Teknokra.co: Penggunaan bom asap dalam Parade Universitas Lampung (Unila) 2026 di Gedung Serba Guna (GSG) Unila pada Sabtu (3/10), menimbulkan persoalan terkait sistem keamanan kegiatan. Akibatnya, kegiatan Parade Unila sempat tertunda setelah panitia mengevakuasi sejumlah peserta yang terdampak asap.
Panitia mengaku telah melakukan pemeriksaan terhadap peserta sebelum kegiatan berlangsung. Namun, bom asap tetap berhasil dibawa masuk ke area parade.
Raka Guntur (Teknik Mesin’23) Menteri Kespora Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unila mengungkapkan bahwa panitia telah berupaya melakukan pemeriksaan atau body checking terhadap peserta sebelum memasuki area kegiatan. Meski demikian, bom asap masih dapat dibawa masuk oleh sejumlah peserta.
“Dari panitia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan body checking. Namun, bom asap tetap berhasil dibawa masuk oleh sejumlah peserta,” ungkapnya.
Setelah bom asap dinyalakan, massa yang diduga membawa benda tersebut langsung diarahkan keluar dari area kegiatan. Sementara itu, peserta yang terdampak asap dievakuasi ke ruang kesehatan.
“Saat bom asap digunakan, massa dari pihak yang memegang bom asap langsung kami arahkan keluar dari area kegiatan. Untuk peserta yang terdampak, kami juga langsung memindahkan mereka ke ruang kesehatan,” tambahnya.
Raka menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan presidium dan pimpinan fakultas untuk membahas tindak lanjut atas kejadian tersebut, termasuk kemungkinan pemberian sanksi kepada pihak yang terlibat.
“Saya bakal berkoordinasi terhadap presidium, bagaimana ke depannya terhadap pimpinan-pimpinan fakultas, dan juga sanksi apa yang pantas,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Mikah Jenita( Humas ’25), mengaku mengalami kesulitan bernapas akibat kepulan asap yang memenuhi ruangan GSG. Kondisi tersebut semakin terasa lantaran suasana di tribun panas dan gerah akibat jumlah peserta yang dinilai melebihi kapasitas.
“Saya jadi tidak nyaman bernapas di ruangan yang tertutup dengan kepulan bom asap yang sulit mereda dan sulit menghilang dari dalam ruangan,” ungkapnya.
Ia juga menyebut sejumlah temannya dikabarkan pingsan setelah menghirup asap. Peserta lainnya memilih meninggalkan GSG karena merasa tidak nyaman berada di dalam ruangan.
“Beberapa teman saya banyak yang pingsan, tidak sadarkan diri karena menghirup bom asap, dan beberapa lainnya merasa tidak nyaman untuk tetap berada di GSG,” ujarnya.
Mikah berpendapat bahwa panitia memang melakukan pemeriksaan di pintu masuk GSG. Namun, kondisi pintu masuk yang tidak kondusif membuat pemeriksaan dinilai tidak berjalan efektif. Ia menyebut sejumlah mahasiswa dapat masuk tanpa melalui pemeriksaan.
“Pemeriksaan dilakukan secara tidak efektif, dan banyak mahasiswa yang langsung masuk saja dan melewati pemeriksaan yang diadakan oleh panitia,” tambahnya.
Hal serupa juga disampaikan Aurelia( Humas’26). Ia mengaku melihat sekitar dua atau tiga orang membawa bom asap. Menurutnya, peserta yang berada di bagian bawah GSG tidak mengetahui sebelumnya bahwa benda tersebut akan digunakan.
“Kalau nggak salah ada dua atau tiga orang yang bawa. Sebelumnya, kami yang cewek-cewek di bawah nggak tahu bakal ada bom asap. Pas dinyalakan, kami kaget,” ujarnya.
Ia berharap panitia mengevaluasi sistem keamanan Parade Unila, terutama terkait kapasitas GSG, akses keluar-masuk peserta, dan kesiapan tim kesehatan. Menurutnya, evaluasi diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada kegiatan berikutnya.
“Menurut aku, GSG-nya jangan overload. Terus buat tim kesehatannya, pintu masuknya jangan cuma satu biar nggak dempet-dempetan. Tim kesehatannya juga harus lebih siap,” harapnya.






