Opini  

Opini: Satwa Mati, Siapa Peduli?

520 dibaca

Teknokra.co: Indonesia merupakan negara dengan luas hutan terbesar ketiga setelah Brazil dan Kongo dengan presentase total sebesar 14% (Sri Wilarso Budi, 2020). Denganluas hutannya tersebut, tentunya terdapat berbagai potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Tercatat terdapat sekitar 1.500 jenis alga, 80.000 jenis tumbuhan, 595 jenis lumut, 2.197 jenis paku-pakuan, 40.000 jenis flora tumbuhan berbiji, 8.157 jenis fauna vertebrata, dan 1.900 jenis kupu-kupuan. Namun, Indonesia jugamerupakan negara dengan tingkat deforestasi tinggi yang menyebabkan terjadinya penurunan luas hutan. Terjadinya deforestasi tersebut mengakibatkan hilangnya rumah bagi berbagai satwa, karena di dalam hutan berbagai satwa menggantungkan hidupnya. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab matinya satwa. Kematian satwa yang terus-menerus dapat mengakibatkan terancam punahnya jenis satwa.

Meskipun Indonesia memiliki banyak kebun binatang, hal tersebut tidak menjamin keberlangsungan hidup para satwa. Beberapa kasus tragis penderitaan hewan-hewan terjadi di kebun binatang. Desas-desus kematian misterius para satwa yang terjadi di kebun binatang di Indonesia bahkan menjadi perhatian media internasional.

Kepala Investigasi kelompok peduli satwa Yayasan Scorpion Marison Guciano mengatakan “Sekitar 90 persen kebun binatang tidak layak huni. Tidak terpaku pada siapa pengelolanya, swasta atau negeri sama saja. Hampir semua satwa
dalam kebun binatang penuh dalam penderitaan,”. Kepentingan dalam mendapatkan profit dibanding kesehatan para satwa diduga menjadi faktor utama dibalik kasus-kasus kematian satwa. Selain kematian satwa yang diakibatkan oleh ulah manusia, tentunya juga disebabkan oleh faktor internal lainnya.

Dari banyaknya berita kematian satwa, siapa yang peduli? Nyatanya, zaman Sekarang orang-orang acuh tak acuh terhadap berbagai pemberitaan terkait penderitaan dan kematian satwa yang ada di luar sana. Sangat disayangkan, banyak manusia yang tidak peduli dengan hewan. Banyak kasus kekerasan yang dilakukan oknum-oknum tidak bertanggung jawab terjadi. Sepertinya manusia lupa bahwa mereka hidup di bumi tidak sendirian. Bisa dikatakan bahwa manusia hanya mengedepankan sikap egois dan keserakahannya. Mereka hanya mementingkan pemanfaatannya tanpa memperdulikan fakta bahwa kekayaan hayati termasuk satwa yang ada bersifat terbatas. Bahkan beberapa oknum tidak bertanggung jawab menjadikan satwa sebagai ladang mencari keuntungan. Kesejahteraan satwa yang liar maupun peliharaan, harusnya menjadi perhatian bersama. Penyiksaan atau kekejaman manusia terhadap satwa masih menjadi angka statistik yang belum mendapatkan advokasi komperehensif.
Terutama jika dilihat dari segi penegakan hukum.

Sebenarnya, pemerintah telah berupaya melindungi satwa yang dibuktikan dengan dikeluarkannya perturan perundang-undangan. Namun, Ketua Jakarta Animal Aid Network [JAAN] Benfika menyatakan bahwa dirinya merasa belum puas dengan penegakan hukum saat ini. Menurutnya, hukum baru menyentuh pelaku lapangan. Pemodal maupun penadah bahkan pembeli tak tersentuh. Dari pernyataan Ketua JAAN tersebut, itu berarti pemerintah harus lebih memaksimalkan lagi upaya penegakkan hukum terkait dengan satwa, baik liar maupun peliharaan. Yang
seharusnya dikejar bukan hanya pelaku di lapangan saja.

Selain melalui penegakkan hukum, pemerintah juga telah menetapkan hari peringatan seperti Hari Cinta Puspa Satwa Nasional (HCPNS) yang diperingati pada tanggal 5 November. HCPNS bertujuan untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap flora dan fauna. Dengan adanya hari peringatan tersebut, kita dapat mengekspresikan kepedulian kita terhadap satwa dengan cara ikut memeriahkannya, sehingga memberikan dorongan kepada masyarakat lain agar lebih mencintai satwa dan keanekaragaman hayati lainnya.

Opini oleh : Lutfi Nur Latifah (Kehutanan’20)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + sixteen =