Teknokra.co : Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra bersama Forum Komunikasi UKM (ForkoM) Universitas Lampung (Unila) mengadakan Nonton bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter bertajuk “Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita” di Gedung Gerha Lama Kemahasiswa Unila lt. 1 pada Senin, (18/5) pukul 18.30 WIB.
Acara yang berlangsung dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai unit kegiatan untuk menyaksikan dan mendiskusikan realitas yang terjadi di tanah Papua. Puisi dan Nyanyian membuka malam solidaritas sebelum film diputar, acara dibuka dengan penampilan pembacaan puisi, memberi warna emosional pada malam itu.
Film tiga tahun, Sajikan fakta 90 menit film dokumenter garapan jurnalis Dandhy Dwi Laksono ini merupakan hasil riset dan produksi selama tiga tahun. Dalam durasi 90 menit, film ini menyajikan potret perampasan ruang hidup masyarakat adat Papua melalui proyek-proyek investasi berskala besar yang bernaung di bawah kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Puluhan pasang mata menyaksikan tayangan tersebut dalam hening, sesekali diwarnai bisik-bisik keprihatinan dari kursi penonton. Diskusi Panel: Empat Perspektif, Satu Suara usai pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi publik yang dimoderatori oleh Aulia dan empat pemantik hadir membedah isu yang disajikan film dari berbagai sudut pandang yaitu M. Arif Ridho Tawakal (LBH Bandar Lampung), Irfan Tri Musri (WALHI Lampung), Dian Wahyu Kusuma (AJI Bandar Lampung), dan Soni Enembe (Ikmapal).
“Selama cara pandang itu tidak pernah berubah, maka kolonialisme itu akan terus dilakukan oleh negara,” ujarnya.
Pemantik dari WALHI Lampung menyoroti PSN sebagai kebijakan yang mampu menerabas peraturan perundang-undangan yang ada, tanpa pernah benar-benar melibatkan masyarakat adat dalam prosesnya.
Dian Wahyu Kusuma dari AJI Bandar Lampung mengapresiasi film ini sebagai karya jurnalistik yang mahal baik secara finansial maupun moral dan menegaskan peran jurnalisme sebagai ruang penyampai fakta sekaligus pembuka solusi.
“Jurnalis itu menjadi ruang untuk memberitahu masyarakat bahwa ada problem, dan sekarang kita yang menentukan solusinya,” ujarnya.
Sementara Soni Enembe dari Ikmapal mengingatkan bahwa bagi masyarakat Papua, hutan adalah mama kehilangan hutan berarti kehilangan identitas dan kebudayaan mereka.
Antusias Peserta pada Sesi tanya jawab berlangsung dengan sejumlah peserta aktif menyampaikan pendapat. Diskusi menyentuh berbagai isu mulai dari konsep state capture, pola kolonialisme yang berulang dari era Soeharto hingga kini, hingga paradoks pemerintah yang mengklaim melestarikan budaya lokal namun justru menghancurkan ruang hidup masyarakat adat.
Acara ditutup dengan refleksi bersama bahwa tanggung jawab untuk menyuarakan Papua ada pada setiap warga negara, termasuk mahasiswa. Kegiatan ini didukung oleh berbagai organisasi antara lain Watchdoc, Pusaka, Jubi.id, dan Greenpeace.






