AIESEC in Unila Hadirkan Dunia ke Sekolah: Budaya, Lagu, dan Permainan Mancanegara Bikin Siswa Terpukau

Foto : Rilis/ AIESEC In Unila
11 dibaca

Teknokra.co : Bayangkan duduk di kelas di Lampung, lalu belajar langsung tentang tradisi, bahasa, musik, dan permainan dari negara lain bersama orang yang benar-benar berasal dari sana. Pengalaman itulah yang dirasakan siswa Tunas Mekar Indonesia School melalui sesi Global Spot, bagian dari program Global Volunteer: Global Classroom yang diselenggarakan AIESEC in Unila pada 1–29 Agustus 2026.

Global Spot adalah sesi pembelajaran lintas budaya tempat relawan global memperkenalkan berbagai aspek negara asal mereka, seperti budaya, tradisi, bahasa, musik, permainan, dan kehidupan sehari-hari. Berbeda dari pelajaran formal, sesi ini dikemas lebih santai dan interaktif, sehingga siswa dapat belajar langsung dari relawan internasional.

Selama program, dua sesi Global Spot digelar di sekolah. Sesi pertama berlangsung pada pekan kedua, bersamaan dengan rangkaian pembelajaran di kelas. Sesi kedua dilaksanakan pada pekan ketiga untuk memperluas wawasan siswa lewat kegiatan yang dipandu relawan, termasuk berbagi budaya, aktivitas bahasa, permainan, bercerita, dan kegiatan interaktif lainnya.

Bagi banyak anak, bahasa asing sering terasa menakutkan jika hanya muncul dalam bentuk soal dan hafalan. Dalam Global Spot, bahasa hadir lewat percakapan, cerita, dan permainan. Siswa dapat mendengar langsung cara relawan berbicara, mencoba kata-kata baru, dan berlatih berkomunikasi dalam suasana yang menyenangkan.

Pendekatan ini sejalan dengan salah satu tujuan program, yaitu meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Di saat yang sama, kegiatan ini membantu siswa menghubungkan pelajaran di kelas dengan dunia nyata.

Menurut Clarisa Andhika Ramadhanti dari tim Project Executive, banyak anak menyukai relawan yang hadir dan belajar tentang keberagaman budaya dari mereka. Syifa Malka Qulubana dari tim CXQC menilai kepribadian relawan membantu membuat pembelajaran lintas budaya lebih menarik dan menyenangkan, serta membuka kesempatan belajar bagi kedua belah pihak.

Nurul Faiza Rahmawati dari tim IRM menyampaikan bahwa relawan menikmati berbagi tentang perbedaan budaya dengan anak-anak, sehingga proses belajar terasa menarik. Putri Dwi Andini Ray juga mengamati bahwa kedekatan itu bahkan terbawa ke luar sekolah, ketika anak-anak di sekitar ikut menghampiri dan berinteraksi dengan relawan.

Global Spot menjadi pelengkap kegiatan utama program. Pada 10–13 dan 17–20 Agustus 2026, relawan mendampingi guru dalam kelas bahasa Inggris dan/atau matematika, dengan sekitar 30 siswa hadir pada setiap kunjungan kelas. Fokus program tetap pada penguatan literasi dan numerasi, serta pengenalan tema SDGs yang dipilih bersama guru.

Dengan demikian, Global Spot bukan sekadar hiburan. Sesi ini membantu menumbuhkan perspektif siswa dalam lingkungan belajar interkultural, sesuatu yang sulit diperoleh hanya dari buku pelajaran.

Pertukaran budaya dalam program ini tidak hanya menguntungkan siswa. Relawan global pun belajar mengenal Lampung dan Indonesia. Matteo Savoye Magnan, relawan berusia 19 tahun, menggambarkan pengalamannya sebagai perjalanan penuh penemuan menarik, kegiatan seru bersama relawan lain, dan momen tak terlupakan saat menjelajahi Lampung.

Karena itulah Global Spot dirancang sebagai ruang berbagi, bukan sekadar presentasi. Anak-anak bertanya, mencoba, dan bermain, sementara relawan mendengar, menjelaskan, dan menyesuaikan diri dengan cara belajar siswa.

Keberhasilan sesi ini tidak lepas dari kerja sama pihak TMI dan tim AIESEC in Unila. Sebelum sesi berlangsung, relawan menjalani onboarding dan mempersiapkan materi bersama. Setelahnya, pertemuan evaluasi dengan perwakilan sekolah, termasuk Bi-Weekly Partner Debrief pada 14 Agustus 2026, digunakan untuk meninjau jalannya kegiatan dan menyesuaikan langkah berikutnya.

Melalui Global Spot, AIESEC in Unila ingin menunjukkan bahwa pembelajaran global tidak harus menunggu seseorang pergi ke luar negeri. Kadang, dunia bisa datang ke dalam kelas, membawa cerita, lagu, dan permainan yang menumbuhkan rasa ingin tahu serta penghargaan terhadap perbedaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + eleven =