Teknokra.co: Aliansi Mahasiswa Lampung Bersatu akan melangsungkan aksi September Hitam di Kantor Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Lampung, pada Jumat (18/9). Namun, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila) menarik diri dari aksi tersebut.
Ketua BEM Unila, Aditiya Putra Bayu (Teknik Sipil ’22) ia mengatakan bahwa keputusan itu diambil setelah pihaknya menemukan perbedaan antara hasil konsolidasi dengan tuntutan yang dibawa dalam aksi.
”Unila tarik badan terkait aksi besok, tidak ikut karena ada hal yang tidak ideal. Pada saat konsolidasi kita menyimpulkan 15 poin tuntutan, tetapi yang keluar hanya 14 poin tuntutan,” ungkap.
Menurut Aditiya, dalam konsolidasi awal disepakati 15 poin tuntutan. Tetapi, dalam daftar tuntutan yang beredar hanya terdapat 14 poin. Poin yang hilang tersebut adalah mengenai usut tuntas kasus kecelakaan di ZA Pagar Alam yang melibatkan oknum Polri.
Adapun terdapat 14 tuntutan yang dituntut dalam aksi tersebut yaitu:
1. Jamin air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan
2. Audit total pelayanan kesehatan
3. Maksimalkan transportasi umum di Lampung
4. Optimalisasi pemeliharaan jalan di Lampung
5. Tindak tegas kendaraan ODOL
6. Optimalisasi penerangan jalan
7. Evaluasi total tarif tol di Lampung
8. Hadirkan bursa pangan
9. Sediakan ruang usaha bagi UMKM
10. Wujudkan reformasi agraria untuk rakyat
11. Benahi total pengelolaan sampah
12. Usut tuntas tambang ilegal Way Kanan
13. Berantas mafia solar bersubsidi
14. Tindak lanjut kasus KIP UIN RIL
Selain BEM Unila, beberapa kampus besar di Lampung juga menginformasikan absen dalam aksi ini. Berdasarkan informasi yang dihimpun kru Teknokra, BEM UIN Raden Intan Lampung (RIL) tidak dapat berpartisipasi karena kepengurusan sedang tidak aktif. Sementara itu, BEM FISIP Universitas Bandar Lampung (UBL) juga menyatakan tidak ikut serta.






