Opini: Akankah Bandar Lampung Menjadi Kota Banjir?

Ilustrasi : Teknokra/ Muhammad Ilham Bintang
142 dibaca

Teknokra.co : Peristiwa banjir tetap menjadi persoalan yang terus berulang di Kota Bandar Lampung. Hampir setiap tahun, hujan deras memicu genangan bahkan banjir besar di berbagai wilayah kota. Berdasarkan data dari sejumlah laporan media menunjukkan bahwa bencana ini terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Jika melihat perbandingan antara banjir pada tahun 2025 dan kejadian terbaru tahun 2026, terlihat bahwa persoalan banjir di Bandar Lampung belum sepenuhnya terselesaikan meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya penanganan.

Banjir besar pertama yang cukup menyita perhatian terjadi pada Jumat, (17/1/2025). Berdasarkan laporan media Detik yang mengutip data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, banjir saat itu melanda 16 kecamatan dari total 20 kecamatan di Bandar Lampung. BPBD mencatat sekitar 11.223 warga terdampak dan 14.160 rumah terendam banjir.

Banjir tersebut dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kota sejak siang hari hingga menyebabkan air meluap di berbagai wilayah. Beberapa kecamatan yang terdampak cukup parah antara lain Teluk Betung Selatan, Panjang, Rajabasa, Kedaton, dan Sukarame. Bahkan dalam kejadian tersebut juga dilaporkan adanya korban jiwa akibat terseret arus banjir.

Tidak lama setelah peristiwa tersebut, banjir kembali terjadi pada bulan Februari 2025 dan menyebabkan puluhan ribu warga terdampak di berbagai wilayah kota. Berdasarkan laporan media lokal Kupastuntas, sekitar 30.850 warga terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur Bandar Lampung selama dua hari berturut-turut pada Jumat-Sabtu, (21–22/2/ 2025).

Lebih lanjut, kejadian serupa kembali terjadi pada bulan April 2025 ketika banjir merendam wilayah Kecamatan Panjang dan beberapa kawasan pesisir Bandar Lampung. Peristiwa ini bahkan kembali menimbulkan korban jiwa serta kerusakan pada rumah warga dan infrastruktur kota.

Jika dijumlahkan dari beberapa kejadian banjir sepanjang tahun 2025 tersebut, diperkirakan sekitar 57.000 warga terdampak, 23.000 rumah terendam, serta 6 orang meninggal dunia akibat berbagai peristiwa banjir yang terjadi di Bandar Lampung.

Namun, memasuki tahun 2026 persoalan banjir tampaknya masih belum teratasi. Pada 6 Maret 2026, hujan deras kembali menyebabkan banjir di berbagai wilayah kota. Berdasarkan laporan Lampung Geh News, terdapat sekitar 38 titik banjir yang tersebar di 10 Kecamatan, yakni Sukarame, Rajabasa, Sukabumi, Tanjung Senang, Enggal,Tanjung Karang Barat, Tanjung Karang Pusat, Way Halim, Labuhan Ratu, dan Kedamaian.

Selain itu, laporan Antara News menyebutkan bahwa ketinggian air di beberapa lokasi mencapai 50 sentimeter hingga 1,5 meter, sehingga merendam rumah warga dan mengganggu aktivitas masyarakat. Banjir tersebut juga menyebabkan dua orang meninggal dunia akibat dampak bencana.

Jika dibandingkan dengan tahun 2025, kejadian banjir tahun 2026 menunjukkan bahwa masalah ini masih menjadi ancaman serius bagi warga Bandar Lampung. Walaupun jumlah korban terdampak pada 2026 belum sebesar akumulasi banjir sepanjang 2025, namun fakta bahwa banjir kembali terjadi di puluhan titik menunjukkan bahwa permasalahan sistem drainase, tata ruang kota, serta pengelolaan lingkungan belum sepenuhnya teratasi.

Di sisi lain, pemerintah kota menyatakan telah melakukan beberapa upaya untuk menanggulangi banjir. Setelah banjir besar pada 2025, pemerintah menyebut akan melakukan rehabilitasi sungai dan penanganan pendangkalan sungai sebagai salah satu upaya mengurangi potensi banjir di masa depan.

Selain itu, pemerintah juga merencanakan normalisasi sungai dan perbaikan drainase di berbagai titik rawan banjir. Program ini dilakukan untuk memperlancar aliran air ketika hujan deras sehingga genangan tidak meluas ke permukiman warga. Upaya tersebut juga didukung dengan rencana pengajuan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat banjir.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, banjir yang kembali terjadi pada 2026 menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan belum memberikan dampak signifikan. Masalah drainase yang buruk, penyempitan sungai, hingga pembangunan kota yang kurang memperhatikan kawasan resapan air diduga masih menjadi faktor utama penyebab banjir di Bandar Lampung.

Oleh karena itu, penanganan banjir di Bandar Lampung tidak cukup hanya dengan normalisasi sungai atau perbaikan drainase semata. Pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih komprehensif, mulai dari penataan tata ruang kota, perlindungan kawasan resapan air, hingga pengelolaan sampah yang lebih baik.

Jika tidak ada perubahan kebijakan yang lebih serius dan berkelanjutan, banjir kemungkinan besar akan terus menjadi bencana tahunan yang harus dihadapi masyarakat Bandar Lampung.

Opini ditulis oleh Andre Sumanto Lumban Gaol (mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Lampung angkatan 2024)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × three =