Teknokra.co : Di tengah beragam perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), suara penerima manfaat justru menyampaikan pesan yang berbeda. Sebanyak 296 dari 300 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Bandar Lampung menyatakan setuju terhadap MBG.
MBG menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak mendapat perhatian masyarakat sejak mulai diterapkan pada awal 2025. Bukan tanpa alasan, program ini menyentuh kebutuhan mendasar jutaan anak Indonesia, yakni akses terhadap makanan bergizi yang dapat menunjang tumbuh kembang sekaligus meningkatkan kualitas belajar di sekolah.
Di tengah berbagai tantangan gizi yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari anemia pada remaja, kebiasaan melewatkan sarapan, hingga ketimpangan akses pangan bergizi, kehadiran MBG menjadi langkah yang dilakukan pemerintah dalam membangun sumber daya manusia sejak usia sekolah.
Program ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. Namun, layaknya sebuah kebijakan publik lainnya, keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya porsi makanan yang berhasil didistribusikan. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana makanan tersebut diterima oleh siswa sebagai penerima manfaat utama. Ketika siswa menikmati makanan yang diberikan, manfaat gizi yang diharapkan akan lebih mudah tercapai.
Penelitian ini kami lakukan di Kota Bandar Lampung dengan target siswa SMP sebanyak 300 orang. Secara umum, siswa memiliki persepsi yang baik terhadap program MBG. Mereka menilai bahwa program ini memberikan manfaat dan membantu mereka menghemat uang saku. Salah satu siswa yang menjadi responden penelitian mengatakan setuju karena menurutnya dengan ada MBG ia dapat menabung dan tidak perlu lagi jajan di sekolah.
“Anak-anak yang uang jajannya kurang sering merasa lapar, tetapi karena ada MBG jadi tidak (lapar) lagi”. Tulis salah satu siswa pada Google Form penelitian pada Senin, (26/1).
Tidak hanya dari sisi persepsi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa memiliki sikap yang positif terhadap menu MBG. Sebagian besar siswa percaya menu yang disajikan telah memenuhi ekspektasi mereka, terutama dalam aspek kebersihan dan keamanannya. Kepercayaan tersebut merupakan modal penting dalam membangun keberhasilan program. Makanan yang bersih dan aman akan meningkatkan keyakinan siswa untuk mengonsumsinya setiap hari tanpa rasa khawatir.
Dalam program pangan berskala nasional seperti MBG, aspek keamanan pangan menjadi salah satu fondasi yang tidak dapat ditawar. Dari sisi kepuasan, perhitungan menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) menunjukkan bahwa tingkat kepuasan siswa berada dalam kategori puas dengan nilai 74,67%. Artinya, pelayanan makanan yang diberikan telah mampu memenuhi sebagian besar harapan mereka.
Meskipun demikian, keberhasilan tersebut bukan berarti program telah mencapai kondisi yang sempurna. Justru hasil penelitian ini membuka ruang yang sangat positif bagi penyempurnaan program di masa mendatang. Beberapa siswa masih mengharapkan adanya variasi menu yang lebih beragam serta cita rasa yang semakin sesuai dengan preferensi mereka. 4 di antara 300 siswa yang tidak setuju terhadap MBG juga menyatakan bahwa menu MBG belum sepenuhnya sesuai dengan selera mereka sehingga rentan terbuang.
Di sinilah hubungan antara persepsi, kepuasan, dan tujuan program menjadi sangat penting. Persepsi yang positif akan membentuk sikap yang positif. Sikap tersebut mendorong siswa untuk mengonsumsi makanan yang disediakan hingga habis. Sebaliknya, apabila makanan kurang diminati, sisa makanan akan meningkat sehingga asupan zat gizi yang benar-benar masuk ke dalam tubuh menjadi lebih rendah.
Pada akhirnya, tujuan utama MBG untuk meningkatkan status gizi siswa menjadi tidak optimal. Dengan kata lain, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kualitas gizi makanan yang disiapkan, tetapi juga oleh kemauan siswa untuk mengonsumsinya. Suara tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai bentuk ketidakpuasan, melainkan sebagai masukan yang konstruktif. Program sebesar MBG tentu membutuhkan evaluasi secara berkelanjutan agar mampu berkembang mengikuti kebutuhan penerima manfaat.
Dengan mendengarkan pengalaman siswa secara langsung, pemerintah memiliki kesempatan untuk menyempurnakan kualitas layanan tanpa harus mengubah tujuan utama program. Salah satu peluang pengembangan yang cukup besar adalah pemanfaatan pangan lokal.
Penelitian menunjukkan bahwa menu MBG telah memenuhi prinsip gizi seimbang, namun penggunaan bahan pangan lokal masih belum optimal. Padahal Indonesia memiliki kekayaan pangan yang sangat beragam, mulai dari singkong, ubi, jagung, pisang, hingga berbagai jenis ikan lokal yang memiliki kandungan gizi tinggi.
Pemanfaatan pangan lokal bukan hanya memberikan variasi menu yang lebih menarik bagi siswa. Lebih dari itu, langkah tersebut juga mampu memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, manfaat MBG tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Ke depan, evaluasi program MBG dapat dilakukan secara lebih komprehensif dengan melibatkan suara siswa sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan. Persepsi dankepuasan siswa perlu dipandang sebagai indikator penting yang melengkapi evaluasi mengenai kecukupan gizi maupun efektivitas distribusi makanan. Sebab, makanan yang bergizi akan memberikan manfaat maksimal ketika benar-benar dikonsumsi dan dinikmati oleh penerimanya.
Pada akhirnya, hasil penelitian ini memberikan optimisme bahwa Program MBG berada di jalur yang tepat. Program ini telah diterima dengan baik oleh siswa. Modal sosial tersebut merupakan kekuatan besar untuk terus menyempurnakan pelaksanaan MBG di berbagai daerah. Namun begitu, tata kelola, sistem dan pelaksanaan program ini tetap harus dijaga dan terus dilakukan improvisasi perbaikan agar dapat berjalan optimal serta tepat sasaran.
Membangun generasi sehat memang tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan komitmen, evaluasi yang berkelanjutan, serta kemauan untuk terus mendengarkan kebutuhan masyarakat. MBG telah menunjukkan langkah awal yang baik. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa setiap piring yang tersaji tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman makan yang menyenangkan bagi siswa.
Ketika gizi, cita rasa, keamanan pangan, dan pemanfaatan pangan lokal berjalan beriringan dengan dedikasi dan tanggungjawab, MBG bukan hanya menjadi program bantuan pangan, melainkan investasi nyata dalam membangun masa depan Indonesia.
Artikel ilmiah ditulis oleh Nisya Ananda Shaliha, Yaktiworo Indriani, Teguh Endaryanto.






