Tinggalkan TNBBS, Petani Teba Liokh Beternak Lebah

283 dibaca

teknokra.co: Sejak tahun 2010, pihak Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mengimbau agar warga yang tinggal di dalam TNBBS untuk segera meninggalkan kawasan tersebut.

Satu per satu warga mulai pergi mencari tempat tinggal di Pekon Teba Liokh, Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat. Hingga, pada tahun 2018 TNBBS benar-benar menjadi tempat tanpa penghuni.

Meninggalkan kawasan TNBBS,  tentu saja mereka harus merelakan pekerjaannya sebagai petani. Kemudian beralih mencari pekerjaan lain di Pekon Teba Liokh.

Kepala Seksi TN Wilayah III Krui, Maris Feriyadi menyampaikan pihak TNBBS telah memberikan bantuan dan binaan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Sumber Rejeki sebanyak 30 orang untuk beternak lebah. Jenis lebah madu yang diberikan ialah Apis cerana atau lebah madu timur dan Trigona Sp.

“Ini permintaan dari kelompok tani hutan binaan kita. Pertimbangan lainnya karena di Pekon Teba Liokh banyak potensi untuk pakan lebah sehingga harapan utk keberhasilan tinggi,” tuturnya.

Bantuan yang diberikan berupa peralatan untuk budidaya lebah madu, seperti glodok 30 buah, stove 30 buah, baju Alat Pelindung Diri (APD) utk memanen madu. Serta bingkai sarang 180 buah, mesin panen madu, dan mesin circle.

Bantuan ini adalah program  bantuan ekonomi produktif masyarakat penyangga TNBBS.  Saat ini, masih terus diberikan pelatihan agar program ini bisa berhasil.

“Jika sudah produksi maka akan menambah penghasilan masyarakat. Jika berhasil diharapkan akan mengurangi ketergantungan masyarakt terhadap hutan, khususnya hutan kawasan TNBBS,” ucapnya lagi.

Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan bantuan yang telah diberikan dan mengembangkan usaha budidaya lebah madu. Sehingga dapat berproduksi dan dapat menambah penghasilan masyarakat.

Seperti salah satu perambah yang kini beralih menjadi peternak lebah, Sarjono. Sebelumnya ia mengaku sudah 25 tahun hidup di dalam kawasan TNBBS.

BACA JUGA:

Harimau Sumatera Terancam Punah, TNBBS Adakan Pelatihan Advokasi

Lembah Suoh, Lumbung Padi Organik di Lampung Barat

Pada tahun 2016 ia memilih keluar dari kawasan TNBBS dan tinggal di Pekon Teba Liokh. Hal ini dilakukan karena mulai sadar akan dampak tinggal di kawasan tersebut.

“Saya tertekan melihat keluarga saya. Anak saya yang kecil sekolahnya saya gendong dari atas turun ke desa, anak bujang tiap keluar saya nggak bisa tidur. Saya mikir, kalo gini terus kasihan anak saya,” ucapnya.

Ia merasa terbantu dengan bantuan yang diberikan. Walaupun ternak lebah yang ia jalani belum menghasilkan. Selain diberi bantuan untuk beternak lebah, ia juga diberi kambing untuk kehidupannya sehari-hari.

“Kita sebagai kelompok tani di sini ketergantungan dengan upah. Alhamdulillah, kita dikasih pelatihan dari pihak TNBBS dan YABI (Yayasan Badak Indonesia). Jadi punya peternakan lebah.”

Mulanya, Sarjono berternak lebah Apis Cerana. Namun, karena kekurangan makanan, cuaca, dan tempat tinggal, lebah tersebut banyak yang kabur. Kini, ia memiliki puluhan kotak lebah trigona.

“Lebah cerana itu menyengat, jadi agak takut kalo mau diternak,” ujarnya.

Saat ini belum ada hasil dari ternak lebah yang dilakukannya. Namun, ia mencari madu di hutan TNBBS untuk dijual.

Berbeda dengan Sarjono, Ali Imron memilih untuk beternak madu Apis cerana. Awalnya ia hanya ikut warga yang tergabung dalam KTH Sumber Rejeki. Lalu, ia mencoba mencari lebah Apis cerana dan beternak di sekitar rumahnya.

Ia memberanikan diri beternak Lebah Apis cerana karena melihat peluang keuntungan yang lebih besar.

“Cerana mudah ditemukan, terus banyak orang yang takut jadi kita cepat dapatnya,” ujarnya.

Selama satu tahun ia beternak lebah, banyak jatuh bangun yang ia alami. Ia mengaku belum mengambil peruntungan dan fokus memperbanyak koloni Lebah Apis cerana.

“Saya bisa menambah wawasan untuk beternak madu. Saya dari nol, sering jatuh bangun, kabur-cari lagi, alhamdulillah ada yang menetap juga,” tuturnya.

Sekarang ia berencana membuat kotak super agar memperbanyak koloni lebah Apis cerana dan koloni lebah tidak mudah kabur. Sehingga, dapat menghasilkan madu yang bisa dipasarkan.

Suryadi, Kepala Urusan Keuangan Pekon Teba Liokh mengatakan sudah tidak ada perambah dari pekon Teba Liokh yang masuk Kawasan TNBBS. Menurutnya, sebelumnya hanya ada 30 kepala kelurga (KK) yang beternak lebah, sekarang sudah mencapai lebih dari 50 kepala keluarga yang mengikuti.

“Awalnya belum banyak masyarakat yang tertarik. Seiring banyaknya pelatihan-pelatihan yang diterima masyarakat, jadi banyak yang tertarik. Masyarakat menilai ternak madu sangat menjanjikan,” katanya.

Ia menuturkan mengambil lebah trigona dengan cara dicangkok dan diambil dari sarang-sarang di kayu mati yang ada di dalam hutan TNBBS.

Menurutnya, ternak madu cocok dikembangkan di Pekon Teba Liokh karena tidak merusak lingkungan. Selain itu, bisnis jual madu trigona menjanjikan.

BACA JUGA:

Kopi Agroforestri Solusi Deforestasi Desa Ujung Rembun

Kukang Laris di Pasar Daring

Wisata Alam di Taman Kupu-kupu

Ternak Lebah, Solusi Usaha Masyarakat Kawasan

Christine Wulandari, Ketua Program Studi Magister Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, mengatakan ternak lebah yang dilakukan di desa Teba Liokh, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, menjadi solusi masyarakat tidak kembali ke kawasan hutan.

“Semoga itu bisa menjadi jalan (agar tidak merambah), tetapi kita harus sabar dan benar-benar diikuti perkembangannya. Misalnya, madu ini jangan dikasih saja, lalu, tidak ada program lanjutan. Karena madu ini sebetulnya dihasilkan juga dari hutan lain,” harapnya.

Menurut Ketua Yayasan Kehutanan Masyarakat Indonesia ini pemberian bantuan ternak madu ini perlu program yang berlanjut. Produk madu ini harus memiliki ciri khas yang berbeda dengan produk madu lainnya. Selain itu, pengemasan dan kuliatas harus bagus.  Selanjutnya, pasar penjualan madu itu harus disediakan. Dengan begitu, program ternak madu ini tidak berhenti begitu saja.

“Kalau sudah memberikan bantuan seperti itu, jangan berhenti. Terus dikembangkan, sehingga masyarakat punya pendapatan yang berlanjut. Sehingga, bisa menggantikan hasil yang dia peroleh dari hutan,” tuturnya.

Ia menuturkan tidak bisa menyalahkan perambah merusak hutan. Sebab, ada kebutuhan manusia untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Masyarakat tidak bisa hanya diminta turun dari hutan kawasan. Melainkan, dibutukan pendekatan secara kekeluargaan. Sehingga, ada program yang mendukung hal tersebut yaitu kemitraan konservasi.

Dinas Kehutanan Rutin  Adakan Patroli

Dinas Kehutanan Provinsi Lampung mengadakan patroli rutin yang dilakukan oleh KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) guna mengurangi perambah di kawasan TNBBS. Hal ini disampaikan oleh Yanyan Ruchyansyah, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.

Menurutnya, perambah yang tertangkap melakukan aktivitas ilegal akan mendapatkan hukuman.

Selain patroli, ia menuturkan Dinas Kehutanan juga melakukan penguatan kelembagaan kelompok tani yang telah berizin. Dengan begitu, petani ikut melakukan pengawasan terhadap perambahan areal sekitar wilayahnya.

Kemudian, melalui program perhutanan sosial, Dinas Kehutanan melakukan pembinaan dan fasilitas unit-unit usaha. Hal ini agar masyarakat bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Sehingga, tidak menambah luas lahan garapannya.

Yanyan menghimbau kepada masyarakat sekitar kawasan hutan lindung untuk melestarikan bumi untuk generasi seterusnya. “Hutan milik bersama. Bukan hanya untuk kita generasi sekarang, tetapi hutan juga milik generasi yang seterusnya.  Menjaga hutan agar fungsinya lestari berarti mempersiapkan bumi yang tetap indah dan nyaman,” pungkasnya.

Penulis: Sri Ayu Indah Mawarni

BACA JUGA:

Kisah Sedih Batua, Harimau Korban Jerat

Menjaga Hutan Lampung Barat Lewat Kopi Agroforestri

Tingkatkan Kapasitas, RuKo-AJI Bandar Lampung Gelar Webinar Kopi-Hutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − eleven =