Peringati IWD, LMND Bandar Lampung Adakan Aksi Tuntut Indonesia Keluar dari BOP

Foto : Teknokra/ Najuwa Kartika Sani
107 dibaca

Teknokra.co: Dalam rangka memperingati International Women’s Day, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Bandar Lampung mengadakan aksi di Tugu Adipura, Kota Bandar Lampung, Minggu (8/3). Dalam aksi tersebut, LMND Kota Bandar Lampung tidak hanya memperingati International Women’s Day, tetapi juga menyuarakan kecaman terhadap praktik imperialisme dan berbagai bentuk penindasan terhadap bangsa.

Penindasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam situasi perang, tetapi juga melalui konstruksi sosial yang membatasi peran perempuan. Mereka menyebut perempuan kerap didoktrin hanya sebagai pekerja domestik dan ibu rumah tangga sehingga ruang gerak serta kemampuannya menjadi terbatas. Selain itu, massa juga menyoroti konflik internasional yang dinilai turut berdampak pada perempuan, termasuk serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel kepada Iran yang disebut telah menimbulkan banyak korban, termasuk perempuan.

Jose Romual, selaku koordinator aksi menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan hasil dari konsolidasi yang telah dilakukan sebelumnya oleh massa aksi pada Rabu (3/4). Dalam konsolidasi tersebut, mereka sepakat untuk mengadakan aksi dalam rangka memperingati International Women’s Day sekaligus menyoroti isu imperialisme yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, kedua isu tersebut menjadi fokus utama dalam aksi yang digelar sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap berbagai bentuk penindasan yang terjadi.

“Sesuai dengan hasil konsolidasi yang telah kami lakukan sebelumnya, aksi ini diadakan dalam rangka memperingati International Women’s Day sekaligus menyoroti isu imperialisme di Timur Tengah,” jelasnya.

Ia menilai terdapat persoalan yang berkaitan dengan kedaulatan bangsa dalam isu tersebut. Menurutnya, terdapat kontradiksi ketika seruan untuk menghentikan pengembangan nuklir disampaikan, namun di saat yang sama muncul kepentingan untuk menguasai sumber daya alam suatu negara. Ia juga menilai kondisi tersebut dapat mencederai kedaulatan bangsa, dan dalam pernyataannya juga menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto dinilai turut mengesahkan Board Of Peace (BOP).

“Kita dapat melihat persoalan di sini, terutama terkait kedaulatan bangsa. Di satu sisi diserukan penghentian pengembangan nuklir, tetapi di sisi lain terdapat kepentingan untuk menguasai sumber daya alamnya. Hal tersebut dinilai mencederai kedaulatan suatu bangsa, dan Prabowo disebut turut mengesahkan BOP,” kritisnya.

Ia juga menyampaikan bahwa hingga saat ini perempuan masih mengalami berbagai bentuk penindasan dalam sistem kapitalisme. Oleh karena itu, ia berharap negara dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap isu-isu yang berkaitan dengan perempuan. Selain itu, mereka juga menuntut Presiden Prabowo Subianto untuk keluar dari Board of Peace (BOP).

“Hari ini perempuan masih mengalami penindasan dan berada di bawah sistem kapitalisme. Kami berharap negara dapat memberikan perhatian yang serius terhadap isu-isu perempuan. Selain itu, kami juga menuntut Prabowo untuk keluar dari Board of Peace (BOP),” tegasnya.

Lebih lanjut, salah satu peserta aksi, Bob mengkritisi penindasan yang kerap dialami perempuan, di antaranya melalui konstruksi peran sebagai pekerja domestik dan ibu rumah tangga yang baik. Ia juga menegaskan bahwa penindasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam situasi perang.

“Penindasan terhadap perempuan bukan hanya terjadi dalam perang dan sebagainya. Perempuan sering didoktrin sebagai pekerja domestik dan ibu rumah tangga yang baik, sehingga kemampuannya dibatasi oleh doktrin-doktrin tersebut,” kritisnya.

Ia juga menyampaikan keprihatinannya terhadap serangan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran baru-baru ini yang menewaskan banyak korban, terutama perempuan. Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan yang disuarakan dalam aksi tersebut.

“Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran baru-baru ini telah menewaskan banyak perempuan dan melukai banyak orang, yang tentu sangat menyakitkan bagi kita, terutama bagi kaum perempuan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap sikap Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang dinilai lebih dekat dengan Amerika Serikat dan Israel.

“Perlu kita sadari, ini merupakan simbol kekecewaan terhadap sikap Prabowo yang dinilai lebih dekat dengan Amerika Serikat dan Israel. Itulah bentuk kekecewaan kami sebagai rakyat,” jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perlawanan terhadap imperialisme. Namun, mereka menilai sikap tersebut tidak tercermin pada Presiden Prabowo saat ini.

“Indonesia memiliki sejarah panjang dalam melawan imperialisme. Namun, sikap tersebut dinilai tidak terlihat pada Prabowo hari ini, sehingga hal itulah yang kami kecam,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − five =