DPM Unila Adakan Sekolah Legislatif Tahun 2026

Foto : DPM U KBM Unila
8 dibaca

Teknokra.co : Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Lampung (Unila) mengadakan Sekolah Legislatif di Gedung D Fakultas Hukum (FH) Unila pada Sabtu (24/10). Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk memahami fungsi lembaga legislatif, mulai dari sejarah, praktik kelembagaan, hingga proses penyerapan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan.

Ketua Pelaksana Sekolah Legislatif, M. Semario Ibrahim Habib Al Huda, mengatakan kegiatan ini telah dilaksanakan secara rutin selama empat tahun terakhir. Sekolah Legislatif juga menjadi program utama atau program puncak dari kepengurusan dalam suatu periode di DPM Unila.

“Di antara bulan 11 kebelakang Itu DPM melaksanakan program-program tertentu. Namun, puncaknya adalah sekolah legislatif,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini diadakan karena informasi mengenai lembaga legislatif belum tentu diterima secara merata oleh seluruh mahasiswa.

“Karena meskipun kami berjalan dalam satu periode dalam satu tahun, tidak semua mahasiswa menerima informasi yang sama. Sehingga kami adakan forum seperti ini, untuk mereka yang ingin informasi tersebut datang ke sini,” jelasnya.

Al Huda mengatakan materi yang diberikan tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik pelaksanaan fungsi legislatif. Peserta diajak memahami bagaimana aspirasi masyarakat diserap, dipertimbangkan, lalu jadi bahan penyusun kebijakan.

Agar dapat memberikan pemahaman dari berbagai sudut pandang, panitia menghadirkan tiga pemateri, satu kalangan akademisi dan dua lainnya anggota DPRD Kota Bandar Lampung.

Dari kalangan akademisi, Zulkarnain Ridlwan menyampaikan materi mengenai teori sejarah legislatif. Sementara itu, Wakil I DPRD Kota Bandar Lampung, Sidik Effendi membahas praktik kelembagaan. Adapun anggota Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung, Rizaldi Adrian membawakan materi mengenai penyerapan aspirasi masyarakat dan proses penentuannya menjadi kebijakan.

Al Huda menjelaskan, kehadiran pemateri dari kalangan praktisi diperlukan agar peserta tidak hanya memahami legislatif melalui teori.

“Kami juga butuh pandangan dari anggota legislatif sebagai mereka praktisi yang menjalani fungsi legislatif itu sendiri,” katanya.

Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong peserta untuk membangun pemikiran sendiri dan memahami perbedaan pandangan dalam melihat persoalan.

“Kami harap mereka itu mau untuk memproduksi pikiran sendiri. Yang kedua, kami harap mereka mampu untuk menerima dan memahami banyak pandangan. Jadi, tidak hanya menganggap kehidupan, dunia, negara itu hanya hitam atau putih, bahwa ada warna lain yang harus mereka pahami,” jelasnya.

Sekolah Legislatif ini terbuka bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi serta masyarakat umum. Sejumlah peserta yang hadir berasal dari Institut Teknologi Sumatera, Universitas Islam Negeri, Universitas Malahayati, dan perguruan tinggi lainnya di Bandar Lampung.

Salah satu peserta, Pisa, mahasiswa FH, menilai materi yang disampaikan cukup menarik, terutama karena panitia menghadirkan anggota DPRD untuk menjelaskan praktik kerja lembaga legislatif.

“Menurut aku cukup bagus sih. Bahkan mereka juga sampai ngundang anggota DPRD. Itu lumayan keren sih menurut aku,” ujarnya.

Pisa mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai komisi-komisi di DPRD setelah mengikuti pemaparan materi. Pisa berharap Sekolah Legislatif dapat diikuti lebih banyak mahasiswa, baik dari Fakultas Hukum maupun fakultas lain. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menambah wawasan di luar jam perkuliahan.

“Menurut aku itu worth it banget loh kalau mau datang. Bisa nambah wawasan sekaligus dapat sertifikat juga,” ucapnya.

Peserta lainnya, Talitha, mahasiswa Fakultas Hukum, menilai materi yang disampaikan dalam Sekolah Legislatif cukup baik, terutama untuk mahasiswa yang baru mempelajari dasar-dasar ilmu hukum.

“Materinya tadi bagus ya. Dia nyampaikan tentang kalau negara itu memang harus dibagi kekuasaannya. Untuk anak hukum yang baru, itu salah satu materi dasar,” ujar Talitha.

Talitha berharap Sekolah Legislatif bisa menjadi pijakan awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih jauh ilmu yang mereka pelajari.

“Mungkin bisa untuk lebih menambah ilmu lagi, sebagai pijakan pertama juga untuk yang masih maba, yang masih belum tahu maksud dari Fakultas Hukum,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 − three =