Usai Gelar Konser Eksklusif, PSM Unila Siap Bersaing di Ajang Internasional

Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Lampung (Unila) saat konser eksklusif atau pra kompetisi di Ruang Pelantikan Lt.4 Gedung Rektorat Unila, pada Selasa (18/7). Foto : Teknokra/ Sepbrina Larasati.
233 dibaca

Teknokra.co : Alunan musik dan keelokan suara pada siang hari itu, telah membuat merinding penonton yang hadir. Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Lampung (Unila) telah usai menggelar konser eksklusif atau pra kompetisi di Ruang Pelantikan Lt.4 Gedung Rektorat Unila, pada Selasa (18/7). Hal itu merupakan bentuk kesiapan PSM Unila yang akan bersaing pada ajang 12th Bali International Choir Festival 2023 pada 25-29 Juli mendatang.

Dalam kompetisi bergengsi sejak 2012 lalu ini, PSM Unila akan bersaing dengan berbagai negara diantaranya, Indonesia, Sri Lanka, Canada, Cina, Prancis, Jerman, Italy, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, Thailand, dan Amerika.

Ketua Pelaksana, Nashrananda (Teknologi Hasil Pertanian’21) mengungkapkan, jika kompetisi tahunan ini merupakan lanjutan dari kompetisi sebelumnya yang sempat terkendala oleh virus covid tahun lalu.

“Ada yang di Bali ini sama dengan yang di Bandung, tapi yang waktunya paling mendekati yang di Bali ini, jadi kita pilih yang di Bali dulu,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, jika kompetisi yang diselenggarakan 5 hari mendatang di Bali ini, pihaknya akan berkompetisi pada hari kedua di tanggal 26 Juli.

“Keberangkatannya tanggal 22 Juli, kita sewa travel Bus buat keberangkatan ke Bali,”  ucapnya.

Ketua Umum PSM Unila, Dona Okta Risna (Teknik Kimia’20) mengutarakan tantangannya selama proses latihan yang menghabiskan waktu kurang lebih 5 bulan ini adalah menyatukan suara dari berbagai karakter.

“Yang sulit itu menyesuaikan antara penyanyi yang satu dengan yang lainnya, walaupun suara orang beda-beda kita harus blending suaranya, jadi kita harus pendekatan dulu sama teman-teman penyanyi, biar suaranya makin menyatu,” katanya.

Pemilihan lagu yang dapat menyatukan 4 karakter suara dipilih PSM, yang akan dibawakan dalam kompetisinya, yakni folklore choir song dari 4 judul lagu, diantaranya Pung-pung, Ahtoi Porosh, O Nata Lux, dan Zikr.

Persiapan bersaing di ajang internasional ini, tak luput dari kesulitan yang dialami PSM. Meskipun tidak mengandalkan biaya dari Unila, mereka berhasil untuk bisa berkompetisi internasional.

“Dukungan dana dari Rektorat sampai saat ini masih belum jelas, masih belum dapat tapi kemungkinan besok atau di kemudian hari nanti bakal kita usahain buat dana, kendalanya dari dana yang kita alami itu kan sebenarnya kemarin karena Covid makanya kita nggak ikut lagi, makanya dari situ kita susah buat dapat anggaran,” keluhnya.

Walaupun tidak dibiayai oleh Unila, hal tersebut tak mengundurkan niat PSM dalam berkarya. Biaya yang digunakan untuk mengikuti kompetisinya ini merupakan biaya hasil jerih payah mereka bersama, salah satunya ialah hasil dari galangan dana secara umum.

“Kalo dari Universitas belum ada, tapi kita pakai uang pribadi dari beberapa pejabat di Rektorat, kita juga ada selenggarakan donasi, biasanya uang dari kita job nyanyi di acara wisuda atau panggilan-panggilan yang lain,” tutur Dona.

Keterbatasan yang mereka alami ini juga sempat menghambat biaya pendaftaran kompetisi serta mempengaruhi kreatifitas mereka dalam pembuatan kostum.

“Keterbatasan dana ini mungkin buat kita pembayaran kita buat lombanya yang telat, terus menghambat kreatifitas kita buat bikin kostum juga,” keluhnya.

Dona berharap, dalam kompetisi ini PSM Unila bisa meraih juara yang akan mengaharumkan nama Unila di Internasional.

“Yang pasti kita harus pulang membawa mendali, biar makin semangat untuk kita kompetisi-kompetisi selanjutnya,” pungkasnya.

Penulis: Sepbrina Larasati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + 20 =