UKPM Teknokra Rawat Jurnalisme Kritis Melalui Webinar Nasional 2026

Foto : Teknokra/ Alfian Wardana
3 dibaca

Teknokra.co : Unit kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) menggelar Webinar Nasional 2026 dengan tema “Jurnalisme Kritis di Era Digital: Menjaga Akuntabilitas dan Suara Publik”, melalui platform Zoom Meeting pada Minggu (1/11). Webinar ini mengundang dua pembicara nasional yakni Eva Danayanti selaku Country Manager International Media Support (IMS) dan Hersubeno Arief selaku Jurnalis Senior dan Praktisi Media.

Alfian Wardana (Arsitektur ’23) selaku Pemimpin Umum Teknokra menjelaskan, latar belakang diadakannya webinar ini berangkat dari keprihatinan atas disrupsi informasi di era digital yang berjalan sangat bising dan masif, namun tidak diiringi dengan budaya saring informasi yang matang di tengah masyarakat.

“Bahwasanya pada era digital sekarang ini, arus informasi itu menjadi sangat bising sekali. Pertukaran informasi di dunia digital itu sangat tinggi, namun tingginya pertukaran informasi ini tidak seiringan dengan budaya untuk menyaring dan memfilter bagaimana informasi ini apakah benar atau tidak,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pers mahasiswa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk hadir merawat ruang-ruang publik di tengah gempuran informasi yang serba instan.

“Teknokra sebagai salah satu pers mahasiswa tertua di Lampung juga melihat bahwa pers ini punya tanggung jawab untuk hadir dalam merawat ruang-ruang publik tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, Dedy Hermawan selaku Dewan Pembina UKPM Teknokra turut mengapresiasi langkah progresif para pengurus Teknokra yang konsisten merawat tradisi intelektual melalui penyelenggaraan forum nasional ini.

“Kami sebagai dewan pembina sangat bangga dan memberi apresiasi buat teman-teman Teknokra yang sudah menggelar kegiatan nasional. Sebuah upaya atau ikhtiar yang sangat baik bagi para mahasiswa untuk terus belajar, berdiskusi, dan juga berpikir kritis untuk merespon persoalan-persoalan yang tengah dihadapi oleh bangsa dan negara kita,” ungkapnya.

Dalam sesi materinya, Hersubeno Arief menekankan bahwa doktrin utama seorang jurnalis bukanlah menyenangkan penguasa, melainkan menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen.

“Tugas wartawan itu bukan menjilat para penguasa atau menyenangkan para penguasa, tetapi dia harus bersikap kritis terhadap mereka yang sedang berkuasa. Kalau anda membuat berita yang isinya cuman memuji-muji pemerintah, itu ya anda jadi humas saja jangan jadi wartawan, karena tugas utama wartawan itu adalah menjadi watchdog demokrasi,” tegasnya.

Senada dengan Hersubeno, Eva Danayanti dalam pemaparannya menambahkan bahwa di tengah dominasi algoritma dan lanskap media yang terus bergeser, integritas serta sentuhan manusia (human touch) dalam proses verifikasi fakta tidak akan pernah bisa tergantikan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

“Meskipun ada teknologi dan AI, tetap human touch-nya masih sangat dibutuhkan. Untuk menguji klaim dan bukti dalam verifikasi, empati ketika harus melindungi pihak yang rentan, serta akuntabilitas dalam melakukan koreksi kesalahan secara terbuka, itu semua tidak bisa diotomatisasi sepenuhnya oleh AI,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − five =