Teknokra.co : Association Internationale des Étudiants en Sciences Économiques et Commerciales (AIESEC) Universitas Lampung (Unila) melaksanakan kegiatan Final Project AIESEC Future Leaders (AFL) di gedung D Fakultas Hukum (FH) Unila pada Sabtu, (23/5). Kegiatan ini merupakan puncak rangkaian program AIESEC Future Leaders, yang menampilkan presentasi proyek sosial dari para peserta sebagai bentuk implementasi pembelajaran dan kontribusi mereka terhadap masyarakat.
Ketua pelaksana, yaitu Jesseyln Mettaditta Wijaya (Administrasi Bisnis’24), mengungkapkan bahwa AFL merupakan program pengembangan diri yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan leadership serta keterampilan sosial peserta.
“Di AFL ini kami disediakan wadah untuk bertumbuh, punya skill leadership, dan juga kemampuan bersosialisasi dengan orang baru,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum memasuki tahap final project, peserta terlebih dahulu mengikuti coaching session dalam kelompok kecil. Menurutnya, proses tersebut membantu peserta berdiskusi dan melatih kemampuan berpikir kritis terhadap persoalan sosial.
“Final project ini menjadi klimaks dari semua pembahasan selama coaching. Jadi seluruh ide yang sudah didiskusikan dituangkan dalam bentuk proyek,” jelasnya.
Jesseyln juga menuturkan bahwa proyek-proyek yang dipresentasikan masih berada pada tahap perencanaan. Menurutnya, kegiatan tersebut lebih berfokus pada pembentukan pola pikir kritis dibanding pelaksanaan proyek secara langsung.
“Tujuan utamanya bukan sekadar menjalankan proyek, tapi melatih peserta agar berpikir kritis terhadap masalah sosial dan mencari solusi yang mungkin dilakukan,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 18 kelompok mempresentasikan berbagai proyek bertema sosial dan lingkungan. Jesseyln mengungkapkan sebagian besar peserta mengangkat isu lingkungan karena persoalan tersebut dinilai dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Lingkungan itu salah satu faktor yang paling kita butuhkan, tapi juga salah satu yang paling sering tidak dipedulikan,” ungkapnya.
Salah satu peserta AFL, Noval Stevan Rosi (Akuntansi’25), mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena mendapatkan pengalaman baru. Menurutnya, AFL memberinya kesempatan bertemu mahasiswa dari berbagai universitas dan jurusan berbeda.
“Senang karena dapat pengalaman baru, relasi baru, dan belajar banyak dari presentasi kelompok lain maupun komentar para juri,” ungkapnya.
Noval menjelaskan bahwa kelompoknya mengangkat proyek bertema SDGs 13 atau Climate Action dengan judul “Regen: Regeneration from Generation”. Ia mengatakan proyek tersebut fokus pada edukasi pengelolaan sampah kepada anak-anak usia 7 hingga 13 tahun.
“Kami melihat sampah di Indonesia sudah sangat banyak dan kurang didaur ulang. Karena itu kami memilih fokus pada edukasi anak-anak,” jelasnya.
Ia menilai proyek yang mereka susun relevan dengan kondisi sosial saat ini. Menurutnya, edukasi sejak dini menjadi salah satu langkah untuk mengurangi persoalan sampah di masa mendatang.
“Kalau project aku mungkin bisa dilakuin, karena project aku itu nggak butuh biaya yang begitu besar,” ujarnya.
Ia juga menambahkan perihal tantangan terbesar selama penyusunan proyek adalah sulitnya menyamakan jadwal antaranggota kelompok. Noval mengatakan sebagian besar koordinasi akhirnya dilakukan secara daring.
“Kebanyakan koordinasi dilakukan secara online karena jadwal kuliah sering bertabrakan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menilai sistem penilaian dalam final project berjalan secara objektif. Menurutnya, komentar dari para juri membantu peserta mengetahui kelemahan proyek dan cara penyampaian presentasi mereka.
“Dari komentar judges tadi, jadi kita tahu kelemahan-kelemahan dari project kita itu gimana dan cara penyampaiannya seperti apa,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Noval mengajak mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti AFL di masa mendatang. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat bagi pengembangan diri mahasiswa.
“Menurut aku ikut AFL itu banyak benefit-nya. Kita bisa dapat relasi baru, belajar kerja sama, dan lebih peka terhadap kondisi sosial maupun lingkungan sekitar,” pungkasnya.






