Teknokra.co : Aksi May Day dilaksanakan dengan berbagai orasi tuntutan dari sejumlah elemen masyarakat, mulai dari Buruh, Petani, Mahasiswa, hingga Perempuan. Seluruh elemen tersebut bersatu dalam aksi yang dilaksanakan di gedung DPRD Provinsi Lampung, pada Jumat (1/5).
Dalam orasinya, Hadi Sutrisno sebagai perwakilan Forum Komunikasi Petani Bersama (FKPB) menyampaikan bahwa petani di Indonesia tidak sejahtera karena persoalan yang tersistem.
“Saya sampaikan kepada pemerintah hari ini. Bahwasanya nasib kawan-kawan petani jauh dari kata layak. Semua regulasi dan peraturan-peraturan kita tidak layak untuk. Petani telah dikebiri. Kesejahteraan petani telah dipangkas. Kesejahteraan petani telah dirampas. Tidak ada kesejahteraan untuk petani,” ujarnya.
Ia pun menambahkan bahwa May Day adalah bentuk pergerakan kolektif rakyat untuk membangunkan kekuatan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme.
“Kawan-kawan semua Saya ingatkan dalam momentum May Day hari ini May Day bukan harinya momentum pergerakan kiri, tapi, May Day adalah momentum pergerakan rakyat untuk membangun kekuatan kolektif. Untuk membangun kekuatan bersama melawan sistem kapitalisme dan imperialisme.” tambahnya.
Begitu pun Rifky Indrawan selalu koordinator wilayah Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dalam orasinya menyampaikan bahwa bahkan polisi yang pada saat itu mengawal aksi May Day pun merupakan seorang buruh.
“Kawan-kawan, di depan kita ada polisi. Mereka bukanlah musuh, karena mereka juga adalah seorang buruh,” ujarnya.
Ia pun menuntut undang-undang ketenagakerjaan yang berpihak kepada buruh dan melibatkan buruh dan serikat buruh.
“Maka kita menuntut undang-undang ketenagakerjaan yang pro buruh dan melibatkan buruh dan serikat buruh.” tambahnya.
Dalam orasinya pun, Rifky Kurniawan mengkritisi beberapa serikat buruh yang berhimpun dan memilih untuk berpesta dengan presiden saat May Day.
“Kawan-kawan, kita adalah serikat buruh plat merah, bukan kuning. Serikat buruh itu platnya merah, bukan kuning. Yang bisa ditransaksi, dan akhirnya berkumpul dalam May Day Fiesta. Kita bukan tidak mau ketua kita jadi menteri, komisaris, wakil menteri. Tapi, kita tidak bersedia menggadaikan leher teman-teman kita.” ucapnya.
Perwakilan Komnas Perempuan menyampaikan bahwa kabar baik berupa pengesahan undang-undang pekerja rumah tangga adalah perjuangan bertahun-tahun.
“Disahkannya undang-undang pekerja rumah tangga adalah buah panjang perjalanan 22 tahun teman-teman pekerja rumah tangga bersama dengan masyarakat sipil sampai hari ini,” ujarnya.
Ia pun mengatakan bahwa undang-undang pekerja rumah tangga adalah bukti bahwa persatuan kelas pekerja, buruh, petani, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat miskin kota adalah cara untuk mewujudkan perundang-undangan yang akan melindungi sipil.
“Kita dapat melihat dalam persatuan kelas pekerja, buruh, petani, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat miskin kota menjadi jawaban mutlak bahwa kita masih bisa mewujudkan berbagai undang-undang untuk melindungi kita semua hanya dengan persatuan,” tambahnya.
Tak hanya itu, Marco Fadhillah Ikhlas selaku perwakilan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) mengatakan bahwa sejarah mengatakan perubahan tidak pernah lahir dari permohonan tetapi dari perlawanan.
“Sejarah mengatakan, kawan-kawan, bahwa perubahan tidak pernah lahir dari permohonan akan tetapi perlawanan,” ujarnya.
Ia pun mengatakan bahwa mahasiswa bertugas untuk mengorganisir dan menyebarkan perlawanan terhadap penindasan sebagai bentuk tanggung jawab atas label intelektual yang diemban mahasiswa.
“Untuk apa label intelektual kalau penindasan masih didiamkan. Tugas kita sebagai kaum student adalah mengorganisir, meracuni kampus-kampus dengan racun-racun perlawanan,” pungkasnya






