Teknokra.co : Keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait persoalan agraria dinilai masih belum memadai. Hal tersebut disoroti dalam aksi Front Perjuangan Rakyat untuk Reforma Agraria (FPR-RA) di Tugu Adipura, Bandar Lampung, Kamis (24/9).
Jane Elizabeth, peserta aksi dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bandar Lampung, menyampaikan perempuan perlu dilibatkan dalam persoalan agraria karena menjadi salah satu kelompok yang terdampak konflik tanah. Menurutnya, keterlibatan perempuan juga menjadi bagian dari perjuangan bersama masyarakat yang menghadapi persoalan agraria.
“Tentunya perlu banget sangat dilibatkan karena persoalan-persoalan konflik agraria, persoalan-persoalan tanah. Perempuan juga termasuk salah satu korban yang paling terdampak oleh konflik-konflik tersebut,” ungkapnya.
Ia menilai perjuangan persoalan agraria tidak hanya menjadi kepentingan perempuan, tetapi membutuhkan solidaritas dari berbagai kelompok masyarakat. Menurutnya, mahasiswa, petani, nelayan, dan kelompok masyarakat lainnya perlu bersatu dalam menghadapi persoalan yang mereka alami.
“Ini adalah rasa solidaritas untuk kita bersama sebagai perempuan, sebagai mahasiswa, sebagai rakyat. Kita harus bersatu bersama, entah itu dengan petani, nelayan, semua kelompok, enggak ada yang dibedakan. Selagi kita masih rakyat yang tertindas, kita harus bersatu bersama,” ungkapnya.
Jane berpendapat perempuan juga masih menghadapi keterbatasan ruang untuk menyampaikan pendapat, khususnya perempuan di desa. Ia menilai pendidikan dan keterlibatan perempuan dalam politik belum sepenuhnya menjamin perempuan memiliki ruang untuk bersuara dalam persoalan agraria.
“Saya rasa belum sepenuhnya ya. Karena kalau misalkan kita lihat, walaupun hari ini perempuan sudah banyak yang berpendidikan, sudah banyak yang berpolitik, tapi masih juga ada perempuan-perempuan di desa-desa, perempuan-perempuan yang masih tertindas, yang nggak punya hak untuk bersuara, yang masih tertindas oleh sistem patriarki dan juga kapitalisme hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, Putri Marina, peserta aksi asal Kota Baru, menyampaikan keterlibatan perempuan dalam persoalan agraria penting karena tanah menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat. Menurutnya, kehilangan lahan dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup petani.
“Perlu, karena kalau kita nggak ada tanah, kita mau belanja juga susah. Karena salah satu mata pencarian kita ya itu dari lahan tersebut,” ungkapnya.
Putri juga menyampaikan dirinya belum merasakan ruang yang cukup untuk menyampaikan pendapat dalam persoalan agraria. Ia menilai suara perempuan masih belum mendapatkan perhatian yang semestinya.
“Belum, bahkan saya sendiri tidak pernah didengar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Putri menyoroti perlindungan hak atas tanah sebagai salah satu kebutuhan petani perempuan. Menurutnya, reforma agraria perlu menjamin ketersediaan tanah bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
“Yang dibutuhin? Tanah untuk kawan-kawan sekalian. Sudah bertahun-tahun lamanya kita berjuang,” tegasnya.
Putri berharap pemerintah tidak mengganggu lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan petani. Ia menilai keberadaan lahan menjadi bagian penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat Kota Baru.
“Harapannya sih semoga pemerintah ini tidak mengganggu lahan-lahan yang sudah petani miliki. Karena ya itu, Kak, tadi salah satunya itu lahan adalah mata pencarian petani. Karena kalau nggak ada lahan, mau bagaimana?” pungkasnya.






