Teknokra.co: Aliansi Lampung Melawan (ALM) mengadakan konsolidasi yang mengevaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran di Balai Rektorat Universitas Lampung (Unila) pada Kamis, (22/10).
Salah satu peserta yakni Marco Fadhillah (Ilmu Hukum ’23) yang tergabung dalam Aliansi Lampung Melawan, secara gamblang mengkritik arah kebijakan pemerintah saat ini.
“Rezim Prabowo-Gibran benar-benar gagal. Dalam bahasa kami itu, gagal dalam memimpin negara ini karena kebijakan-kebijakan yang ada itu selalu atas dasar ambisius, semangat ambisius dari Prabowo itu sendiri sebetulnya,” tambahnya.
Marco juga menyoroti tindakan represif terhadap berbagai aksi massa di sejumlah daerah yang menurutnya telah berubah wujud.
“Kami melihat ini bukan lagi sebuah tindakan represif dari negara, tapi negara hari ini sudah berani untuk membuat konflik horizontal antar masyarakat,” ungkapnya.
Alasan senada mengenai urgensi perlawanan turut diutarakan oleh Kurniawan (Agribisnis ’22) ia mengatakan bahwa isu-isu yang sekarang sangat penting dan perlu untuk menyegerakan perlawanan.
“Karena isunya sangat penting, yang kedua kondisinya emang harus segera, sangat disegerakan untuk kita melakukan perlawanan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa rentetan krisis yang terjadi saat ini tidak bisa dilihat secara parsial karena saling beririsan.
“Ini bukan masalah hanya satu isu atau dua isu, tapi ini semuanya berkaitan, baik ke dalam ekonomi maupun ke politik, maupun ke sosial, maupun ke budaya,” paparnya.
Di sisi lain, Arya Pratama (Ilmu Komputer 22), merinci lebih jauh berbagai bentuk kegagalan penanganan pemerintah yang memicu keresahan, terutama bagi kalangan anak muda.
“Keresahan itu hadir akibat bentuk penanganan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat yang memang hari ini tidak membuahkan, bahkan tidak menghasilkan hasil yang sangat signifikan, justru malah menghadirkan bentuk bencana dan kesengsaraan bagi masyarakat,” jelasnya.
Sebagai perwakilan generasinya, Arya menyuarakan ketidakpastian yang mereka hadapi.
“Hari ini kita masih takut gitu sebagai Gen Z terkait masa depan yang kita akan lakukan entar ke depannya gimana, dengan lapangan pekerjaan yang menyempit, terus harga pokok naik, kestabilan ekonomi yang tidak terjamin oleh negara,” keluhnya.
Arya juga mengkritik keras berbagai isu mulai dari kerusakan ekologis, militerisme, hingga carut-marut dunia pendidikan.
“Banyak bentuk bencana ekologis yang terjadi, dan ternyata itu bukan karena bencana alam, tapi karena memang dibuat,” tuturnya.
Melalui konsolidasi massa ini, para mahasiswa menaruh ekspektasi besar agar gerakan tersebut membawa dampak nyata.
“Harapannya aksi ini bisa menjadi bentuk tekanan politik dari daerah untuk menuntut pemerintah segera serius menangani permasalahan-permasalahan yang hari ini ada,” pungkasnya.






