Bedah Isu Papua, Teknokra dan ForkoM Unila Adakan Nobar dan Diskusi Kritis Film Dokumenter “Pesta Babi”

Foto : Teknokra/ Andre Sumanto Lumban Gaol
35 dibaca

Teknokra.co : Guna merawat nalar kritis dan membuka ruang dialektika mahasiswa terhadap realitas sosial di Indonesia, Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra bersama Forum Komunikasi (ForkoM) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Lampung (Unila) mengadakan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film Dokumenter berjudul “Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita”. Kegiatan ini berlangsung di Gerha Kemahasiswaan Lama Unila Lt. 1 pada Senin, (18/5).

Agenda ini menghadirkan para pemantik dari berbagai organisasi profesi dan sipil di Lampung. Di antaranya adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, serta Ikatan Mahasiswa Papua Lampung (Ikmapal). Kehadiran para pemantik diskusi ini memberikan perspektif yang luasbagi para peserta yang memadati ruangan.

Pemilihan film dokumenter sebagai media utama dinilai sangat tepat karena mampu memotret kompleksitas sosial dan budaya masyarakat Papua secara visual dan faktual. Langkah ini diambil sebagai refleksi atas banyaknya persoalan di Indonesia yang luput dari perhatian publik, khususnya dinamika yang terjadi di bumi cenderawasih.

Alfian Wardana selaku pemimpin umum UKPM Teknokra Unila menjelaskan bahwa inisiasi acara ini berakar dari kepekaan terhadap berbagai problematik bangsa. Pihaknya menilai ada urgensi besar untuk menyebarluaskan isu-isu krusial terkait Papua agar dipahami secara lebih luas oleh ekosistem akademis.

“Latar belakangnya karena kami di Teknokra melihat banyak sekali masalah yang ada di Indonesia, khususnya dalam konteks ini di Papua. Kami merasa isu ini penting untuk kami angkat dan kami sebarluaskan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa diskusi ini dibuat sebagai pemantik awal untuk mendobrak apatisme. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk meningkatkan kesadaran kolektif dari seluruh pihak, baik di kalangan mahasiswa Unila sendiri maupun masyarakat umum yang ada di Lampung.

Harapannya adalah menaruh asa yang besar terhadap dampak jangka panjang dari kegiatan pemutaran film ini. Setelah terlaksananya acara, ada perubahan cara pandang yang lebih inklusif dan mendalam dari para peserta yang hadir.

“Harapannya adalah setelah adanya acara ini dapat meningkatkan kesadaran, setidaknya bagi mereka yang hadir pada kegiatan nobar dan diskusi hari ini,” pungkasnya.

Melalui diskusi interaktif bersama Ikmapal, LBH, WALHI, dan AJI, mahasiswa yang hadir diharapkan menjadi lebih terbuka dalam melihat realitas sosial yang majemuk. Langkah kecil ini diharapkan mampu membangun fondasi berpikir yang kritis, adil, dan senantiasa berpihak pada kemanusiaan dalam merespons isu-isu yang berkembang di masyarakat Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 15 =