UKM Sempat Tak Terima Dana Akibat Pelantikan Ormawa Unila yang Tertunda

UKM di Unila usai pelantikan masa kepengurusan ormawa periode 2023. (17/3). Foto: Teknokra/Chika Ayu Sefira.
328 dibaca

Teknokra.co: Sejumlah Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) tingkat Universitas mengaku sempat tak menerima dana dari rektorat selama tiga bulan pertama tahun kepengurusan 2023 akibat keterlambatan pelantikan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) di Unila.

Tahun ini, pelantikan UKM baru digelar pada Jum’at, 17 maret di Aula K Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila. Pelantikan tersebut mengalami keterlambatan dua bulan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di mana pelantikan digelar pada bulan Januari.

Sejumlah kendala administrasi ditengarai menjadi penyebab terjadinya keterlambatan tersebut. salah satu faktor penyebabnya adalah melambatnya proses administrasi rektorat Unila selama masa transisi kepemimpinan usai Pemilihan Rektor (Pilrek) Unila. Anna Gustina Zainal selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan alumni Unila yang baru, juga baru mengisi posisi tersebut selama sebulan kebelakangan.

Salah satu UKM yang mengalami kesulitan pendanaan adalah UKM Pramuka, hal ini diungkapkan oleh Ketua UKM Pramuka, Fatih Cahya Baskara (Pendidikan Geografi’20)

Ia mengatakan jika sebelum kepengurusannya dilantik, saat melaksanakan ke.giatan besar dalam menuntaskan program kerjanya, dirinya sulit mendapat dana dari Rektorat dan sempat tertolak proposal kegiatannya oleh pihak rektorat dengan alasan belum dilantik.

“Memang pendanaan ini kita merasa kesulitan banget gitu karena kita diawal kepengurusan udah ada dua kegiatan besar yaitu HUT gudep sama ladiksar, nah disitu kita bener-bener nggak ada dana, kita mau ngajuin proposal tapi saat dinaikin itu kita ditolak sama pihak rektorat karena belum dilantik,” katanya.

Dirinya juga mengatakan dalam kondisi itu, pihaknya mencari dana alternatif selain Rektorat, yakni dana dari pembina dan dana iuran.

“Nah karena dua kegiatan itu kita bener-bener cari jalan yang lain gitu, kita bukan dari uang rektorat aja tapi kita dari uang pembina, iuran dan sebagainya,” ujarnya.

Hal serupa juga dituturkan oleh Ketua Umum UKM Radio Kampus Unila (Rakanila), Abethia Cahyarani (Pend’ Bahasa dan Sastra Indonesia’20) yang menuturkan jika sebelum dilantik, pihaknya mendapat dana dari uang saku, kas dan uang denda.

Nah, kalo dari Rakanila itu pasti ada kayak uang saku buat pengurus yang baru, jadi untuk progja-progja yang sudah kami laksanakan sebelum pelantikan ini, itu di back up sama uang saku itu dan uang kas, terus itu juga yang agak membantu itu uang denda,” tuturnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unila, Dr. Anna Gustina Zainal turut menanggapi permasalahan, ia mengatakan jika setiap UKM harus cerdas dalam mengatur keuangan setiap masing-masing UKM.

“Kita memang ada anggaran yang memang untuk masing-masing UKM, kalau dibilang cukup pasti pada bilang, ‘Bu Anna nggak cukup’ itulah diperlukan kecerdasan dari yang memanage masing-masing UKM,” katanya.

Dirinya juga sempat ditanya terkait wacana kenaikan dana UKM yang disebut-sebut akan dinaikain hingga 20 juta. Wacana tersebut sempat dijanjikan oleh Prof. Yulianto, Pejabat WR III tahun lalu.

“Nanti Bu Anna lihat dulu ya bagaimana komitmennya untuk sejarahnya seperti apa baru kita tindaklanjuti,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − eleven =