembelajarannya jadi tidak merata. Jadi pemerataan harus dari infrastruktur dulu baru bisa ke pemerataan pendidikan,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 3 =