Teknokra.co: Rencana penghapusan program studi yang tidak relevan di dunia kerja menjadi sorotan di perguruan tinggi saat ini. Universitas Lampung (Unila) belum memberikan tanggapan resmi terkait penghapusan prodi yang kurang relevan. Penuturan Wakil Rektor 1 Unila, Prof. Suripto Dwi Yuwono bahwa sampai sekarang unila belum mendapatkan surat secara resmi dari pemerintah pusat saat ditemui di Gedung Rektorat Unila pada Selasa (26/5).
Wakil Rektor 1 Unila, Prof. Suripto menjelaskan bahwa untuk saat ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah pusat terkait penutupan prodi.
“Untuk saat ini saya belum bisa kasih tanggapan apapun, karna untuk saat ini unila belum dapat surat resmi dari pemerintah ya,” ujarnya.
M. Thoha B.S. Jaya, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila sekaligus pengamat pendidikan menjelaskan bahwa untuk menutup suatu Perguruan tinggi tidaklah mudah karna banyak hal yang harus di pertimbangkan.
“Menutup suatu program studi perguruan tinggi, tidak sesederhana yang kita duga. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Seperti mahasiswanya yang ada, kemudian dosennya mau dikemanakan,” ujarnya.
Beliau menambahkan jika selain menunggu lapangan kerja yang di sediakan pemerintah. Kemampuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan juga di perlukan melihat teknologi yang dapat dikembangkan.
“Selain menciptakan dan memperluas lapangan kerja, harusnya juga bisa membuat lapangan kerja sendiri dengan pertimbangan. Jadi tidak mengandalkan yang dikembangkan oleh pemerintah saja,” tambahnya.
Salah satu mahasiswa yaitu Miftakhul Azizah Rahmadhani (Sosiologi ’24) mengaku khawatir terhadap isu penutupan program studi karena dinilai berdampak pada masa depan lulusan dan reputasi prodi.
“Aku pribadi lumayan khawatir kalau sampai ada isu penutupan prodi, karena pasti berpengaruh ke masa depan lulusan dan nama baik prodi,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa evaluasi program studi dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas, bukan sebagai dasar untuk melakukan penutupan.
“Saya berharap evaluasi program studi dapat menjadi langkah untuk meningkatkan kualitas, bukan langsung berujung pada penutupan,” pungkasnya.






