Peringati Internasional Women’s Day, LSSP Cendekia Adakan Diskusi Umum

Foto : Teknokra/ Aulia R.A.
109 dibaca

Teknokra.co: Lingkar Studi Sosial Politik (LSSP) Cendekia Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)  Universitas Lampung (Unila) mengadakan diskusi umum bertema “International Women’s Day: Merefleksikan Perjuangan Perempuan di Dunia” dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia. Kegiatan tersebut berlangsung di Taman FISIP Unila, pada Jumat (13/3).

Khoirunnisa Simbolon, yakni dosen Hubungan Internasional FISIP Unila dan sekaligus pemateri diskuzi, memaknai International Women’s Day sebagai momen untuk mengingat kembali perjuangan perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya di ruang sosial.

International Women’s Day merupakan momen untuk memperingati sekaligus merefleksikan perjuangan para pendahulu dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di kehidupan sosial, seperti hak atas upah dan hak-hak lainnya,” ujarnya.

Dalam kacamata keilmuannya, ia menilai bahwa perjuangan perempuan pada masa lalu berfokus pada upaya memperoleh kesempatan berada di ruang sosial, seperti hak memilih dalam pemilihan umum, memperoleh upah yang setara, dan hak-hak dasar lainnya. Sementara itu, perjuangan perempuan saat ini telah bergeser pada upaya untuk berkiprah dan terlibat lebih luas di sektor-sektor publik.

“Kita masih memperjuangkan pengakuan terhadap hak-hak politik, hak untuk memperoleh upah yang setara, serta hak untuk mendapatkan persamaan di mata hukum. Namun, kini perjuangan tersebut juga bergeser pada bagaimana perempuan dapat berkiprah lebih luas dalam bidang sosial dan politik,” sampainya.

Ia juga mengatakan bahwa salah satu upaya untuk merealisasikan kesetaraan gender adalah mendorong lebih banyak perempuan menjadi pengambil kebijakan.

“Perempuan harus lebih banyak masuk ke ranah pengambilan kebijakan dan menjadi pengambil kebijakan. Dengan begitu, kebijakan-kebijakan yang sebelumnya belum ramah terhadap perempuan dapat diubah menjadi lebih ramah perempuan,” ungkapnya.

Terakhir, ia berharap bahwa perempuan semakin menyadari hak-haknya. Ia menekankan bahwa kesetaraan bukan berarti perempuan harus menjadi sama seperti laki-laki, melainkan agar perempuan diperlakukan secara layak dan terhormat.

“Harapannya, perempuan lebih menyadari hak-haknya. Kesetaraan bukan berarti menuntut untuk menjadi sama seperti laki-laki, melainkan agar perempuan diperlakukan secara layak dan terhormat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rahmat Perdana (Ilmu Pemerintahan ’25) selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah literasi, tetapi juga bertujuan menumbuhkan kesadaran terhadap isu perempuan.

“Kegiatan ini bukan hanya sekadar wadah literasi, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran terhadap isu perempuan,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa kesetaraan gender bukan semata-mata persoalan perempuan, melainkan tentang bagaimana kedua gender dapat saling memahami satu sama lain.

“Menurut saya, kesetaraan gender bukan hanya tentang kepentingan perempuan, tetapi tentang bagaimana kedua gender saling memahami satu sama lain,” jelasnya.

Rahmat berharap bahwa ke depannya jumlah partisipan yang hadir dapat lebih banyak dan waktu pelaksanaan kegiatan dapat diperpanjang.

“Harapannya, massa yang hadir akan lebih banyak dan waktunya dapat lebih panjang, mengingat pembahasannya cukup banyak,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 8 =