Di Tengah Tekanan Kepentingan, Independensi Jurnalisme Dipertanyakan

Foto : Tenokra/ Mahardika Faris Putra Abelva
38 dibaca

Teknokra.co: Independensi menjadi tantangan bagi jurnalis di tengah tekanan modal, kepentingan politik, serta persoalan kepercayaan publik terhadap media. Kondisi tersebut mendorong munculnya ruang belajar dan kolaborasi antar media pers, seperti yang dipaparkan dalam acara Launching Program Journalism Community dan Diskusi Publik yang diselenggarakan Konsentris di Kantor Konsentris, pada Sabtu (26/9).

Hendry selaku pemantik diskusi dari Konsentris menjelaskan keterlibatan publik diperlukan untuk menjaga jurnalisme tetap berada pada jalurnya dalam melayani kepentingan publik. Menurutnya, jurnalisme tidak hanya menjadi tanggung jawab media dan jurnalis, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat.

“Siapa yang bertanggung jawab membuat jurnalisme tetap hidup dan independen? Apakah hanya media dan jurnalis, atau menjadi tanggung jawab publik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme?” ujarnya.

Ia menyampaikan, keterlibatan publik menjadi penting ketika jurnalisme berhadapan dengan kepentingan politik dan pemerintah. Menurutnya, hubungan yang terlalu dekat dengan kepentingan tersebut dapat membuat jurnalisme bergeser dari kepentingan publik.

“Kalau jurnalisme berkaitan dengan politik dan pemerintah, itu bisa bergeser dari pentingnya jurnalisme yang berpihak kepada kepentingan publik,” ujarnya.

Hendry mengungkapkan bahwa Konsentris berupaya mendistribusikan pengetahuan sekaligus melibatkan masyarakat dalam kolaborasi yang membahas jurnalisme, advokasi, dan demokrasi. Program tersebut juga menjadi ruang bagi peserta untuk ikut terlibat dalam pengembangan jurnalisme independen.

“Konsentris akan mendistribusikan pengetahuannya dan melibatkan teman-teman untuk ikut berkolaborasi,” ungkapnya.

Independensi juga menjadi persoalan dalam kerja pers mahasiswa. Andre Sumanto dari Aliansi Pers Mahasiswa Lampung (APML) menjelaskan bahwa jurnalisme memiliki fungsi kontrol sosial untuk mengawasi kebijakan maupun peristiwa yang merugikan masyarakat.

“Jurnalisme itu memiliki fungsi sebagai kontrol sosial, bagaimana kita mengontrol atau mengawasi kebijakan atau kejadian yang merugikan suatu pihak,” ujarnya.

Andre berpendapat bahwa pers mahasiswa masih menghadapi tantangan berupa kurangnya kepekaan terhadap isu. Ketidakpekaan tersebut dapat membuat persoalan yang terjadi di lingkungan kampus maupun masyarakat tidak mendapat perhatian melalui kerja jurnalistik.

“Sebagai pers mahasiswa, kita terkadang kurang peka. Ketidakpekaan itu membuat suatu permasalahan tidak disoroti atau diperhatikan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kedekatan pers mahasiswa dengan organisasi atau kelompok tertentu yang berpotensi memengaruhi independensi kerja jurnalistik. Menurutnya, pers mahasiswa perlu memahami fungsi pers dan batasan dalam menjalankan kerja jurnalistik agar tidak bekerja untuk kepentingan kelompok tertentu.

“Jangan sampai kerja-kerja jurnalistik dilakukan untuk kepentingan organisasi atau pihak tertentu, bukan untuk kepentingan publik,” ujarnya.

Andre menilai perkembangan citizen journalism juga perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai prinsip jurnalistik. Menurutnya, kemampuan menyampaikan informasi harus disertai proses verifikasi dan pemahaman mengenai independensi.

“Jurnalis profesional atau pers mahasiswa yang sudah mendapatkan ilmu jurnalistik seharusnya memahami bahwa independensi itu penting,” katanya.

Untuk memperkuat independensi, Lembaga Pers Mahasiswa di Lampung mendorong sosialisasi dan edukasi. Menurutnya, edukasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menulis, tetapi juga menyangkut sikap media, tanggung jawab, kredibilitas, dan independensi.

“Yang pertama dengan adanya sosialisasi atau edukasi mengenai pentingnya independensi dalam bermedia,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − nine =