Masalah Kapasitas Ruangan, Sejumlah UKM Enggan Tinggalkan Graha Mahasiswa Lama

Bangunan Graha Mahasiswa Unilalama. foto: Teknokra/Rara Maharani Bintang Lampung.
950 dibaca

Teknokra.co: Meskipun pembangunan gedung baru Graha Kemahasiswaan yang baru akan segera selesai, sejumlah pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat Universitas di Unila cenderung enggan meninggalkan ruang kesekretariatan mereka di Gedung Graha Mahasiswa yang lama. Kapasitas ruangan kesekretariatan UKM di gedung baru yang lebih sempit disebut menjadi faktor utama sejumlah UKM menolak pindah.

Abethia Cahyarani (Pend Batrasia’20) selaku Direktur UKM Radio Kampus Unila (Rakanila), merupakan salah satu pengurus UKM yang mempersoalkan kapasitas Graha Mahasiswa yang baru. Hal ini dikarenakan Rakanila membutuhkan ruangan yang luas untuk melakukan siaran.

“Mengingat alat sarana prasana Rakanila banyak yang besar, dan kami ada siaran. Untuk ruang siaran serta alat pemancarnya gimana?,” katanya.

Tak cuma Abethia, ketua UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Dona Okta Risna (Teknik Kimia’20) juga mempertimbangkan masalah yang sama, ia menilai barang-barang yang dimiliki PSM tak cukup bila dipindahkan ke Graha Mahasiswa yang baru.

“Kami sudah melihat Graha baru tapi ukurannya sepertinya agak susah kalau untuk memuat barang kami, dan juga jauh banget dari jalan seperti terisolasi aja, takutnya dapet pandangan buruk dari orang luar,” keluhnya.

Dona juga menyinggung soal jarak bangunan Graha Mahasiswa yang dinilai dekat dengan pemukiman warga, bising suara latihan anggota PSM dikhawatirkan akan menggangu ketenteraman lingkungan.

“Kami engga setuju sih kalau harus pindah karena disana dekat banget sama rumah warga apalagi kita sering latihan disana. Kedengeran banget, takutnya mengganggu kenyamanan warga,” lanjutnya.

Keluhan yang tak jauh berbeda juga disuarakan oleh Fatih Cahya Baskara (Pend Geografi 20′), selaku Ketua UKM Pramuka. Ia ingin agar UKM yang ia pimpin tetap berlokasi di tempat yang dekat dengan gedung rektorat Unila.

“UKM Pramuka ini sangat sentral dan krusial di Unila, jika dipindah pastinya menyulitkan jika jauh dari Rektorat,” katanya.

Fatih juga menjelaskan bahwa UKM tempatnya bernaung memiliki banyak lemari dan barang-barang lain yang berukuran besar. Barang-barang tersebut tak bisa dengan mudah di relokasi ke tempat baru.

Ahmad Musyaffa (Teknik Geodesi’19) selaku koordinator Forum Komunikasi UKM Universitas (Forkom UKM-U), menyatakan akan berupaya melakukan konsolidasi terhadap sejumlah UKM yang masih enggan untuk pindah ke Graha yang baru.

“Tentunya kita harus satu suara terhadap hal ini, kalo emang mau pindah jadi pindah bersyarat gitu,” katanya.

Kejelasan perihal sejumlah UKM yang enggan pindah, diluruskan oleh Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan alumni Unila, Anna Gustina Zainal. Dalam audiensi bersama pengurus UKM pada Rabu (17/5). Ia menegaskan bahwa UKM memiliki hak untuk tetap berada di Graha Mahasiswa yang digunakan saat ini.

“Kalau emang ngga mau pindah, kalian bisa tulis pernyataan bahwa kalian nggak mau pindah dari Graha tersebut. Biar kami ada laporan untuk ke pusat bahwa UKM ini tidak mau pindah,” Terangnya.

Tak Cuma itu, ia juga menjanjikan akan adanya perbaikan terhadap Graha Kemahasiswaan yang lama, namun belum jelas kapan dan bagaimana bentuk perbaikan tersebut. Gedung Graha Kemahasiswaan yang saat ini ditempati oleh sejumlah UKM di Unila merupakan bangunan yang telah berdiri selama puluhan tahun, kondisi bangunannya pun telah menua dan terdapat sejumlah fasilitas yang kerap kali mengalami kerusakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 7 =