ALM Soroti Dugaan Kekerasan Aparat Saat Aksi Demo

Foto : Teknoka/ Marsev Mario Alexander
10 dibaca

​Teknokra.co : Aliansi Lampung Melawan melangsungkan aksi demonstrasi bertajuk “Rapot Merah Kabinet Prabowo-Gibran” di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung, pada Selasa (27/10). Aksi tersebut dipenuhi dorong-dorongan antara massa aksi dengan aparat kepolisian.

Situasi mulai memanas ketika sejumlah mahasiswa mencoba masuk ke area pelataran hingga menuju tangga Gedung DPRD Lampung. Aparat kepolisian kemudian melakukan penghalangan dan mendorong massa untuk mundur.

Marco selaku korban aksi demo, mengatakan sempat terjadi penahanan dan penghalangan dari aparat kepolisian ketika mahasiswa mencoba masuk ke area tersebut.

“Teman-teman mahasiswa mau coba masuk, menerobos masuk ke pelataran gedung DPR, ke tangga gedung DPR, tapi sempat ada penahanan, penghalangan dari aparat kepolisian,” ujarnya.

Situasi kemudian mulai memanas dan terjadi aksi saling dorong antara massa dan aparat.

“Tapi sempat ada bentrokan juga, sehingga aparat kepolisian mendorong-mundur teman-teman mahasiswa,” katanya.

Di tengah aksi saling dorong tersebut, Marco mengaku dirinya ditarik oleh salah satu anggota kepolisian ke arah barisan aparat. Ia menilai tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja.

“Di tengah-tengah pendorongan dari pihak kepolisian, teman-teman aparat kepolisian mencoba untuk menarik saya untuk masuk ke dalam barisan mereka,” ujarnya.

Marco menganggap bahwa aksi penarikan dari aparat dilakukan dengan sengaja sebab aba-aba dari kepolisian meminta untuk mendorong-mundur untuk menahan massa aksi.

Foto : Istimewa

“Sengaja pasti, gak mungkin ada aparat kepolisian yang coba untuk narik, sedangkan aba-abanya adalah pendorongan untuk memukul-mundur teman-teman mahasiswa. Kenapa dia narik saya?” katanya.

Marco juga mengatakan dirinya sempat mendapat tarikan hingga cakaran di bagian dada. Ia mengaku belum menerima permintaan maaf dari pihak kepolisian setelah kejadian tersebut.

“Gak ada,” jawab Marco ketika ditanya mengenai adanya permintaan maaf dari pihak yang melakukan tindakan tersebut.

Kafa Julian selaku korban saat aksi juga mengaku mengalami tindakan kekerasan oleh aparat saat berada di bagian depan massa. Dari kesaksian, dirinya sempat didorong sampai tertimpa tameng aparat dan diinjak-injak.

“Ya itu tadi saya di depan, didorong-dorong. Pas itu saya ditimpa pakai tameng. Lalu diinjek-injek sama polisinya itu,” kata Kafa.

Kafa menilai tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja karena dirinya mendapat kekerasan ketika berada di tengah situasi panas tersebut.

“Sengaja itu bang,” ujarnya.

Sementara itu, Fairuz selaku saksi demo menceritakan kejadian yang dialami salah satu temannya. Menurutnya, temannya sempat terjatuh setelah diinjak oleh aparat yang kemudian tertimpa oleh massa aksi lainnya.

“Dia ini diinjek sama polisi pakai dua kaki. Jatuh. Habis itu dari polisi yang dorong juga, massa yang di depannya itu nimpah dia, tiga orang di atasnya,” ujar Fairuz.

Ia juga menilai tindakan tersebut bukan sekadar tidak sengaja karena posisi temannya saat itu sudah berada di bawah.

“Kalau emang polisinya gak mau nginjek, itu kan pasti tau nih ada orang. Pasti kakinya gini dong. Nah ini beneran di badannya, gitu loh,” ujar Fairuz.

Selain korban yang mengalami tindakan fisik, Fairuz juga mengungkap bahwa korban aksi lainnya mengalami kerusakan dua telepon genggam dalam kejadian tersebut.

“Korban dua HP rusak,” katanya.

Jimmy selaku salah satu massa aksi mengatakan mahasiswa sempat meminta oknum yang diduga melakukan tindakan represif untuk meminta maaf dan pertanggungjawaban atas kejadian yang dialami kepada korban.

“Pertama kali ada tindakan represif dari kepolisian, kawan-kawan mahasiswa sudah minta secara personal oknum yang melakukan untuk meminta maaf kepada korban yang dilakukan represif,” ujarnya.

Menurut Jimmy, permintaan tersebut belum mendapat kejelasan. Ia mengatakan oknum yang disebut tidak melakukan tindakan untuk muncul dan memberikan penjelasan atau permintaan maaf.

“Tapi gak ada kejelasan lebih lanjut dan gak menunjukkan dirinya,” katanya.

Jimmy menganggap kondisi tersebut justru membuat suasana aksi semakin panas.

“Dengan sikap mereka membiarkan tanpa adanya permintaan maaf dan lain-lain malah membuat kemarahan di aksi massa dan akhirnya yang ujung-ujungnya kita lihat tadi makin banyak korbannya, makin nambah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 10 =