Merawat Suling Tradisional Lampung lewat Film “Serdam: The Death Whistle”

380 dibaca

“Di dalam film fiksi tetep ada riset supaya ceritanya tidak cacat logika. Ketika bikin film fiksi, poin penting di dalam kearifan lokal yang kita angkat itu kita olah menjadi karya yang imajinatif,” ujar Dede Safara Wijaya, sutradara film “Serdam: The Death Whistle” dalam pemutaran perdana pada Selasa (18/1) di Gedung Dewan Kesenian Lampung.

Film fiksi lokal yang mengisahkan tentang pembuatan suling tradisional Lampung bernama serdam ini menjadi istimewa karena dialog di dalamnya yang menggunakan bahasa Lampung. Selain itu film ini juga merupakan terobosan baru hasil kolaborasi sineas daerah.

Kisah cerita berawal ketika Pun Ibrahim, yang merupakan ayah dari seorang anak pengidap autisme menemui sang karakter utama yakni seorang maestro pembuat serdam bernama Hamdan, dengan tujuan memohon dengan penuh rasa iba agar Hamdan bersedia membuatkan anaknya sebuah Serdam untuk kelak digunakan sebagai alat musik untuk menyalurkan energinya.

Setelah mendengar permohonan Pun Ibrahim, Hamdan pun kemudian bersimpati dan mengatakan bahwa dirinya akan membuatkan Serdam untuk anak Pun Ibrahim. Namun raut wajah Hamdan menunjukan kesulitan karna jika ia hendak menciptakan sebuah serdam maka ia harus menancapkan serdam tersebut ke kuburan anak muda yang mati tak wajar.

Tak hanya itu, dilema yang dialami yang dialami oleh Hamdan pun harus berlanjut ketika ternyata anaknya tak ingin melanjutkan tradisi keluarga untuk membuat serdam, dan lebih memilih untuk mengejar cita-citanya sendiri dengan alat musik modern.

Iswadi Pratama, sang pemeran karakter utama mengaku agak kesulitan dalam mempertahankan suasana perasaan saat proses syuting, selain itu ia juga berupaya untuk memerankan karakter berbahasa Lampung dengan optimal.

“Kita bisa menghafal dialeg Lampung dengan cepat, tetapi bahasa kan bagian dari tubuh jadi harus natural. Kita dalam seni peran nggak cuman harus menghafal teks berbahasa Lampung tetapi kita harus ada rasa ‘berbahasa Lampung’ di tubuh kita,” tuturnya.

Sang produser, Iin Zakaria mengungkapkan bahwa awalnya ia hendak menjadikan Film tersebut sebagai film dokumenter, namun kemudian setelah berdiskusi dengan timnya akhirnya film tersebut digarap menjadi film fiksi.

“saya pribadi di awal dapet ide tentang serdam itu, saya pikir mau saya jadiin dokumenter. Kemudian datanglah project Movie Lab, (lalu) temen-temen mengajukan ide cerita (fiksi).” Ungkapnya.

Penulis : Farhan Al-Hafaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − seven =