Direlokasi dari GSG Unila, Pedagang Ragu Sewa Lapak di Foodcourt yang Sepi

Foodcourt Shuttle Bus Unila Universitas Lampung (Unila) pada Senin, (12/6). Foto : Teknokra/Sintia Enola Tambunan.
718 dibaca

Teknokra.co : Sejak bulan Maret 2023, Lapak jual pedagang di sekitar Gedung Serbaguna (GSG) Universitas Lampung (Unila) dibongkar oleh pihak Badan Pengelola Usaha (BPU) Unila. Pasalnya, BPU menilai kegiatan dagang di GSG telah mencemari kebersihan dan tata ruang di lingkungan sekitar.

Hal tersebut menimbulkan kekecewaan di kalangan pedagang, Nurdin (52) selaku koordinator pedagang GSG, merasa sedih karena dirinya beserta pedagang yang lain harus meninggalkan lapak penjualan di sekitar GSG Unila, yang selama ini memberikan penghasilan yang cukup besar.

“Penghasilan di sini (GSG Unila) jauh lebih besar, cuman kalau dipandang dari jauh ya emang nggak rapi dan agak kotor gitu, jadi berhubung ini disuruh dibongkar ya apa boleh buat lah, kami ya ikut,” ucapnya.

Sebagai gantinya, pihak BPU Unila memberikan lahan berjualan di Foodcourt Shuttle Bus Unila, namun hal itu ditolak oleh para pedagang karena dianggap kurang strategis. Pasalnya jika berjualan di Foodcourt Shuttle Bus Unila dengan harga sewa yang tinggi, para pedagang hanya mendapat penghasilan yang relatif kecil, sebab pembeli yang ada di Foodcourt lebih sepi.

Foodcourt itu kan pernah dibuka, tapi tidak berjalan dan akhirnya dikosongkan lagi dan sewanya jalan tapi pengunjungnya tidak ada. Habis itu kami disuruh ngisi lagi, tapi kami nggak ada yang berani,” katanya.

Menurutnya, kebanyakan pengunjung sekitar Foodcourt dekat shuttle bus hanya merupakan mahasiswa dari kalangan Mahasiswa baru (Maba) yang cenderung datang untuk parkir di hari kuliah.

“Hanya anak-anak (Mahasiswa) baru saja yang parkir, yang senior rata-rata tidak mau parkir di situ lagi rata-rata parkirnya di kampus atau di mana lah. Jadi Sabtu dan Minggu ataupun tanggal merah tidak ada yang parkir, ya kami otomatis kami nggak buka dong padahal sewanya jalan,” ungkapnya.

Menurutnya, pihak BPU Unila masih memberikan kesempatan berjualan di sekitar GSG Unila hanya pada hari Sabtu dan Minggu, namun hari tersebut merupakan hari libur bagi mahasiswa Unila.

Ia berharap, nantinya pihak BPU Unila dapat memberikan tempat permanen yang strategis untuk berjualan, walaupun harga sewa dilebihkan baginya tak masalah.

“Kami meminta untuk tempat permanen ya walaupun sewanya sedikit lebih mahal dari yang kemaren, ya nggak papa yang kami penting kami bisa cari makan,” harapnya.

Direktur BPU Unila, Ardian Cahyadi turut menanggapi, ia menuturkan jika alasan pihaknya membongkar lapak penjualan pedagang sekitar GSG Unila, karena lingkungan yang terlihat kumuh, dan GSG Unila akan dikembalikan semula menjadi lahan parkir.

“Ya kita akan mengembalikan seperti semula dengan lahan parkir. Bahwa sejatinya wajah Universitas wajah yang seharusnya bersih, kan itu lingkungan akademik jadi ketika terlihat kumuh terlihat kotor itu kan tidak merepresentasikan lingkungan kampus,” tuturnya.

Lebih lanjut lagi, Ardian mengatakan jika Sabtu dan Minggu terdapat kegiatan Sunmori di GSG, dan saat kegiatan itu berlangsung, BPU menyediakan tempat untuk para pedagang berjualan di jalanan sekitar GSG.

“Karena di situ ramai pengunjung dan itu weekend banyak yang berolahraga dan berekreasi di kandang rusa itu. Jadi kami kasih kesempatan untuk yang memiliki jiwa  wirausaha untuk membuka lapak tenant untuk berjualan di sana,” pungkasnya.

Penulis: Sintia Enola TambunanEditor: Sepbrina Larasati dan Arif Sanjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − fourteen =