Teknokra.co: Aliansi masyarakat sipil mengadakan aksi sambil piknik sebagai bentuk protes terhadap pemerintah akibat kurang nya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Bandar Lampung pada selasa, (9/6).
Mustaqim dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Staff Advokasi dan Kampanye, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup yang diperingati setiap tanggal 5 Juni.
Ia juga menyoroti kondisi lingkungan di kota yang dinilai masih belum sehat dan kurang ramah bagi masyarakat, ditandai dengan banjir yang terus berulang, tata kelola sampah yang belum optimal, serta keterbatasan ruang terbuka hijau bagi mahasiswa dan generasi muda.
“Hari ini adalah sebuah kegiatan memperingati Hari Lingkungan Hidup Sebenarnya pada 5 Juni. Kemudian melihat situasi di kota kita, sebagian dari lingkungannya sebagian tidak sehat dan tidak ramah kepada masyarakat,” Jelasnya.
Ia juga mengungkapkan salah satu alasan dilangsungkan aksi sambil piknik adalah sebagai bentuk protes terhadap minimnya ruang publik hijau yang aman dan inklusif dikota bandar lampung.
“Ini menjadi salah satu alasan kita mengambil tema aksi sambil piknik. menggambarkan sebuah protes atas tidak adanya ruang publik yang aman dan inklusif di Kota Padang,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pada kegiatan aksi tersebut menyoroti isu ruang terbuka hijau yang masih sangat kurang di kota tersebut.
“Hari ini kita penyoroti isu ruang terbuka hijau yang masih sangat kurang di Kota bandar lampung,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa aksi yang dilaksanakan pada hari itu mendapat antusiasme yang tinggi dari masyarakat karena menghadirkan berbagai kegiatan, seperti cek kesehatan gratis, posko bantuan hukum, lapak baca gratis, pentas seni, dan orasi. Menurutnya, para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias hingga selesai, dengan jumlah peserta yang hadir berkisar antara 50 hingga 70 orang.
“Aksi hari ini cukup antusias karena memang kita menghadirkan bermacam-macam kegiatan. Pertama adalah cek kesehatan gratis, kemudian ada posko bantuan hukum, ada lapak baca gratis, kemudian ada pentas seni dan orasi. Dan kawan-kawan sangat antusias mengikutinya sampai dengan akhir. Tadi 50-70 peserta,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa hingga saat itu belum ada respons dari pemerintah terhadap aksi yang dilakukan. Menurutnya, respons yang terlihat justru berupa penutupan gerbang kantor pemerintah kota. Ia juga menyebutkan bahwa tidak ada satu pun pejabat yang turun langsung menemui massa aksi, baik kepala dinas maupun wali kota. Para peserta aksi, lanjutnya, hanya berhadapan dengan personel keamanan dari Satpol PP dan kepolisian.
“Hari ini belum ada respon sama sekali dari pemerintah. Responnya adalah menutup gerbang. Ada kantor pemerintah kota dan tidak ada pejabat satupun yang turun baik kepala dinas ataupun wali kota langsung, tidak ada yang hadir secara langsung. Hanya dihadap-hadapkan dengan personil keamanan, KPP dan polisnya,” ungkapnya.
Musyaf salah satu magang di Walhi menyampaikan tujuannya bahwa dirinya mengikuti aksi tersebut untuk menuntut penambahan ruang terbuka hijau di Bandar Lampung.
Menurutnya, ketersediaan ruang terbuka hijau di kota tersebut masih sangat kurang dan belum memenuhi ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
“Tujuan saya ikutasi ini untuk menuntut ruang terbuka hijau di Bandar Lampung ini karena ruang terbuka hijau di Bandar Lampung ini bisa dibilang kurang dari kuota yang biasanya ada di kuota-kuota lain, tidak ada di undang-undang,” ungkapnya.
Ia juga menilai bahwa aksi yang berlangsung pada hari itu berjalan dengan baik dan tetap kondusif. Menurutnya, kegiatan yang mengusung tema “piknik” tersebut diisi dengan berbagai diskusi yang berlangsung lancar sehingga tujuan aksi dapat tersampaikan dengan baik.
“Aksi pada hari ini bisa dibilang keanarkis lah ya. Seperti dengan arti temanya piknik kan,” tuturnya.
Ia menyampaikan bahwa aksi tersebut dilaksanakan karena pemerintah kota dinilai belum mampu menyediakan ruang publik yang memadai, baik sebagai tempat berdiskusi, bermain, maupun ruang aman bagi masyarakat. Oleh karena itu, melalui kegiatan tersebut, para peserta berupaya menciptakan ruang yang nyaman untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasi.






